Dakwahpos.com, Bandung- Pengajian di Masjid At-Taufiq Pasirbiru pada Sabtu, 24 Oktober, diisi dengan kajian keislaman yang membahas tentang tiga tingkatan khusyuk dalam salat. Dalam kajiannya, Ustazah Ai Nurjanah menjelaskan bahwa khusyuk dalam salat bukan sekadar menjalankan gerakan dan melafalkan bacaan saja, tetapi juga bagaimana kita memahami maknanya dan menyadari kedudukan diri kita di hadapan Allah Swt. Dalam kajian tersebut, Ustazah Ai Nurjanah menjelaskan bahwa kekhusyukan dalam salat memiliki tiga tingkatan, yaitu Khusyuk Mubtadiin, Khusyuk ‘Abidin, dan Khusyuk ‘Arifin dengan kriteria nya masing-masing.
Ustazah Ai Nurjanah menjelaskan lebih lanjut bahwa tingkatan pertama adalah khusyuk mubtadiin, yaitu tingkatan bagi orang yang masih belajar untuk membangun kekhusyukan dalam salat. Pada tahap ini, seseorang tersebut mungkin sudah melaksanakan salat dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi belum sepenuhnya memahami makna bacaan yang dilafalkannya. Beliau mencontohkan bahwa bacaan seperti Subhana rabbiyal 'adzhim ketika rukuk terkadang hanya diucapkan saja tanpa disertai pemahaman terhadap maknanya.
Tetapi, meskipun belum mencapai kekhusyukan yang mendalam, seseorang tidak seharusnya berhenti untuk memperbaiki ibadahnya. Ustazah Ai Nurjanah menegaskan bahwa proses belajar itu harus dijalani secara bertahap karena kesalahan orang yang sedang belajar masih bisa diperbaiki dan masih diampuni oleh Allah Swt. Beliau juga mengingatkan agar umat Islam tidak merasa cukup dengan menyelesaikan salat saja, tetapi harus terus berusaha untuk memahami makna bacaan dalam salat.
Tingkatan khusyuk yang kedua adalah Khusyuk ‘Abidin, yaitu ketika seseorang mulai memahami makna bacaan salat yang diucapkannya. Ustazah Ai menjelaskan bahwa pemahaman tersebut dapat menumbuhkan kesadaran bahwa setiap bacaan salat yang kita baca merupakan bentuk doa dan permohonan kepada Allah. Beliau mencontohkan dengan menyebutkan makna Surah Al-Fatihah yang mengingatkan manusia akan kasih sayang Allah, sekaligus mendorong seseorang untuk menyadari kekurangan dirinya dan berharap agar memperoleh rahmat-Nya.
Sementara itu, tingkatan khusyuk yang ketiga adalah Khusyuk ‘Arifin, yaitu tingkatan yang dijelaskan melalui konsep musyahadah, yaitu kesadaran batin bahwa manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah Swt. Ustazah Ai Nurjanah mengibaratkan keadaan tersebut seperti keadaan seseorang yang sedang menghadapi persidangan, dalam situasi tersebut ia tidak akan berani bersikap sembarangan karena menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh banyak orang. Menurutnya, kesadaran terhadap pengawasan Allah bisa membantu seseorang dalam menjaga hati dan perilakunya, termasuk ketika muncul keinginan untuk mengalihkan perhatian ketika sedang salat.
Pesan terakhir yang disampaikan, Ustazah Ai Nurjanah mengajak kita untuk menjadikan salat sebagai sarana untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah Swt., bukan sekadar menggugurkan kewajiban kita. Memahami makna bacaan salat, menyadari setiap gerakan, dan juga melatih hati agar tetap tertuju kepada Allah merupakan bagian dari ikhtiar kita untuk menuju kekhusyukan. Dengan demikian, peningkatan kualitas salat dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni belajar memahami bacaan dan terus memperbaiki diri agar ibadah kita semakin bermakna.
Reporter: Sevilla Aulia, KPI/3C






