Pengajian Rutin Bulanan di Masjid Al-Manshurin Bahas Pentingnya Menjaga Aurat dan Keutamaan Dzikir

Klik untuk membaca artikel.

 

Dakwahpos.com, Bandung - Pengajian rutin bulanan ibu-ibu Pimpinan Cabang (PC) setempat dilaksanakan di Masjid Al-Manshurin, Jl. Sindangsari, Cipadung Kulon, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung, Jawa Barat, pada 12 September 2026 pukul 16.00–17.30 WIB. Kegiatan yang dilaksanakan setiap pekan kedua tersebut menjadi wadah bagi para ibu untuk memperdalam pengetahuan keagamaan sekaligus mempererat silaturahmi antaranggota.

 

Dalam kajian tersebut, Ustazah Hifdi mengajak jamaah untuk membiasakan diri membaca Al-Qur’an sebagai salah satu amalan yang dapat menjadi bekal di akhirat. Menurutnya, membaca Al-Qur’an sebaiknya tidak hanya dilakukan karena kewajiban, tetapi juga ditanamkan sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Kedekatan dengan Al-Qur’an diharapkan dapat tumbuh hingga seseorang merasa ada yang kurang ketika meninggalkannya.

 

Ustazah Hifdi mengatakan, “Ketika tidak membaca Al-Qur’an, rasanya seperti ada yang kurang.” Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

 

Selain membahas pentingnya membaca Al-Qur’an, Ustazah Hifdi menjelaskan kewajiban menjaga pakaian dan aurat sebagaimana pesan dalam Surah Al-A’raf ayat 26. Ia menerangkan bahwa pakaian dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga berfungsi untuk menjaga kehormatan seseorang. Jamaah pun diingatkan untuk lebih berhati-hati ketika mengunggah foto maupun membuat status di media sosial agar bagian tubuh yang seharusnya tertutup tidak terlihat.

 

“Fungsi pakaian dalam Islam bukan sekadar penampilan atau model, tetapi juga untuk menjaga kehormatan dan aurat kita,” jelas Ustazah Hifdi. Ia juga mengingatkan jamaah bahwa menjaga aurat perlu diperhatikan tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga ketika menggunakan media sosial.

 

Lebih lanjut, Ustazah Hifdi menjelaskan konsep wa libasut-taqwa atau pakaian takwa. Menurutnya, pakaian takwa tidak hanya berkaitan dengan pakaian yang sesuai dengan ketentuan agama, tetapi juga mencerminkan ketakwaan seseorang melalui sikap dan perilakunya. Oleh karena itu, jamaah diajak untuk memperbaiki pakaian sekaligus memperbaiki perilaku, baik yang tampak dari luar maupun yang ada dalam diri.

 

Pada pembahasan Surah Al-A’raf ayat 27, Ustazah Hifdi mengingatkan jamaah mengenai bahaya godaan setan dengan mengambil pelajaran dari kisah Nabi Adam dan Siti Hawa. Ia menjelaskan bahwa setan merupakan musuh manusia yang dapat menggoda melalui berbagai cara. “Jangan sampai kita juga seperti itu, mudah tergoda oleh setan,” pesannya kepada jamaah.

Menurut Ustazah Hifdi, salah satu cara menghadapi berbagai godaan dan kemaksiatan adalah dengan memperkuat keimanan. Ia juga mengingatkan bahwa iman dapat mengalami peningkatan maupun penurunan sehingga perlu terus dijaga melalui ibadah dan perilaku yang baik.

 

Keutamaan Dzikir dan Doa

 

Pada sesi berikutnya, Ustazah Annisa Ahsanil Qisthy menyampaikan materi mengenai keutamaan dzikir dan doa dengan merujuk pada Kitab Ad-Dawa’. Kajian tersebut membahas sejumlah amalan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya doa, dzikir, serta berbagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

 

Salah satu pembahasan yang disampaikan adalah doa ketika meninggalkan rumah. Ustazah Annisa mengingatkan jamaah agar membiasakan diri berdoa sebelum memulai aktivitas, salah satunya dengan membaca, “Allahumma inni as’aluka min fadlik,” yang berarti memohon keutamaan dan karunia dari Allah Swt.

 

Selain doa ketika keluar rumah, Ustazah Annisa juga mengingatkan jamaah untuk berlindung kepada Allah dari godaan setan. Ia menyampaikan salah satu anjuran ketika mendengar suara keledai, yakni memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Pemateri kemudian mengajak jamaah untuk memperbanyak dzikir sebagai salah satu bentuk ibadah dan upaya mendekatkan diri kepada Allah.

 

“Ketika kalian mendengar suara keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari setan yang terkutuk,” tuturnya saat menyampaikan hadis tersebut. Ia juga menggambarkan luasnya ampunan Allah melalui banyaknya buih di lautan yang tidak mungkin dihitung satu per satu.

Keutamaan berdzikir menjadi salah satu pembahasan utama dalam kajian tersebut. Ustazah Annisa menyampaikan hadis mengenai keutamaan membaca Subhanallahil ‘Azim wa bihamdihi. Menurutnya, dzikir tersebut memiliki keutamaan berupa balasan pohon kurma yang ditanamkan di surga bagi orang yang membiasakannya.

 

“Kalau di surga, kita tidak perlu menanam sendiri, tidak perlu mencari bibit, tidak perlu mencari pupuk. Cukup dengan mengucapkan ‘Subhanallahil ‘Azim wa bihamdihi’, maka pohon kurma itu sudah ditanamkan oleh Allah untuk kita di surga,” jelasnya.

 

Ustazah Annisa juga menjelaskan bahwa terdapat dua kalimat dzikir yang ringan diucapkan, tetapi memiliki keutamaan besar, yaitu Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil ‘Azim. Dzikir tersebut disebut ringan di lisan, tetapi memiliki nilai yang besar dalam timbangan amal serta disenangi oleh Allah. Jamaah pun dianjurkan untuk tidak merasa bosan dalam berdzikir dan dapat mengganti bacaan dengan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, maupun istighfar.

 

Dalam kajian tersebut, Ustazah Annisa turut mengingatkan jamaah agar tidak ragu terhadap janji Allah. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam memenuhi janji, sedangkan janji Allah merupakan sesuatu yang pasti. Karena itu, jamaah dianjurkan untuk menyampaikan doa secara spesifik sesuai dengan kebutuhan masing-masing, termasuk hal-hal kecil yang dianggap sepele.

 

“Kita boleh meminta apa pun kepada Allah,” ujar Ustazah Annisa. Ia menegaskan bahwa Allah senantiasa mendengar doa hamba-Nya sehingga tidak ada alasan bagi seseorang untuk merasa ragu dalam menyampaikan permohonannya.

 

Sebagai penutup materi, Ustazah Annisa menganjurkan jamaah untuk memperbanyak salat, dzikir, istighfar, serta memuji Allah sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri kepada-Nya. Ibadah tersebut juga perlu disertai dengan usaha menjauhi maksiat dan menaati aturan Allah. Ia mengingatkan bahwa rezeki tidak hanya berupa harta, tetapi memiliki banyak bentuk yang tidak terhitung, sehingga waktu yang dimiliki sebaiknya dimanfaatkan untuk berdoa, berdzikir, dan kembali mendekatkan diri kepada Allah.

 

Reporter: Nazwa Salsabila, KPI/3C 


Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos