Dakwahpos.com, Ngamprah- Ustaz Ferry Agung H, SE mengajak jemaah Masjid Al-Huda untuk melakukan introspeksi diri terkait maraknya bencana kerusakan lingkungan hidup. Pesan tersebut disampaikan secara tegas dalam pelaksanaan khutbah Jumat di Komplek Permata Cimahi, Ngamprah (23/10/2026).
Dalam khutbahnya, ia mengutip Surat Ar-Rum ayat 41 yang menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut murni disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Ayat ini menjadi teguran keras agar umat manusia tidak sekadar menyalahkan keadaan alam atau musim kemarau semata.
Ustaz Ferry menyoroti secara khusus fenomena kebakaran hutan akibat pembukaan lahan yang dilakukan secara serampangan. Menurutnya, tindakan tidak bertanggung jawab seperti membuang puntung rokok sembarangan di lahan kering juga berpotensi memicu bencana alam berskala besar.
Ia menegaskan bahwa di balik kebakaran fisik yang terlihat oleh mata, terdapat api ketamakan yang lebih berbahaya di dalam hati para oknum perusak. Keuntungan materi sesaat yang mereka kejar justru mengorbankan ribuan keluarga yang terpaksa menghirup asap beracun.
"Di saat seseorang merusak lingkungan demi keuntungan sesaat, saat itulah kepentingan pribadi telah memakan tanggung jawab sosial," tegas Ustaz Ferry dalam penyampaian khutbahnya. Ia menyebut tindakan zhalim tersebut bukan hanya merusak alam raya, melainkan juga menghancurkan akhlak pelakunya.
Lebih lanjut, khatib mengingatkan kembali amanah fundamental manusia sebagai pemakmur bumi sebagaimana tercantum dalam Surat Hud ayat 61. Hutan dan alam raya bukanlah warisan yang boleh dihabiskan sesuka hati, melainkan titipan yang keseimbangan ekosistemnya harus senantiasa dirawat.
Oleh karena itu, upaya pelestarian lingkungan tidak boleh hanya dibebankan kepada pemerintah pusat atau petugas pemadam kebakaran semata. Setiap individu di masyarakat memikul tanggung jawab pelestarian yang sama besarnya, sesuai dengan peran dan kapasitasnya masing-masing.
Ustaz Ferry kemudian mengutip hadis Rasulullah yang memerintahkan umat Islam untuk tetap menanam bibit pohon sekalipun hari kiamat terjadi esok hari. Ajaran agung ini membuktikan betapa Islam sangat memprioritaskan tindakan nyata dan progresif dalam menjaga kelestarian bumi.
Para jemaah pun diimbau untuk tidak menunggu hingga sumber mata air mengering atau anak cucu kesulitan bernapas baru mulai peduli. Aksi kepedulian terhadap bumi harus diwujudkan sejak dini agar para generasi penerus tetap dapat menikmati kualitas kehidupan yang sehat.
Sebagai penutup, ia berpesan bahwa hamba yang senantiasa menyayangi makhluk di muka bumi niscaya akan disayangi oleh Sang Pencipta di langit. "Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah diciptakan dengan baik dan damai," pungkasnya.
Reporter: Muhammad Darrel Atharafi, KPI/3C

Tidak ada komentar
Posting Komentar