Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

30 Tulisan Mahasiswa KPI UIN Bandung Tembus Dimuat Media Nasional Tahun 2020

Oleh: Dr. Uwes Fatoni, M.Ag

Kemampuan menulis tidak datang begitu saja, tetapi diperlukan latihan dan perjuangan termasuk kemauan yang tinggi untuk terus memperbaiki tulisan yang sudah dihasilkannya.  

Mata kuliah jurnalisme dakwah yang saya ampu di jurusan KPI UIN SGD Bandung semester 3 mendorong mahasiswa untuk terus meningkatkan kemampuan menulis (kitabah) sebagai salah satu kompetensi utama jurusan KPI. 

Salah satu cara untuk melatih mahasiswa untuk gemar menulis adalah dengan memberikan tugas latihan membuat tulisan seminggu sekali sesuai dengan tema yang sudah ditentukan dan mengirimkannya ke redaksi salah satu media nasional yaitu Media Indonesia. Setelah berjalan cukup lama proses pelatihan menulis Ini akhirnya membuahkan hasil. Sejak dicanangkan pengiriman tulisan di awal bulan Oktober 2020 atau awal perkuliahan semester ganjil sampai awal bulan Desember  atau tiga bulan kemudian sudah terbit 30 tulisan yang dimuat di Media Indonesia. 

Alhamdulillah keberhasilan mahasiswa KPI tembus menulis di media nasional ini diapresiasi juga oleh kampus yaitu dengan dimuat kembali tulisan-tulisan tersebut di akun Facebook humas UIN Sunan Gunung Djati. 

Ini merupakan sebuah kebanggaan ikut memberikan kontribusi bagi lembaga dan mengharumkan nama kampus di tingkat nasional. Ini juga menjadi bukti bahwa mahasiswa itu tetap produktif meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19 dan harus belajar di rumah. Mereka terus berkarya dan memberikan kontribusi menyebarkan gagasannya memberi solusi terhadap berbagai permasalahan kebangsaan di tanah air saat ini melalui media tulisan.

Mereka bisa, anda juga sebagai mahasiswa KPI, pasti bisa mengikuti jejak mereka menjadi penulis sukses, yang penting mau dan terus berusaha dan tidak pernah lelah untuk secara rutin menulis dan mengirimkannya setiap minggu ke redaksi media. Ayo coba terus

Berikut nama-nama mahasiswa KPI UIN Bandung yang sudah berhasil menjadi penulis media nasional.

1. *M. Husna Hisaba* Anarki Cermin Rendahnya Literasi, 17 Oktober 2020.

2. *Nur Azizah Hidayah*  "Penting Memahami Aturan Perundangan, 22 Oktober 2020.

3. *Maryam A. Shabiyya*,  berjudul "Miskomunikasi yang Berujung Ricuh" Sabtu 24 Oktober 2020
 
4. *Dian Ramadhan⁩* "Ikut Aksi, Kritis atau cuma Latah?", 31 Oktober 2020

5. *M. Dandhi Ramadhan* "Cuma Mencari 
Eksistensi Diri" Selasa, 3 November 2020. 

6. *M Nashihul Umam* dengan tulisan berjudul "Edukasi Korona 
dalam Balutan 
Agama"  Selasa, 3 November 2020. 

7. *R. Al-Adawiyah Arni Putri*  tulisan berjudul "Kreativitas Berujung Petaka" Kamis, 5 November 2020. 

8. *Pahmi Nurdiansyah* tulisan berjudul "Terlalu Bebas Berpendapat Jadi Ancaman"  Kamis, 5 November 2020. 

9. *Nur Azizah Hidayah* dengan tulisan berjudul _"Ada Pembatasan dalam Kebebasan Hak Asasi"_.Sabtu 14 November 2020.

10. *M. Athallah Ariq Muzakki* tulisan berjudul _"Kurangi Arogansi di Jalan Raya"_ Sabtu 14 November 2020.
  
11. *Zami Muhammad* dengan judul tulisan _"Jadilah Pengguna Jalan yang Bijak"_ Sabtu 14 November 2020.

12. *Sarah Aulia Fadilah* dengan tulisan berjudul _"Keseimbangan antara Kebebasan dan Menghargai"_. Senin,  16 November 2020. 
 
13. *Mulki Murobbi Abdurrohman* tulisan berjudul _"Jangan Terlalu Mudah Menggunakan Jemari"_ Senin,  16 November 2020. 

14. *Serliana Salsabila* dengan tulisan berjudul _"Masih Ada Diskriminasi di Balim Kebebasan"_. Senin,  Rabu, 18 November 2020. 

15. *Naufal F Fadhlurohman* dengan tulisan berjudul _"Apa slSusahnya Ikuti Aturan Pemerintah"_. Kamis, 19 November 2020. 


16. *Khairunnisa Al Fajri* dengan tulisan berjudul _"Sebaiknya Jangan Tuman"_.  sabtu 21 November 2020. 


17. *Yunisa Tazkia Nafsi* dengan tulisan berjudul _"Berani Bicara itu Juga Perlu Ilmu"_. Selasa 24 November 2020. 

18. *Azzahra Khoirunnisa* dengan tulisan berjudul _"Jangan Merasa Jadi Orang Hebat", Rabu 25 November 2020. 

19. *Wildan Syahrial Hasani* tulisan berjudul "Abaikan Saran Kesehatan Berujung Kematian".Rabu 25 November 2020. 

20. *Rahman Karim* dengan tulisan berjudul _"Jangan Biarkan Muncul Kalster Baru". Kamis 26 November 2020. 

21. *Erlinda Charelia Putriana* dengan tulisan berjudul _"Pandemi Bukan Bahan Guyonan"_. Jumat 27 November 2020. 

22.  *Muhamad Syaeful Shiddiq* dengan tulisan berjudul _"Apa sih Susahnya Berempati"_. Jumat 27 November 2020. 

23. *Nida Khofiyya Nur Kholidah* dengan tulisan berjudul _"Cuma Menerapkan 3M Saja Tidak Susah Kok"_. Jumat 27 November 2020. 

24 *Adinda Nuurlatifah* dengan tulisan berjudul _"Komentar dan Pengaruh pada Kejiwaan"_.Sabtu 28 November 2020. 

25. *Aditya Tirta Lukmana* dengan tulisan berjudul _"Influence Harus Suarakan Protokol Kesehatan"_. Selasa 1 Desember 2020. 

26. *Indi Augi Naufal* dengan tulisan berjudul _"Bersahabat dengan Virus Mematikan"_. Selasa 1 Desember 2020. 

27. *Riziq Abdul Malik* dengan tulisan berjudul _"Aparat Jangan Gagap Tegakkan Peraturan"_ Selasa 1 Desember 2020. 

28. *Mahadika Diovany* dengan tulisan berjudul _"Laksanakan Penegakan Hukum Tanpa Keraguan"_. Kamis, 3 Desember 2020.

29. *Nurul Jannah* dengan tulisan berjudul _"Kebijakan Bukanlah Sekedar Ajakan"_. Kamis, 3 Desember 2020

30. *Deva Fitriani* dengan tulisan berjudul _"Penting Menjaga Kebugaran Mental"_
Sabtu, 5 Desember 2020

Surat Terbuka Syekh Ali Jaber

Oleh : Uwes Fatoni

Syekh Ali Jaber, siapa yang tidak mengenal ulama asal Madinah ini? Nama aslinya Ali Shaleh Muhammad Ali Jaber. Guru tahfidz di Masjid Nabawi ini sering terlihat di acara-acara televisi tanah air terutama program Hafiz Indonesia RCTI sebagai salah seorang juri dan juga beberapa televisi lain sebagai penceramah keagamaan. Syekh yang memiliki sebuah masjid besar di Madinah ini dikenal sangat luas ilmu agamanya.  Sejak kecil ia telah dididik secara formal di lembaga pendidikan agama.

Awal kiprah Syekh kelahiran 1976 ini dalam kegiatan dakwah di Indonesia cukup unik. Sebagaimana dikutip dari muslimmedianews.com Syekh Ali Jaber tahun 2008 menikahi dengan Umi Nadia, seorang gadis Lombok yang lama tinggal di Madinah, Tahun itu ia berkunjung ke Jakarta dan mengikuti shalat berjamaah di Masjid Sunda Kelapa. Salah seorang pengurus masjid memintanya untuk menjadi imam. Kemampuannya membaca Al-Quran dengan indah dan hafalannya yang sangat bagus menjadikannya dipercaya untuk menjadi imam shalat taraweh di masjid tersebut. Mendapat kepercayaan tersebut syekh yang telah hafidz 30 Juz Al-Quran ini pun mulai belajar bahasa Indonesia. Ia mahir menyampaikan dakwah secara lancar dalam bahasa Indonesia dan menarik perhatian umat Islam tanah air.

Namun, setiap usaha baik tentu tidak pernah lepas dari kelemahan. Beberapa kelompok masyarakat mengkritiknya bahkan memberikan tuduhan tanpa dasar kepada beliau, seperti menjadi agen penyebar Wahabi di Indonesia, ulama anti maulid, anti tawassul, dan lain-lain. Beberapa ceramahnya yang disampaikan di media televisi maupun rekaman pengajian di beberapa daerah  yang diunggah di website memancing perdebatan.

Merespon beragam pandangan atas kiprah dakwahnya tersebut, Syekh masjid Madinah ini membuat klarifikasi dengan menulis surat terbuka di media sosial. Saya mendapatkan surat terbuka ini dari akun Ustad Fahmi Salim, Wasekjen MIMUI sekaligus ustad yang aktif berdakwah di televisi dan media sosial.

Di awal suratnya Syekh Ali Jaber menyampaikan permohonan maaf atas keterbatasan dan kelemahannya dalam mengemas pesan dakwah di Indonesia. Sikap rendah hati ini memperlihatkan cerminan keagungan dirinya untuk secara terbuka memohon maaf kepada masyarakat sekalipun bisa jadi beliau tidak bersalah.

Beliau kemudian mengucapkan rasa terima kasih atas berbagai kritikan, nasehat dan masukan untuk kegiatan dakwah yang ia sampaikan terutama yang dianggap kontroversial. Ada tiga poin yang ia berikan penjelasan terkait dengan tuduhan yang dialamatkan beberapa kalangan kepadanya, yaitu :

Pertama, Tuduhan anti tawassul. Tuduhan ini muncul setelah ia menyampaikan ceramah di TV One, tanggal 19 Juni 2015 berjudul Antara Puasa dan Tauhid. Salah satu kalimat dalam dakwahnya di media tersebut yang dianggap kontroversil adalah "doa tercampur syirik". Menurutnya ia tidak bermaksud menyatakan tawassul sebagai bentuk kemusyrikan. Ia hanya mengajak masyarakat untuk meyakini doanya akan dikabulkan oleh Allah baik sendiri maupun berjamaah. Dalam berdoa juga jangan tercampur dengan keyakinan selain kepada Allah. Jadi menurutnya ia tidak anti tawassul.

Kedua, Larangan berlebihan dalam berkurban. Video rekaman ceramahnya yang diunggah di salingsapa.com memunculkan perdebatan karena jawabannya terhadap pertanyaan jamaah tentang berkurban.  ia menyampaikan jawaban bahwa berkurban lebih dari satu ekor sapi atau kambing itu terlarang. Menurutnya menjawab yang ia sampaikan bisa saja berbeda dengan ulama yang lain. Fatwa setiap ulama bisa berbeda terutama dalam wilayah ikhtilaf. Jadi ia menyarankan kepada masyarakat dalam setiap ceramahnya bila ingin bertanya masalah agama tanyalah Ulama yang berada di daerahnya seperti MUI. Ia sendiri menghormati setiap perbedaan pendapat dalam masalah agama.

Ketiga, Tuduhan menjadi agen Wahabi. Dalam surat terbukanya Syekh Ali Jaber menyebutkan bahwa ia dituduh membawa faham/aliran tertentu. Karena ia berasal dari Madinah, bisa difahami bila ada tuduhan bahwa ia menjadi agen penyebar faham Wahabi di Indonesia melalui media massa. Kekhawatiran tentang penyebaran aliran dari Arab Saudi ini beberapa tahun terakhir memang banyak muncul di Indonesia, apalagi seringkali faham-faham yang berasal dari Timur Tengah itu dianggap menjadi biang perpecahan umat di tanah air. Selain itu banyak yang melihat konflik di Timur Tengah yang disebabkan oleh perbedaan faham/aliran seolah akan disebarkan ke negara-negara dimana umat Islam berada. Tuduhan tersebut ditampik Syekh Ali Jaber. Syekh menyatakan bahwa ia sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan umat. Ia banyak bersilaturahmi dengan para ulama nusantara, meminta saran dan nasehat mereka sekaligus menghormati dan menghargai perjuangan mereka dalam menegakkan agama Islam. Sebaliknya, ia sering mendengar bahwa kelompok dari faham/aliran yang dituduhkan kepada dirinya justru antipati kepadanya karena sikapnya tersebut.

Demikian tiga klarifikasi yang disampaikan oleh Syekh Ali Jaber. Kita bisa melihat dalam setiap usaha dakwah respon positif atau juga negatif pasti akan muncul. Namun, seyogyanya perbedaan pendapat tidak perlu diperbesar apalagi dijadikan amunisi untuk memberikan tuduhan tanpa dasar.

Di tengah perjuangan umat untuk terus menegakkan agama Islam di tanah air perlu kesadaran dari  setiap pejuang dakwah untuk saling membantu, bahu membahu, dan berlomba-lomba melakukan kebaikan. Tentu kritikan, saran dan masukan perlu diterima dengan lapang dada untuk dijadikan pertimbangan dalam melakukan dakwah yang lebih baik.

Saya melihat Syekh Ali Jaber telah membuktikan bahwa sekalipun dirinya ulama kelahiran Madinah, namun sikapnya sebagaimana tercermin dalam surat terbuka di atas sudah mencerminkan dirinya sebagai ulama nusantara. Ulama yang terus berupaya menyebarkan Islam dengan damai, seraya mendalami sikap, karakter dan kebiasaan umat Islam di tanah air.

Catatan Awal September Ceria
Cijambe Ujung Berung Bandung

Kesalahan Umum Menulis Berita (1)

Catatan Seri Jurnalisme Dakwah

Membaca berita mungkin sudah menjadi aktivitas keseharian kita. Tapi, ketika diminta untuk menulis berita terkadang kita kesulitan untuk memulai dari mana dan bagaimana caranya. Kesulitan ini terjadi karena kurangnya latihan, selain tentu saja kurangnya pengetahuan tentang teknik menulis berita yang baik.

Dalam catatan kali ini saya akan mengungkapkan beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan oleh para calon jurnalis ketika mereka menulis berita. Catatan ini diperoleh setelah memperhatikan dan membaca dengan cermat tulisan berita yang dikumpulkan oleh mahasiswa KPI Semester tiga yang mengikuti mata kuliah Jurnalisme Dakwah yang saya ampu.

Para mahasiswa tersebut sengaja saya beri tugas untuk liputan langsung kegiatan Idul Adha dan kurban di kampungnya masing-masing. Mereka tidak diberikan penjelasan secara langsung tentang teknik menulis berita. Hanya instruksi yang saya berikan, agar mereka menggunakan instingnya untuk meliput berita berdasarkan penilaian mereka peristiwa tersebut memiliki nilai berita untuk dipublikasikan. Saya mengajak mereka untuk belajar sambil melakukan (learning by doing). Melalui cara ini mereka akan belajar dari kesalahan.

Kesalahan dalam penulisan berita oleh mahasiswa tentu perlu dibongkar sehingga mereka tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama dalam liputan berita berikutnya. Dengan demikian mereka juga akan mendapatkan wawasan untuk membuat berita lebih baik.

Dalam tulisan ini saya akan mengungkapkan beberapa kesalahan umum dalam menulis berita. Pada bagian ini saya akan menyoroti tulisan mahasiswa dari aspek penulisan judul berita.

1. Penggunaan Huruf Kapital di Judul Berita
Salah satu kesalahan terbesar dalam menulis berita adalah keteledoran untuk memperhatikan tanda baca, termasuk huruf kapital. Salah satu aturan penting menulis berita adalah tidak boleh menggunakan huruf kapital untuk judul berita, contohnya:
MEROSOTNYA EKONOMI, KURBAN DI DESA NAGRAK MENGALAMI PENURUNAN 
WARGA KAMPUNG DUSUN PUHUN BERHARAP ADANYA PEMBAGIAN DAGING QURBAN  
TRADISI QURBAN DI KAMPUNG LEBAK LAME  
MENINGKATNYA MUZAKKI DI DKM NURUL QOLBI   
PERISTIWA SAAT SHALAT IED
MUHAMMADIYAH LEBIH AWAL MELAKSANAKAN SHALAT IDUL ADHA 1436 H DARI PENETAPAN PEMERINTAH

Huruf kapital bisa diartikan sebagai tanda kemarahan. Jadi judul berita dengan menggunakan huruf kapital bisa diartikan bahwa penulis sedang marah. Ini tentu tidak sesuai dengan maksud berita tersebut ditulis bukan?

2. Penggunaan Huruf Kecil di Judul Berita

Berbeda dengan kesalahan di atas, wartawan yang menuliskan judul berita dengan menggunakan huruf kecil semua menandakan bahwa ia tidak memahami kaidah penulisan berita. Contoh judul berita ini seperti:
malam idul adha tanpa kebisingan di maja
malam idul adha komplek cibiru raya 
lunturnya budaya idul adha 
ikhtilaf penetapan idul adha
3. Salah Penulisan di Judul Berita

Salah satu kesalahan terbesar wartawan lainnya adalah malas mengedit. Apalagi kesalahannya dilakukan dalam penulisan judul berita. Pembaca akan sangat terganggu dengan judul berita yang salah. Alih-alih mereka akan membaca isi berita, membaca judul berita saja mereka sudah malas.

Sebenarnya ada editor atau redaktur berita yang akan memberikan koreksi dalam kesalahan penulisan ini. Namun, jangan menambah kerja editor atau redaktur dengan hal-hal yang sepele seperti ini. Tugas mereka sudah cukup berat untuk memperhatikan dan mengedit isi berita agar sesuai dengan visi misi media. Jadi jangan malas untuk membaca kembali judul dan mengkoreksinya bila salah. Ini contohnya :

ARISAN QURBAN ,EMJADI SOLUSI WARGA 
IDUL ADAH MEMBAWA BERKAH BAGI PEDAGANG TUSUK SATE
 4. Tidak Ada Judul Berita

Judul berita adalah rukunnya penulisan berita. Bila tidak ada judul maka berita tersebut tidak jelas, dan dipastikan tidak layak untuk dijadikan berita. Beberapa mahasiswa masih menganggap bahwa tugas liputan berita ini tidak jauh berbeda dengan tugas membuat makalah, jadi mereka tidak memperhatikan unsur penting dari berita ini.
Ada juga yang menuliskan judul berita dengan tugas kuliah. Misalnya :
Berita tentang Lebaran Idul Adha  
JURNALISME DAKWAH 
Berita yang tidak memberikan judul atau memberi judul tapi dengan kata "tugas kuliah"  dipastikan tidak akan dimuat. Jadi perhatikan dengan baik hal ini, bila tulisannya ingin dimuat.

5. Berita Terlalu Panjang

Ada mahasiswa yang karena begitu bersemangatnya membuat berita sampai dalam judul berita dimasukkan semua unsur berita di dalamnya. Ada juga mereka yang menuliskan judul berita dengan kata-kata yang tidak perlu. Misalnya :

Naik nya harga daging sapi tidak membuat masyarakat Rengasdengklok berhenti dari tradisi saat idul Adha  
MUHAMMADIYAH LEBIH AWAL MELAKSANAKAN SHALAT IDUL ADHA 1436 H DARI PENETAPAN PEMERINTAH  
Tiket tidak hanya untuk masuk bioskop, untuk mengambil sebungkus daging qurban pun ada tiketnya ternyata... 
WARGA KAMPUNG DUSUN PUHUN BERHARAP ADANYA PEMBAGIAN DAGING QURBAN  
Pelaksanaan Shalat Idul Adha di Masjid Ikomah UIN SGD BDG 1436 
Libur Idul Adha, Wisata Pemandian Air Panas di Cipanas, Garut Ramai Pengunjung
Judul-judul di atas bila dikoreksi, akan didapatkan judul yang lebih baik, lebih efektif, lebih ringkas, namun tetap mencerminkan isi berita. yaitu:
Harga Sapi Naik, Masyarakat Rengasdengklok Tetap Berkurban 
Muhammadiyah Lebih Awal Shalat Idul Adha 
Ternyata, Dapat Kurban pun Harus Punya Tiket 
Warga Kampung Dusun Puhun Berharap Daging Kurban 
Shalat Idul Adha di Masjid Ikomah UIN Bandung 
Libur Idul Adha, Wisata Cipanas Garut Ramai Pengunjung

Demikian beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan oleh calon wartawan ketika menulis judul berita. Semoga ini bisa menjadi catatan perbaikan untuk liputan berita berikutnya yang lebih baik.
Nantikan tulisan berikutnya tentang kesalahan umum menulis berita di catatan ini. Jangan lupa terus berlatih. Semoga bermanfaat.


Cijambe Ujung Berung,
Penghujung malam 30 Sept 2015

Urgensi Media Dakwah Islam Aktual

Catatan Kanguwes
Seri Jurnalisme Dakwah

Di zaman keberlimpahan informasi saat ini, posisi umat Islam tidak cukup hanya menjadi penerima dan konsumen informasi, tapi harus beralih menjadi penyebar dan produsen informasi. Sebagai konsumen informasi posisi umat Islam hanya akan menjadi target agenda setting media-media kapitalis dunia untuk digiring menuju opini yang telah mereka atur. Sebaliknya dengan posisi sebagai produsen dan penyebar informasi umat Islam akan memiliki kemampuan untuk menciptakan opini tandingan dari berbagai informasi yang tersebar. 
Perkembangan teknologi informasi, khususnya internet perlu dimanfaatkan oleh umat untuk menciptakan media-media baru. Melalui media internet media massa online sangat mudah didirikan. Saat ini memang banyak bermunculan media-media online dari rahim umat Islam seperti Republika.com, Islampos.com, voaislam.com dan lainnya. Namun, beberapa media tersebut cenderung tidak mengikuti kode etika jurnalistik. Sebut saja misalnya keberimbangan sumber informasi, atau keakuratan berita.
Kecenderungan negatif ini menjadikan media Islam online dituduh sebagai media propaganda, alih-alih menjadi media Media propaganda justru jauh dari nilai-nilai jurnalistik. Hal inilah mengapa beberapa media Islam diblokir oleh Kemenkominfo karena tuduhan menyebarkan kebencian dan terorisme. Beruntung saja atas desakan masyarakat dan tokoh Islam pemblokiran tersebut dihentikan dan tuduhan tersebut diperiksa kembali.
Mengapa muncul tuduhan media Islam online sebagia media online yang buruk? Ini terjadi karena kebanyakan media Islam online lebih banyak mengolah isu untuk kepentingan kelompoknya dibandingkan untuk kebaikan masyarakat secara umum. Mereka menyebarkan informasi untuk kebaikan sekelompok umat yang itu cenderung bersifat subyektif. Bila ini tidak segera dihentikan, citra buruk media Islam online mungkin akan terus berlanjut.
Untuk itu dibutuhkan aturan yang jelas untuk mengarahkan media-media online tersebut kembali ke jalan yang benar. Perlu ada satu lembaga yang menjadi naungan berbagai media Islam tersebut untuk memperbaiki kualitas pemberitaannya. selain itu juga perlu dibuat pelatihan jurnalistik yang tepat sehingga melahirkan wartawan yang berkualitas. 
Di sinilah tantangan lembaga pendidikan tinggi Islam dalam melahirkan wartawan muslim berkualitas. belum banyak upaya kampus untuk mengarah kesana. Salah satu kritikan dari Janet Steele, seorang profesor Jurnalisme dari Washington University, bahwa wartawan lulusan dari PTAI kurang berkualitas karena kurang berlatih selain juga keterbatasan fasilitas laboratorium. Kritikan Steele tersebut dipublikasikan dalam International Journal of Communication dengan judul " Journalism and the Call to Allah, Teaching Journalism in indonesia's islamic universities and state institutes".
melalui perkembangan teknologi, sebetulnya latihan menciptakan jurnalis muslim yang berkualitas sangat mudah dilakukan. sayangnya, Saatini Media Online belum banyak yang dilahirkan dari rahim kampus Islam. Kecenderungannya civitas akademik di perguruan tinggi Islam lebih sibuk dengan meneliti, mengkaji berbagai fenomena sosial dibandingkan menciptakan fenomena tersebut. Untuk itu dibutuhkan upaya dan ketekunan untuk menciptakan media Islam online dari rahim kampus.
Dakwah Pos dengan alamat online dakwahpos.com mencoba menjadi alternatif bagi media dakwah Islam dalam konteks media jurnalisme. Dengan mengusung jurnalisme profetik diharapkan dakwah pos menjadi media Islam damai yang jauh dari tuduhan media provokasi sebagaimana yang dialami oleh beberapa media Islam online lainnya sekaligus menjadi kawah candradimuka bagi para calon jurnalis dalam mengasah kemampuan menulis mereka.
Dengan media online baru ini diharapkan mahasiswa UIN Bandung, khususnya jurusan KPI memiliki wadah dalam memproduksi informasi dari, oleh dan untuk umat islam  Berbagai informasi dakwah dari lembaga-lembaga keislaman seputar kampus yang biasanya luput dari liputan media bisa terwadahi melalui media Dakwah pos ini. Dengan demikian perkembangan kegiatan dakwah Islam yang aktual bisa lebih mudah  diakses oleh umat Islam dan juga menjadi inspirasi bagi umat untuk terus berkembang. Semoga.
Penulis : Dr. Uwes Fatoni, Pimred Dakwah Pos, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos