Dakwahpos.com,
Bandung – Ustadz Zaenal menjelaskan makna muraqabah, yaitu kesadaran hati bahwa
Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya, dalam pengajian rutin di Masjid
Al-Mu'minun, Baleendah, Kabupaten Bandung, Sabtu (19/9/2026). Di hadapan
jamaah, ia juga mengajarkan cara menumbuhkan perasaan diawasi Allah dalam
setiap gerak dan diam.
Dalam
ceramahnya, Ustadz Zaenal melanjutkan materi pekan sebelumnya tentang
kewajiban. Ia menerangkan bahwa sebagian kewajiban dikerjakan oleh anggota
badan, sedangkan sebagian lainnya dikerjakan oleh hati. Karena hati bersifat
batiniah dan tidak terlihat mata, kewajiban ini kerap luput dari perhatian.
Menurutnya, urusan lahir dan batin sama-sama harus diurus, dan keduanya
memiliki ilmunya masing-masing.
Salah
satu kewajiban hati yang ia bahas adalah muraqabah. Secara bahasa, muraqabah
berarti terus-menerus memperhatikan sesuatu yang dituju. Secara istilah dalam
ilmu tasawuf, muraqabah adalah terus-menerus memandang Allah dengan mata hati.
"Terus-menerus" berarti tidak putus, baik saat bergerak, diam,
memandang, maupun ketika pikiran melintas di kepala. Untuk memudahkan, ia
mencontohkan hati yang selalu tertuju pada sesuatu yang membuat seseorang
terkesan tanpa henti. Arah hati seperti itulah yang seharusnya tertuju kepada
Allah.
Ia
menegaskan bahwa muraqabah dilakukan dengan mata hati, bukan mata kepala. Mata
kepala digunakan untuk melihat ciptaan Allah, seperti langit, gunung, bumi, dan
hujan. Dari situ, hati diajak menyadari kekuasaan Sang Pencipta. Saat hujan
turun, misalnya, seorang yang bermuraqabah langsung sadar bahwa hujan hanya
turun atas kehendak Allah. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, tetapi tidak
mampu menurunkan atau menahan hujan yang sesungguhnya.
Menurut
Ustadz Zaenal, kemampuan bermuraqabah bergantung pada makrifatullah, yaitu
mengenal Allah. Pengenalan itu mencakup sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya,
janji-Nya berupa pahala, dan ancaman-Nya berupa siksa. Karena itu ia menekankan
pentingnya belajar ilmu tauhid dan akidah. Ia mengibaratkannya dengan upaya
mengingat kematian. Orang yang hatinya masih tertambat pada dunia sulit
mengingat mati, sedangkan orang yang terus mengaji dan mendalami ilmu akhirat
akan lebih mudah mengingatnya.
Ia
juga mengingatkan agar rajin mengaji dan beribadah tidak membuat seseorang
merasa aman dan lalai. Rasa takut setelah berbuat dosa, katanya, adalah tanda
iman masih hidup.
Ustadz
Zaenal menyebut muraqabah membuahkan dua hal. Pertama, husnul adab atau akhlak
yang baik, terutama adab kepada Allah. Orang yang yakin selalu diawasi Allah
tidak berani berbohong, bersumpah palsu, atau bermain-main dengan dosa.
Baginya, meninggalkan salat termasuk pelanggaran adab yang besar kepada Allah.
Kedua, keselamatan dari beratnya hisab pada hari kiamat, karena hati orang yang
bermuraqabah tidak lagi terikat pada urusan dunia.
Dalam
kesempatan itu ia turut mengingatkan jamaah yang telah rutin salat dan mengaji
agar tidak merendahkan orang lain yang belum melaksanakannya. Menurutnya,
mereka perlu memperbaiki akhlak di rumah dan kepada tetangga serta menasihati
dengan sabar. Ia juga menolak ungkapan "percuma salat". Salat yang
didirikan dengan benar seharusnya membawa perubahan positif, seperti hati yang
tenang dan akhlak yang baik. Bila belum terasa, jalan keluarnya adalah menambah
ilmu agar kualitas salat meningkat.
Sebagai
dasar kewajiban muraqabah, ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an bahwa Allah
Maha Mengawasi segala sesuatu. Ia juga mengutip hadis Jibril tentang ihsan,
yakni beribadah seolah-olah melihat Allah. Jika belum mampu merasa melihat-Nya,
seseorang harus yakin bahwa Allah melihatnya. Menurutnya, inilah inti
muraqabah.
Pengajian
ditutup dengan pesan agar jamaah menjaga kesadaran itu dalam kehidupan
sehari-hari, sehingga ibadah dan akhlak terus meningkat hingga akhir hayat
dalam keadaan iman, Islam, dan ihsan.
Reporter:
Azmi Dwi Lestari
Lokasi
Liputan: Masjid Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung
Tanggal
Liputan: 19 September 2026
.png)
Tidak ada komentar
Posting Komentar