Dakwahpos.com, Bandung-Khatib di Masjid Nurul Ikhsan, Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, menyampaikan pesan dakwah mengenai pentingnya beribadah secara istiqomah dan tanpa henti kepada puluhan jamaah dalam pelaksanaan salat Jumat pada Jumat (11/09/2026). Ibadah salat Jumat yang berlangsung khusyuk tersebut menggarisbawahi bahwa kewajiban beribadah seorang muslim berlaku sepanjang waktu (kullal waqti), baik dalam kondisi senang maupun susah, hingga maut (al-mawt) datang menjemput. Penekanan ini disampaikan dengan merujuk pada tafsir Surat Al-Hijr ayat 99 guna membentengi umat dari pemahaman keliru yang menganggap kewajiban salat dapat gugur apabila seseorang telah mencapai tingkat keyakinan atau makrifat tertentu. Khatib menyampaikan materi tersebut secara sistematis dengan menjelaskan bahwa dalam kondisi sakit sekalipun, tata cara ibadah salat telah diatur agar tetap dilaksanakan sesuai batas kemampuan fisik seorang hamba.
Dalam uraian khotbahnya, khatib menjelaskan bahwa mayoritas ulama tafsir ternama seperti Salim, Mujahid, dan Al-Hasan Al-Basri sepakat menafsirkan kata al-yaqin pada firman Allah "Wa'bud rabbaka hatta ya'tiyakal-yaqin" sebagai kematian. Berdasarkan penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, ayat tersebut menuntut setiap muslim untuk mengisi seluruh perjalanan hidupnya dengan ketaatan yang konsisten, baik melalui ibadah wajib maupun ibadah sunah. Khatib juga menegaskan bahwa menganggap kewajiban salat bisa gugur saat seseorang merasa sudah yakin atau mencapai tingkatan makrifat merupakan bentuk pemahaman yang sesat dan tidak pernah diajarkan oleh para ulama. Oleh karena itu, umat Islam diimbau untuk terus menjaga salat lima waktu serta memanfaatkan sisa usianya untuk beribadah tanpa menunggu usia tua atau kondisi sekarat.
Guna memperkuat pesan dakwahnya, khatib secara langsung membacakan hadis riwayat Imran bin Husain radhiyallahu 'anhuma mengenai keringanan tata cara salat bagi orang yang sedang sakit, "Kerjakanlah salat sambil berdiri. Jika tidak mampu, maka kerjakanlah sambil duduk. Kalau tidak mampu lagi, maka kerjakanlah salat sambil berbaring." Khatib juga mengutip langsung sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dari Aisyah radhiyallahu 'anha tentang amalan yang paling dicintai Allah, "Sesungguhnya ibadah yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah ibadah yang rutin dilakukan walaupun jumlahnya itu sedikit." Selain menyampaikan kutipan langsung tersebut, khatib secara tidak langsung menerangkan bahwa syariat Islam tidak pernah menghapus kewajiban salat bagi orang yang sakit selama akal dan nyawanya masih ada. Beliau mengingatkan jamaah bahwa jika berdiri tidak memungkinkan, shalat dapat dilakukan dengan duduk, berbaring, atau bahkan isyarat.
Rangkaian ibadah salat Jumat di Masjid Nurul Ikhsan Cipadung tersebut diakhiri dengan panjatan doa bersama yang dipimpin oleh khatib untuk keselamatan, keteguhan iman, serta keistiqomahan umat Islam agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Meskipun berada di pemukiman padat di dalam gang, antusiasme jamaah yang memadati ruang utama hingga selasar masjid menunjukkan bahwa Masjid Nurul Ikhsan terus menjadi pusat pembinaan spiritual dan syiar Islam yang hidup bagi warga Cipadung, Cibiru
Dalam uraian khotbahnya, khatib menjelaskan bahwa mayoritas ulama tafsir ternama seperti Salim, Mujahid, dan Al-Hasan Al-Basri sepakat menafsirkan kata al-yaqin pada firman Allah "Wa'bud rabbaka hatta ya'tiyakal-yaqin" sebagai kematian. Berdasarkan penjelasan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di, ayat tersebut menuntut setiap muslim untuk mengisi seluruh perjalanan hidupnya dengan ketaatan yang konsisten, baik melalui ibadah wajib maupun ibadah sunah. Khatib juga menegaskan bahwa menganggap kewajiban salat bisa gugur saat seseorang merasa sudah yakin atau mencapai tingkatan makrifat merupakan bentuk pemahaman yang sesat dan tidak pernah diajarkan oleh para ulama. Oleh karena itu, umat Islam diimbau untuk terus menjaga salat lima waktu serta memanfaatkan sisa usianya untuk beribadah tanpa menunggu usia tua atau kondisi sekarat.
Guna memperkuat pesan dakwahnya, khatib secara langsung membacakan hadis riwayat Imran bin Husain radhiyallahu 'anhuma mengenai keringanan tata cara salat bagi orang yang sedang sakit, "Kerjakanlah salat sambil berdiri. Jika tidak mampu, maka kerjakanlah sambil duduk. Kalau tidak mampu lagi, maka kerjakanlah salat sambil berbaring." Khatib juga mengutip langsung sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dari Aisyah radhiyallahu 'anha tentang amalan yang paling dicintai Allah, "Sesungguhnya ibadah yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah ibadah yang rutin dilakukan walaupun jumlahnya itu sedikit." Selain menyampaikan kutipan langsung tersebut, khatib secara tidak langsung menerangkan bahwa syariat Islam tidak pernah menghapus kewajiban salat bagi orang yang sakit selama akal dan nyawanya masih ada. Beliau mengingatkan jamaah bahwa jika berdiri tidak memungkinkan, shalat dapat dilakukan dengan duduk, berbaring, atau bahkan isyarat.
Rangkaian ibadah salat Jumat di Masjid Nurul Ikhsan Cipadung tersebut diakhiri dengan panjatan doa bersama yang dipimpin oleh khatib untuk keselamatan, keteguhan iman, serta keistiqomahan umat Islam agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Meskipun berada di pemukiman padat di dalam gang, antusiasme jamaah yang memadati ruang utama hingga selasar masjid menunjukkan bahwa Masjid Nurul Ikhsan terus menjadi pusat pembinaan spiritual dan syiar Islam yang hidup bagi warga Cipadung, Cibiru
Tidak ada komentar
Posting Komentar