Khatib Jumat Masjid Baitul Muttaqien Cinunuk Ajak Jamaah Tingkatkan Kesadaran Taqwa dan Perbanyak Amal Kebaikan
Meski Pengajian Tak Jadi Digelar, Jamaah Masjid Al-Mu'awanah Tetap Semangat Berselawat dan Berdoa Bersama

Ustaz Sudirman Abu Yasfik Ajak Jemaah Dahulukan Adab Daripada Ilmu

Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Sudirman Abu Yasfik menyampaikan sebuah pesan penting terkait tema adab-adab dalam Islam episode ke-3 pada kajian ba’da subuh yang dilaksanakan di Masjid Ar-Rahman, Arcamanik, Minggu (13/09/2026), dengan menegaskan bahwa adab itu lebih penting daripada ilmu.
Pengawas Koperasi Syariah Baitul Mu'min Ikuti Workshop Penyusunan SOM dan SOP dari Dinas KUKM Kab. Bandung
Dakwahpos.com, Bandung — Ketua Pengawas Koperasi Konsumen Syariah Baitul Mu’min (KSBM), Uwes Fatoni, mengikuti Workshop Penyusunan Standar Operasional Manajemen (SOM) dan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengawasan Internal Koperasi Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Kabupaten Bandung, Selasa (18/8/2026), di Aula Kantor Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.
Workshop tersebut diikuti sebanyak 50 peserta yang berasal dari 25 koperasi di Kabupaten Bandung. Para peserta terdiri atas unsur pengawas koperasi yang mendapatkan penguatan mengenai tata kelola organisasi dan sistem pengawasan internal.
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas pengelolaan koperasi, mendorong penyusunan dokumen SOM dan SOP internal, meningkatkan kualitas tata kelola dan kesehatan koperasi, serta meningkatkan kesejahteraan anggota dan pelayanan ekonomi melalui sistem pengawasan yang efektif.
Uwes Fatoni mengatakan keikutsertaan KSBM dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat fungsi pengawasan koperasi. Menurutnya, pengawas perlu memiliki instrumen yang jelas agar proses pengawasan tidak hanya dilakukan secara administratif, tetapi benar-benar menjadi bagian dari tata kelola koperasi.
“Bagi kami sebagai pengawas koperasi, SOM dan SOP jangan berhenti menjadi dokumen administratif. Keduanya harus menjadi alat kerja yang membantu pengurus, pengelola, dan pengawas mengetahui siapa melakukan apa, bagaimana prosedurnya, serta bagaimana pengawasan dilakukan,” kata Uwes.
Menurut Uwes, sistem kerja yang tertulis dan dipahami bersama dapat membantu koperasi mengurangi ketergantungan pada kebiasaan personal. Setiap proses penting dalam koperasi perlu memiliki alur, tanggung jawab, dan mekanisme pengawasan yang jelas.
“Dengan sistem yang jelas, persoalan bisa dideteksi lebih awal sebelum menjadi masalah yang lebih besar. Karena itu, SOM dan SOP sangat penting untuk memperkuat tata kelola dan fungsi pengawasan,” ujarnya.
Workshop dibuka oleh Heintje Herlando, S.E., Kepala Bidang Penilaian dan Pengawasan Koperasi Dinas KUKM Kabupaten Bandung. Dalam sambutannya, Heintje menegaskan bahwa koperasi yang baik tidak hanya dinilai dari aktivitas usahanya, tetapi juga dari kesehatan organisasi dan kualitas tata kelolanya.
“Koperasi yang baik adalah koperasi yang sehat, koperasi yang memiliki tata kelola administrasi yang baik, tertib keuangan, pengeluaran yang benar, pembagian tugas yang jelas, serta sistem pengawasan yang baik,” kata Heintje.
Ia menjelaskan, pengawas koperasi tidak hanya bertugas menyampaikan laporan pengawasan. Pengawas juga dituntut memahami proses bisnis koperasi, ketentuan yang berlaku, risiko yang mungkin muncul, serta memastikan pengurus dan pengelola menjalankan tugas sesuai aturan dan keputusan organisasi.
Menurut Heintje, pola pikir mengenai pengawasan juga perlu diperkuat. Pengawasan tidak seharusnya dipahami semata-mata sebagai kegiatan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai bagian dari sistem manajemen yang berfungsi memastikan kegiatan koperasi berjalan sesuai rencana, ketentuan, dan kepentingan anggota.
“SOM dan SOP bukan hanya dokumen yang disimpan di dalam lemari atau dibuat untuk memenuhi kebutuhan administrasi. SOM dan SOP harus menjadi pedoman kerja yang benar-benar digunakan dalam kegiatan operasional koperasi,” tegas Heintje.
Workshop menghadirkan Widdy Rizaldi Rabbani dari Becoop, Cubic Inkubator, dan Rumah Kesejahteraan sebagai narasumber. Hadir pula Wini Arsianti, SP., M.Si., pejabat fungsional atau pengawas koperasi pada Dinas KUKM Kabupaten Bandung.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapat pemahaman bahwa SOM dan SOP tidak harus sama antara satu koperasi dengan koperasi lainnya. Penyusunannya perlu menyesuaikan jenis usaha, struktur organisasi, karakteristik anggota, proses bisnis, serta risiko yang dihadapi masing-masing koperasi.
Uwes berharap materi yang diperoleh dari workshop tersebut dapat ditindaklanjuti di lingkungan KSBM melalui penguatan dan penyempurnaan SOM serta SOP internal. Menurutnya, dokumen yang baik adalah dokumen yang dipahami, diterapkan, dievaluasi, dan diperbarui sesuai kebutuhan organisasi.
Selain KSBM, workshop diikuti 24 koperasi lainnya dari berbagai wilayah di Kabupaten Bandung, di antaranya Primer Koperasi Wredatama Padaringan Cicalengka, Koperasi Konsumen Kebon Kapas Sejahtera, Koperasi Serba Usaha Ikatan Mitra Usaha Cileunyi, Koperasi Konsumen Warga Sacil Sejahtera, Koperasi Konsumen Sauyunan Warga Sejahtera, Koperasi Konsumen Sadulur Mitra Sejahtera, Koperasi Simpan Pinjam Cahaya Nararay, Koperasi Produsen Sinar Jagung Priangan, Koperasi Konsumen Perempuan Kencana Rancaekek, hingga Koperasi Desa Merah Putih Cileunyi Wetan.
Siswa MTs Darussalam Raih Juara 1 dalam Porseni Tingkat Kabupaten Ciamis Tahun 2026
Prof. Abdullah Terpilih sebagai Ketua APDII Periode 2026–2030
Dakwahpos.com, Balikpapan — Prof. Dr. Abdullah, M.Si. Guru Besar Ilmu Dakwah, UIN Sumatera Utara, terpilih sebagai Ketua Perkumpulan Akademisi dan Profesi Dai Indonesia (APDII) periode 2026–2030 dalam Kongres APDII VII yang digelar di Hotel Gran Senyiur Balikpapan, Jumat, 6 Juni 2026.
Pemilihan Ketua APDII tersebut berlangsung bersamaan dengan kegiatan FORDAKOM, Forum Dekanat Fakultas Dakwah dan Komunikasi PTKI se-Indonesia. Pemilihan ini diikuti oleh 25 dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi dari berbagai PTKI di Indonesia serta sejumlah guru besar.
Dalam proses pemilihan, Prof. Dr. Abdullah, M.Si. memperoleh 14 suara. Ia unggul dari Prof. Dr. Najahan Musyafak, M.A. yang memperoleh 9 suara, dan Prof. Dr. Entad Musaddad, M.A. yang memperoleh 2 suara.
Terpilihnya Prof. Abdullah diharapkan menjadi momentum penguatan APDII sebagai wadah akademisi dan profesi dai di Indonesia. APDII ke depan menurut Prof Abdullah diharapkan semakin berperan dalam pengembangan keilmuan dakwah dan komunikasi, sekaligus memperkuat kualitas program studi dan fakultas dakwah dalam merespons berbagai isu keumatan, kebangsaan, dan perkembangan komunikasi kontemporer.
Ketua APDII periode 2022–2026, Prof. Dr. Muhammad Sulthon, M.Ag., menyampaikan harapannya agar kepengurusan baru dapat memperkuat soliditas organisasi dan memperluas kontribusi keilmuan dakwah. Menurutnya, APDII perlu terus mengembangkan institusi serta kajian-kajian dakwah agar mampu memberi kontribusi nyata, tidak hanya dalam konteks nasional, tetapi juga pada ruang yang lebih luas.
“Kita berharap 2026–2030 itu semakin solid dan semakin bisa mengembangkan institusi maupun kajian-kajian dakwah, sehingga betul-betul kontributif untuk menciptakan dan mendorong rahmatan lil alamin, bukan cuma untuk wilayah Indonesia, syukur bisa di wilayah yang lebih luas,” ujar Prof. Sulthon.
Ia menambahkan, berbagai fenomena dakwah kontemporer perlu terus direspons oleh APDII, baik yang bersifat lokal maupun internasional. Salah satu fenomena yang disebutnya adalah gerakan hijrah yang berkembang di tengah masyarakat.
“Fenomena yang terjadi dan sudah direspons oleh APDII bukan cuma isu-isu lokal, tetapi juga internasional. Banyak sekali yang bisa kita respons, misalnya gerakan hijrah. Mudah-mudahan ini bisa menjadi bagian dari harapan kita untuk pertumbuhan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua FORDAKOM periode 2024–2026, Prof. Dr. Hasan Sazali, M.A., menilai kolaborasi antara APDII dan FORDAKOM selama ini telah berjalan kuat. Menurutnya, sinergi kedua organisasi tersebut penting dalam memperkuat eksistensi keilmuan dakwah dan komunikasi melalui berbagai pendekatan akademik.
Prof. Hasan menyebut kolaborasi APDII dan FORDAKOM telah melahirkan banyak kegiatan akademik, baik dalam skala nasional maupun internasional. Karena itu, kepengurusan baru APDII diharapkan dapat melanjutkan sekaligus memperluas kerja sama strategis tersebut.
Dengan terpilihnya Prof. Dr. Abdullah, M.Si., APDII diharapkan mampu memperkuat peran akademisi dan profesi dai dalam pengembangan dakwah, komunikasi Islam, serta peningkatan mutu kelembagaan fakultas dan program studi di lingkungan PTKI se-Indonesia.
Bina Karakter, Kepemimpinan, dan Kemandirian, 117 Peserta Ikuti Alfaro Camp di MAN 1 Darussalam Ciamis
CIAMIS — Sebanyak 117 siswa MAN 1 Darussalam Ciamis yang tergabung dalam Pramuka Penegak Ambalan Ali bin Abi Thalib dan Fatimatu Zahra mengikuti kegiatan Alfaro Camp di Lapangan MAN 1 Darussalam Ciamis, 1–3 Mei 2026. Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari proses pelantikan anggota Pramuka Penegak Bantara dengan fokus pembinaan karakter, kepemimpinan, dan kemandirian.
Selama tiga hari, peserta menjalani serangkaian kegiatan yang menguji kemampuan fisik, mental, dan kekompakan kelompok. Kegiatan diawali dengan pengecekan perlengkapan dan upacara pembukaan, dilanjutkan sesi materi tentang organisasi Pramuka oleh Bapak Iing Kuswandi. Ia menekankan bahwa Pramuka merupakan satu-satunya organisasi dengan landasan undang-undang tersendiri yang sekaligus membuka peluang beasiswa perguruan tinggi bagi anggotanya.
Pembina Pramuka MAN 1 Darussalam, Fani Rahman, S.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak semata diukur dari kelulusan sebagai Penegak Bantara, melainkan dari perubahan sikap dan kedewasaan setiap peserta. Menurutnya, proses belajar dalam kepramukaan justru terletak pada keberanian menghadapi tantangan dan kebersamaan dalam menyelesaikannya.
"Hari ini adalah awal dari perjalanan kalian. Mungkin terasa melelahkan, tetapi setiap langkah yang kalian ambil akan membentuk kalian menjadi pribadi yang lebih kuat," tutur Fani Rahman dalam arahannya saat pembukaan.
Hari kedua diisi sesi materi administrasi kepramukaan oleh Kak Rian Muhammad Fernandi yang membahas administrasi keanggotaan, keuangan, kegiatan, hingga perlengkapan satuan. Sore harinya, semangat peserta semakin membara dalam Alfaro Festival yang mempertandingkan lomba pionering, P3K, dan jejak petualang. Ketiga lomba tersebut dirancang untuk melatih kekompakan, pengetahuan, dan ketangkasan peserta. Malam harinya, suasana berubah meriah dengan pentas seni yang menampilkan dance, drama, iklan, dan acapella dari masing-masing sangga.
Puncak kegiatan berlangsung dini hari ketika peserta menjalani jurit malam dengan mata tertutup kain kacu, dituntun para senior melewati lorong gelap untuk menemukan "blok bantara" sebagai simbol kelulusan. Suasana menegangkan sekaligus diwarnai gelak tawa, termasuk ketika seorang peserta salah membawa paving block dari jalanan karena keliru memahami instruksi. Setelah jurit malam, seluruh peserta yang berhasil resmi dilantik sebagai Pramuka Penegak Bantara melalui upacara khidmat yang berlangsung pukul 01.00 hingga 03.00 dini hari.
Hari ketiga ditutup dengan hiking rally sejauh sekitar tiga kilometer yang melewati lima pos tantangan, mulai dari sandi morse, baris-berbaris, pengetahuan kepramukaan, uji kemampuan indera, hingga pos basah-basahan yang diwarnai guyuran air dan teriakan yel-yel kelompok.
Syamil Irfan Fatoni, peserta kelas 10, mengaku mendapat banyak pelajaran berharga selama mengikuti rangkaian kegiatan ini. Baginya, setiap tantangan yang dihadapi selama tiga hari justru menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
"Hari pertama cukup menegangkan, terutama saat pengecekan barang. Tapi dari situ saya belajar pentingnya persiapan dan tanggung jawab," ujarnya.
Alfaro Camp diharapkan menjadi wadah efektif dalam mencetak generasi muda yang disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab, sekaligus mempererat nilai kebersamaan di lingkungan Pramuka MAN 1 Darussalam Ciamis.


