Jangan Tunda Taubat Karena Kematian Dekat

Klik untuk membaca artikel.


Dakwahpos.com, Subang - Satu pertanyaan menggantung di Masjid Besar Al Ikhlas, Sagalaherang, Rabu, (09/09/2026), dan tak seorang pun dari jemaah ibu-ibu yang hadir sanggup menjawabnya: kapan, di mana, dan bagaimana kita akan meninggal. Dari pertanyaan itulah Ustadzah Hj. Endah Suaendah membangun seluruh materinya dalam pengajian rutin Badan Koordinasi Majelis Ta'lim Masjid (BKMM) Dewan Masjid Indonesia.

 

Pengajian yang diselenggarakan BKMM Desa Leles ini berlangsung pukul 08.00 hingga 10.00 WIB dengan jemaah anggota majelis taklim ibu-ibu BKMM DMI. Delapan pokok bahasan disampaikan berurutan, dari keutamaan akhlak hingga anjuran bersedekah, dengan satu benang merah: iman yang tidak turun menjadi perbuatan hanya akan berhenti sebagai pengetahuan.

 

Penceramah mengajak jemaah meneladani akhlak Rasulullah SAW melalui sikap ramah, murah senyum, berkata benar, rendah hati, dan tidak meremehkan orang lain. Ia menilai ilmu setinggi apa pun tidak cukup bila tidak disertai akhlak. Kesombongan karena harta, jabatan, kecerdasan, keturunan, maupun penampilan turut dikritik, sebab menurutnya seluruh manusia berkedudukan sama di hadapan Allah dan hanya ketakwaan yang membedakan.

 

Bagian terbesar ceramah ditujukan kepada para ibu dan istri. Ustadzah Endah menekankan pentingnya menyayangi suami serta mengasuh anak dengan kasih sayang dan kesabaran, bukan dengan kemarahan. Ia juga mengingatkan bahwa utang merupakan tanggung jawab berat yang tidak selesai di dunia, sehingga jemaah diimbau tidak berutang sembarangan dan bersungguh-sungguh melunasinya. Sebaliknya, harta didorong dialirkan lewat infak dan sedekah.

 

"Ilmu yang tinggi tidak ada artinya kalau akhlaknya tidak baik. Didiklah anak dengan bahasa cinta, bukan dengan kemarahan," ujar Ustadzah Hj. Endah Suaendah.

 

Ia kembali menekankan tiga hal yang tertutup dari pengetahuan manusia mengenai waktu, tempat, dan cara kematian  sebagai alasan untuk tidak menunda tobat, memperbanyak istigfar, membaca Al-Qur'an, berzikir, serta meminta dan memberi maaf.

 

"Kita tidak tahu kapan kita akan meninggal. Jangan menunda tobat sampai besok, karena belum tentu kita masih punya besok," tuturnya.

 

Pengajian berakhir pukul 10.00 WIB. Namun materi pagi itu sesungguhnya baru diuji ketika jemaah pulang dan berhadapan dengan anak yang rewel, tetangga yang menyinggung, atau catatan utang yang belum lunas. Majelis taklim seperti ini bekerja di lingkar terdalam masyarakat pada ibu-ibu yang setiap hari membentuk karakter generasi berikutnya sehingga dampaknya berlanjut ke rumah-rumah warga. Kegiatan semacam ini layak mendapat dukungan lebih luas dari pemerintah desa dan tokoh masyarakat, sebab tak seorang pun tahu berapa banyak kesempatan memperbaiki diri yang masih tersisa. 

 

Repoter : Naura Haila / KPI 3C

 

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos