Ustaz Ajak Jamaah Prioritaskan Belajar Al-Qur’an, Kesibukan Dunia Dinilai Bukan Alasan

Klik untuk membaca artikel.

 

Dakwahpos.com, Bandung — Ustaz Asep Ahmad Murabi mengajak jamaah untuk mengutamakan belajar Al-Qur’an dalam kajian tahsin yang digelar di masjid, karena kesibukan dunia dan hawa nafsu kerap membuat orang enggan mengaji. Pesan itu disampaikan melalui ceramah dan latihan membaca bersama yang diikuti jamaah sebelum salat Isya. ahad (18/10/2026)

Dalam ceramahnya, ustaz menyebut bahwa setiap orang memiliki waktu 24 jam sehari. Waktu itu, menurutnya, dapat dibagi tiga: delapan jam untuk istirahat, delapan jam untuk bekerja, dan delapan jam untuk ibadah. Dengan pembagian tersebut, ia menilai kesibukan tidak bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan Al-Qur’an.

“Karena tidak ada alasan di akhirat. Kenapa tidak mau mengaji? Sibuk. Tidak ada alasan,” ujar ustaz di hadapan jamaah.

Ustaz menjelaskan bahwa penyebab manusia enggan mengaji adalah kecenderungan kepada dunia dan hawa nafsu, merujuk Surah Al-A’raf ayat 176. Ia menambahkan, seseorang cenderung mengutamakan hal yang lebih dicintainya. Karena itu, kecintaan kepada dunia akan membuat seseorang meninggalkan hal lain, termasuk Al-Qur’an.

Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan lima kewajiban terhadap Al-Qur’an, yaitu membaca, mempelajari, memahami, mengamalkan, dan menyiarkannya. Ia juga menekankan adab membaca Al-Qur’an, dimulai dengan membaca ta’awudz sesuai Surah An-Nahl ayat 98. Menurutnya, setan berupaya menjauhkan manusia dari Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-A’raf ayat 16 dan Surah Yasin ayat 62. Ia mencontohkan, banyak orang tahan berjam-jam bermain ponsel, tetapi cepat mengantuk saat membaca Al-Qur’an.

Ustaz juga menegaskan pentingnya ilmu dalam membaca Al-Qur’an. Jamaah perlu memahami tempat keluarnya huruf (makhraj) dan sifat huruf agar bacaan benar. Ia mengibaratkannya dengan membuat kue yang tidak akan enak jika tidak memakai takaran dan ilmu.

“Baca Al-Qur’an juga harus dengan ilmu, tidak asal bunyi,” tegasnya ustaz dalam ceramah.

Setelah ceramah, kegiatan dilanjutkan dengan praktik. Jamaah mempelajari lima tempat keluarnya huruf, yakni tenggorokan, lidah, dua bibir, rongga mulut, dan rongga hidung. Latihan difokuskan pada huruf ra, yang keluar dari ujung lidah bertemu langit-langit depan dan diucapkan dengan getaran ujung lidah (takrir) tanpa melibatkan bibir. Jamaah juga berlatih irama nahawand dengan pola naik, datar, dan turun, mulai dari ta’awudz, basmalah, dan Al-Fatihah, lalu dilanjutkan membaca Surah Al-Buruj ayat 7 sampai 9. Dalam latihan itu, mereka juga diperkenalkan pada hukum bacaan mad thabi’i, mad shilah, dan ikhfa.

Di akhir acara, ustaz berpesan agar jamaah istikamah berlatih. Ia mengutip sabda Nabi bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang rutin dilakukan, meski sedikit. Panitia kemudian membuka sesi talaqi, yaitu tes bacaan Al-Qur’an, setelah salat Isya bagi jamaah yang ingin menguji bacaannya.

 

Reporter: M Hari Novandra, KPI 3/A

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos