Ustadz Nuron Taufik: Bahaya Sifat Ghaflah Penghalang Ibadah Umat Islam

 

Dakwahpos.com, Bandung– Jamaah pengajian diajak untuk mewaspadai bahaya sifat ghaflah (kelalaian hati) yang dapat menjadi penghalang utama dalam beribadah. Penceramah Ustadz Nuron menegaskan bahwa ghaflah merupakan kondisi ketika hati seseorang lupa dan lalai akan kewajiban serta perintah Allah SWT.  

 "Ghaflah itu kondisi hati seseorang yang lewat atau lupa dari urusan agama, lupa mendengar kebaikan, dan lupa dengan kewajiban," ujar penceramah saat menyampaikan materi ceramah, Minggu (18/10/2026).  

 Ia menjelaskan, kelalaian tersebut sering kali disebabkan oleh keterikatan manusia pada urusan duniawi secara berlebihan. Dalam ceramahnya, ia mengutip Al-Qur'an Surat Ar-Rum ayat 7 yang menjelaskan bagaimana manusia sering kali hanya mengetahui hal-hal lahiriah dari kehidupan dunia, namun lalai terhadap kehidupan akhirat.  

 Selain itu, penceramah juga mengingatkan ancaman nyata bagi orang-orang yang membiarkan hatinya lalai sebagaimana termaktub dalam Surat Al-A'raf ayat 178-179. Menurutnya, orang yang memiliki hati, mata, dan telinga namun tidak menggunakannya untuk memahami serta melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT digolongkan sebagai orang yang lalai.  

 "Orang yang diberi hati tapi tidak untuk memahami ayat Allah, diberi mata tapi tidak melihat kebesaran-Nya, dan diberi telinga tapi tidak mendengar perintah-Nya, derajatnya bisa lebih buruk dari binatang ternak," ungkapnya.  

 Di akhir ceramah, penceramah memaparkan tanda-tanda orang yang terkena penyakit ghaflah, di antaranya terburu-buru dalam melaksanakan salat, menghabiskan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, serta baru ingat kepada Allah hanya saat tertimpa musibah. Ia mengajak seluruh jamaah untuk terus melatih diri memperbanyak zikir dan menjaga konsistensi dalam beribadah.  

Reporter: Zahro Siti Sadaah, KPI/3A


Ustaz Ahmad Riswandi: Tiga Kunci Kemuliaan Wanita Mukmin


Dakwahpos.com, Bandung – Kemuliaan seorang wanita mukmin tidak ditentukan oleh penampilan, harta, atau kecantikan, tetapi oleh ketakwaannya kepada Allah Swt. Pesan itu disampaikan Ustaz Ahmad Riswandi dalam pengajian ibu-ibu di Masjid Al-Ikhlas Panyileukan, Bandung, pada Senin (02/11/2026).

Mengawali kajian, Ustaz Ahmad menyampaikan bahwa setiap mukminah tentu menginginkan kemuliaan. Karena itu, menurutnya, nilai-nilai kemuliaan perlu ditumbuhkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya diharapkan. Ia mengingatkan bahwa tidak sedikit wanita mukmin yang justru jauh dari kemuliaan karena menjauh dari perintah Allah.

Ia menjelaskan bahwa pembagian harta rampasan perang. Namun, menurut kaidah ushul, pelajaran dari ayat diambil dari keumuman lafaznya, bukan hanya dari sebab turunnya. Karena itu, tiga pesan dalam ayat tersebut berlaku bagi seluruh orang beriman.

Kunci pertama adalah takwa, bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan lalu dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Menurutnya, tidak ada suku atau bangsa yang lebih tinggi dari yang lain, dan Allah menilai seseorang bukan dari penampilan dan harta, tetapi dari hati dan amalnya, sebagaimana dalam sabda Rasulullah. Ia mengakui penampilan itu penting, tetapi bukan yang utama. Karena itu, wanita muslimah perlu terus belajar Islam agar ketakwaannya semakin kuat.

“Seorang wanita muslimah akan dinilai oleh Allah Swt. karena ketakwaannya, bukan karena penampilannya, bukan karena harta yang dimilikinya,” Ujarnya.

Kunci kedua adalah menjaga hubungan baik sesama. Bahwa orang-orang beriman itu bersaudara, sehingga bila ada yang bertikai, hendaknya didamaikan. Ia mengingatkan jamaah agar menjadi pihak yang mendinginkan suasana, bukan memprovokasi. Menurutnya, sulit meraih kemuliaan bila hubungan dengan sesama muslim tidak dijaga.

Kunci ketiga adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ustaz Ahmad mengakui ketaatan tidak selalu ringan, misalnya menutup aurat saat cuaca panas atau menjalankan berbagai perintah agama lainnya. Namun, ketaatan harus diutamakan di atas segalanya, bagaimanapun kondisinya. Ia menambahkan bahwa meninggalkan larangan sering kali terasa lebih berat daripada menjalankan perintah, tetapi di situlah wujud takwa yang sebenarnya.

Reporter : Zulfa Khoerunisa, KPI\3D

Ustaz Ahmad Riswandi : Hidupkan Dakwah dengan Keteladanan dan Keikhlasan


Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Ahmad Riswandi dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam menghidupkan Masjid Al-Ikhlas Panyileukan. Melalui bimbingan dan keteladanannya, masjid tersebut kini tidak hanya menjadi tempat salat berjamaah, tetapi juga pusat pembinaan keagamaan bagi warga dari berbagai usia.

Bagi warga Panyileukan, nama Ustaz Ahmad Riswandi tidak asing lagi. Sosoknya yang ramah dan sederhana membuatnya mudah diterima oleh semua kalangan. Sejak Masjid Al-Ikhlas berdiri, ia aktif mendampingi jamaah, mulai dari mengisi kajian rutin, membimbing salat berjamaah, hingga menjadi tempat warga berkonsultasi mengenai persoalan keagamaan.

Kehadiran Ustaz Ahmad dinilai membawa suasana baru di lingkungan masjid. Berbagai kegiatan keagamaan yang sebelumnya sulit dilakukan di kampung tersebut kini dapat berjalan teratur, seperti pengajian mingguan, pembelajaran membaca Al-Qur’an untuk anak-anak, serta peringatan hari besar Islam. Kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat dari warga yang antusias hadir bersama keluarga.

Dalam setiap kesempatan, Ustaz Ahmad kerap mengingatkan bahwa masjid bukan sekadar bangunan, melainkan tempat membangun akhlak dan mempererat persaudaraan. Menurutnya, keikhlasan menjadi kunci utama dalam memakmurkan masjid, sejalan dengan nama Al-Ikhlas yang disematkan pada rumah ibadah tersebut.

Perhatiannya terhadap generasi muda juga menjadi sorotan. Ia mengajak anak-anak dan remaja untuk dekat dengan masjid melalui pembinaan yang menyenangkan dan tidak menggurui. Pendekatan ini membuat semakin banyak anak yang rajin belajar mengaji dan mengikuti kegiatan di masjid.

Sejumlah warga mengaku merasakan manfaat dari keberadaan Ustaz Ahmad. Selain ilmunya yang bermanfaat, ia dinilai mudah didekati dan selalu siap membantu warga yang membutuhkan bimbingan. Sikap tersebut membuat hubungan antara pengurus masjid dan masyarakat semakin erat.

Ustaz Ahmad berharap Masjid Al-Ikhlas dapat terus berkembang sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan kebersamaan warga. Ia juga mengajak seluruh masyarakat Panyileukan untuk bersama-sama menjaga dan memakmurkan masjid agar manfaatnya terus dirasakan lintas generasi.

Reporter : Zulfa Khoerunisa, KPI\3D

Masjid Al-Ikhlas Panyileukan Berdiri, Jawab Kebutuhan Ibadah Warga Kampung


Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Al-Ikhlas resmi didirikan di Kampung Panyileukan sebagai pusat ibadah dan kegiatan keagamaan warga setempat. Pembangunannya dilatarbelakangi kesadaran bahwa setiap kampung di wilayah tersebut harus memiliki masjid sendiri untuk kepentingan ibadah dan kegiatan keagamaan masyarakat.

Berdirinya Masjid Al-Ikhlas disambut penuh rasa syukur oleh warga Panyileukan. Selama ini, sebagian warga harus menempuh jarak cukup jauh ke kampung lain untuk menunaikan salat berjamaah, terutama salat Jumat dan salat tarawih pada bulan Ramadan. Kondisi tersebut mendorong tokoh masyarakat dan warga untuk bersama-sama mewujudkan masjid di lingkungan mereka sendiri.

Menurut pengurus, gagasan mendirikan masjid ini tumbuh dari kesadaran bersama bahwa setiap kampung semestinya memiliki masjid sebagai pusat ibadah sekaligus pusat kegiatan keagamaan. Masjid dinilai tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai sarana pengajian, pendidikan agama anak-anak, peringatan hari besar Islam, hingga musyawarah warga.

Pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong. Dana dan tenaga berasal dari swadaya warga, ditambah sumbangan para donatur dan dermawan yang peduli terhadap pengembangan syiar Islam di wilayah tersebut. Warga dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua, pemuda, hingga remaja, turut terlibat sesuai kemampuan masing-masing. Semangat kebersamaan ini menjadi kekuatan utama terwujudnya bangunan masjid.

Nama “Al-Ikhlas” dipilih sebagai pengingat agar seluruh proses pembangunan dan pengelolaan masjid dilandasi keikhlasan semata-mata mengharap rida Allah Swt. Harapannya, nilai keikhlasan tersebut juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari jamaah dan warga sekitar.

Tokoh masyarakat setempat berharap Masjid Al-Ikhlas dapat dimakmurkan secara berkelanjutan, baik melalui salat berjamaah lima waktu maupun kegiatan keagamaan lainnya. Ia juga mengajak seluruh warga untuk merawat bangunan masjid dan menjadikannya sebagai tempat mempererat persaudaraan.

Dengan berdirinya Masjid Al-Ikhlas, warga Panyileukan kini memiliki rumah ibadah yang lebih dekat dan mudah dijangkau. Masjid ini diharapkan menjadi pusat pembinaan umat yang melahirkan generasi berakhlak mulia serta memperkuat kerukunan masyarakat di lingkungan sekitar.

Reporter : Zulfa Khoerunisa, KPI\3D


Ustaz Endang Anwar Hidayat: Empat Kunci Kebahagiaan Dunia

IMG_20261106_115105.jpg.jpeg
Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Endang Anwar Hidayat menyampaikan materi tentang empat sumber kebahagiaan hidup dalam Khutbah di Jum'at Masjid Umar Bin Khattab yang berlokasi di Rancaekek pada Rabu, 06/11/2026. Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan para jemaah agar senantiasa bertakwa dan memohon ampunan kepada Allah SWT sebelum masa hidup di dunia berakhir.

"Rasulullah SAW bersabda bahwa ada empat sumber kebahagiaan di dunia ini, yaitu mempunyai istri yang salehah, tempat tinggal yang baik, tetangga yang baik, serta kendaraan yang nyaman," tuturnya.

Ia menerangkan bahwa sosok istri yang salehah selalu taat kepada Allah, Rasulullah, dan suaminya, sedangkan tempat tinggal yang baik mampu memberikan ketenangan serta suasana Baiti Jannati bagi keluarga.

"Hendaknya sesama tetangga saling memaafkan dan bersedia membantu, serta gunakan kendaraan yang membuat diri dan keluarga merasa tenang serta bahagia saat mengendarainya," ujarnya.

Dia menegaskan pula bahwa kehidupan dunia ini bersifat sementara dan merupakan tempat menanam amal saleh untuk menentukan kebahagiaan di akhirat kelak.

Ustaz Endang Anwar Hidayat berpesan agar para jemaah terus memperbaiki hubungan dan kualitas ibadah kepada Allah SWT serta menjauhi segala larangan-Nya agar kelak dapat meraih husnul khatimah.

Reporter: Muhammad Rizky Maulana

Ustaz Ahmad Zulfahmi : Ingatkan Pentingnya Hidup dari Masjid ke Masjid dan Cita-Cita Tinggi

 

Dakwahpos, Bandung – Suasana khusyuk dan penuh keberkahan menyelimuti pengajian rutin majelis taklim di Masjid An-Nur Al-Idrisiyah Bandung pada hari kamis (05/11/2026). Pengajian yang digelar setiap malam Jumat mulai ba'da Magrib hingga memasuki waktu Isya ini dihadiri oleh para santri, pengurus pesantren, asatiz, serta warga masyarakat sekitar. 

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Ahmad Zulfahmi hadir memberikan tausiah mendalam mengenai pentingnya menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan umat Islam, keutamaan memanjatkan doa usai membaca Al-Qur'an dan hadis, serta dorongan bagi generasi muda untuk memiliki cita-cita yang tinggi. 

Mengawali ceramahnya, Ustaz Ahmad Zulfahmi mengingatkan jemaah bahwa dimampukan melangkahkan kaki ke rumah Allah merupakan salah satu nikmat hidayah yang sangat besar. Beliau menekankan bahwa pola hidup seorang mukmin dan santri sejati seyogianya senantiasa tertaut dengan masjid. 

"Menuju ke masjid itu tidak mudah, orang yang terbiasa olahraga pun belum tentu Allah gerakkan hatinya ke masjid. Oleh karena itu, para santri yang dididik di pesantren dan masjid harus menjadikan prinsip hidupnya dari masjid ke masjid. Ke mana pun nanti pergi, baik untuk berkausa, kuliah, maupun bekerja di masyarakat, harus selalu kembali ke masjid," tegasnya. 

Lebih lanjut, Ustaz Ahmad Zulfahmi menguraikan pentingnya memanfaatkan momen setelah membaca hadis Nabi dan ayat-ayat Al-Qur'an sebagai waktu mustajab untuk berdoa. Beliau mengajak jemaah untuk bercita-cita dapat berziarah ke Tanah Suci Makkah dan Madinah, serta mengunjungi makam Rasulullah SAW dan para perawi hadis terkemuka seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim. 

"Setiap kali selesai membaca hadis atau menelaah Al-Qur'an, tengadahkan tangan dan mintalah kepada Allah[6][7]. Berdoalah agar Allah menyampaikan usia kita untuk bisa berziarah ke makam Rasulullah SAW serta tempat-tempat bersejarah di mana wahyu Allah diturunkan," ujarnya. 

Di akhir ceramahnya, Ustaz Ahmad Zulfahmi memotivasi para santri dan jemaah muda agar tidak ragu menggantungkan impian setinggi-tingginya demi kejayaan agama dan bangsa. Mengutip pesan bersejarah Presiden Soekarno, beliau mengingatkan agar para penghafal Al-Qur'an tidak menjadi pribadi yang biasa-biasa saja. 

"Bercita-citalah setinggi langit ketujuh, sebab jikalau kita jatuh, kita masih berada di langit pertama. Jangan pernah malas berdoa kepada Allah, karena modal utama orang beriman adalah doa dan kesungguhan niat," pungkasnya sebelum menutup majelis dengan doa kafaratul majelis. 

Reporter: Solihin, KPI/3D

 

Mengenal Tokoh Penopang dan Penerus Estafet Pembangunan Pondok Pesantren serta Masjid An-Nur Al-Idrisiyah

Dakwahpos.com,Bandung – Berdirinya Pondok Pesantren dan Masjid An-Nur Al-Idrisiyah tidak lepas dari peran penting serta kontribusi jajaran tokoh visioner. Kawasan pendidikan dan ibadah yang berdiri di atas tanah wakaf ini lahir dari sinergi para tokoh agama, agnia (dermawan), hingga pimpinan lembaga yang berkomitmen mencetak generasi Qur'ani.

Sosok pilar utama di balik hadirnya kawasan ini adalah almarhumah Hajah Tini Kartini selaku pewakif yang mewakafkan hartanya untuk dibangun fasilitas pesantren dan masjid. Perjuangan mulia tersebut didukung penuh oleh sang suami, Ir. Ishak Natawijaya (Abah Ishak), seorang agnia yang juga mantan Direktur Pertanahan Nasional (BPN). Beliau merupakan penginisiasi awal pembangunan yang sangat bersemangat mendirikan pondok pesantren di atas lahan tersebut.

Selain keluarga pewakif, dorongan strategis juga hadir dari ulama Abuya K.H. Muhammad Yasfi Alfazani. Beliau memberikan bimbingan dan motivasi, mempertemukan para pengelola dengan Abah Ishak, serta mengarahkan penyusunan proposal pembangunan masjid dan ruang kelas kepada Syekh Abdurrahman di Jakarta selaku Direktur IAS Indonesia-Kuwait. Tokoh kunci lainnya yang turut menjadi penginisiasi pendirian lembaga ini adalah Dr. Syamban.

Sinergi dari para tokoh fundamental tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan terbangunnya masjid tahap awal seluas 12 x 12 meter serta ruang kelas berukuran 8 x 7 meter. Estafet kepemimpinan dan pengelolaan kegiatan pendidikan Pondok Pesantren An-Nur Al-Idrisiyah kini telah diamanahkan kepada pengelola baru untuk dilanjutkan.

Pimpinan Pondok Pesantren An-Nur Al-Idrisiyah menegaskan bahwa penerimaan estafet perjuangan ini bukanlah bentuk kebanggaan pribadi, melainkan sebuah amanah besar dari guru dan kiai yang harus dijalankan secara sungguh-sungguh.

"Ini merupakan amanah besar yang diamanahkan oleh kiai dan guru saya yang harus benar-benar dijalankan. Selama kita mau terus belajar dan dibimbing oleh orang-orang hebat, insyaallah tempat ini akan terus berkembang dan maju," ungkapnya.

Pengelola berkomitmen untuk terus menimba ilmu dan meminta bimbingan dari para senior agar Pondok Pesantren dan Masjid An-Nur Al-Idrisiyah tidak hanya dikenal di tingkat regional, tetapi juga mampu berkembang hingga tingkat internasional.

Reporter : Solihin, KPI/3D

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos