Ustaz H. Jali Ajak Jemaah Jauhi Lima Sifat Penghalang Kesalehan

Klik untuk membaca artikel.

 

Dakwahpos.com, Cimahi - Ustaz H. Jali mengingatkan jemaah tentang lima perkara yang dapat menghalangi seseorang menjadi hamba yang saleh, mengacu pada pandangan Imam Ali karramallahu wajhah. Kajian ini disampaikan usai salat Zuhur berjamaah di Masjid Nurul Iman Dustira Cimahi, Rabu (23/09/2026).

Mengawali kajian, Ustaz H. Jali mengisahkan perjuangan Nabi Ibrahim a.s. membela tauhid hingga dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud. Ia menceritakan bagaimana Allah Swt. berfirman agar api tidak membakar Nabi Ibrahim a.s. "Ya naaru kuuni bardan wa salaman 'ala Ibrahim," ucapnya, yang ia artikan sebagai perintah Allah Swt. kepada api agar menjadi dingin bagi Nabi Ibrahim a.s. Menurutnya, ikatan tali yang terlepas dalam kobaran api, sedangkan Nabi Ibrahim a.s. justru merasakan kesejukan di dalamnya.

Ustaz H. Jali juga mengisahkan peran hewan dalam peristiwa tersebut. Ia menyebutkan bahwa katak dan burung pipit berusaha memadamkan api demi menolong Nabi Ibrahim a.s., sedangkan cicak disebut meniup api agar semakin membara sebagai bentuk keberpihakan kepada Raja Namrud. Karena riwayat itu, ia menjelaskan bahwa membunuh cicak dihukumi sunah, sementara membunuh katak dan burung pipit diharamkan.

Dari kisah tersebut, Ustaz H. Jali mengajak jemaah meneladani sifat-sifat Nabi Ibrahim a.s., termasuk keinginan beliau untuk terus berilmu dan berharap dikumpulkan bersama orang-orang saleh meski telah dijamin sebagai Khalilullah. Ia menyampaikan lima perkara yang menghalangi manusia dari kesalehan menurut Imam Ali karramallahu wajhah.

Perkara pertama adalah merasa cukup dengan kebodohan. Ustaz H. Jali mengutip pandangan Imam Ghazali bahwa kebodohan adalah musibah, meski orang yang bodoh sering tidak menyadarinya hingga menyesal di akhirat kelak.

Perkara kedua adalah tamak terhadap dunia, yaitu sibuk mengumpulkan harta tanpa mempedulikan halal-haram hingga meninggalkan salat lima waktu. Dan ketiga adalah kikir meski memiliki kelebihan harta, sehingga enggan bersedekah dan berinfak. Lalu yang keempat adalah riya dalam beramal, yakni beribadah demi pujian orang lain. Adapun perkara kelima adalah ujub, yaitu merasa pendapatnya sendiri paling benar.

Ustaz H. Jali menegaskan bahwa seseorang tidak dapat disebut saleh atau salehah selama lima sifat tersebut masih melekat pada dirinya. Ia berpesan agar jemaah terus berupaya menjauhi sifat-sifat itu dalam keseharian.

Menutup kajian, Ustaz H. Jali berharap penyampaiannya yang singkat tetap memberi manfaat bagi jemaah. "Walaupun singkat, mudah-mudahan ada manfaatnya," pungkasnya.

Reporter: Afifah Amro Amatulloh/KPI 3C

 


Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos