Ustad Ade: Kajian Tafsir Al-An’am Ayat 47 – 50, Menjelaskan Siksa bagi Kaum Zalim, Tugas Para Rasul, hingga Perumpamaan Orang Buta dan Melihat

Klik untuk membaca artikel.


 Dakwahpos.com, Bandung – Ustad Ade mengingatkan jamaah bahwa azab Allah dapat datang kapan saja, baik secara mendadak maupun dengan tanda-tanda yang jelas. Pesan itu disampaikannya dalam pengajian di Masjid Al-Mu’minun, Baleendah, Bandung, Minggu (11/10/2026).

Dalam ceramah berbahasa Sunda tersebut, Ustad Ade mengkaji QS. Al-An’am ayat 47 sampai 50. Ayat-ayat itu dibacakan beserta terjemahannya, kemudian dijelaskan satu per satu kepada jamaah.

Menurutnya, ayat 47 memerintahkan Nabi Muhammad bertanya kepada kaum Mekah tentang kemungkinan datangnya azab Allah. Azab itu bisa datang tiba-tiba (baghtatan), misalnya saat orang sedang santai atau mengobrol, seperti longsor ketika hujan yang menimpa rumah dan penghuninya. Azab juga bisa datang terang-terangan (jahratan), yaitu dengan tanda-tanda sehingga bisa diperkirakan. Ia mencontohkan hujan angin disertai petir yang sangat berbahaya.

Ustad Ade menjelaskan bahwa yang dibinasakan hanyalah kaum zalim. Sebelum menurunkan azab di suatu daerah, kata dia, Allah lebih dahulu memisahkan orang beriman dari yang tidak beriman. Ia mencontohkan kisah Nabi Luth, yang bersama orang-orang beriman diperintahkan keluar dari daerahnya menjelang subuh dengan didampingi malaikat Jibril. Jika orang beriman ikut terkena bencana, hal itu disebut musibah dan Allah akan menggantinya dengan pahala yang besar.

Pada ayat 48 dan 49, ia menyampaikan bahwa para rasul diutus sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Orang yang beriman dan beramal saleh tidak akan merasa takut maupun bersedih. Sebaliknya, pendusta ayat-ayat Allah, yakni Al-Qur’an dan hadis, akan ditimpa azab karena kefasikannya.

Pada ayat 50, Ustad Ade menegaskan bahwa Nabi tidak pernah mengaku memiliki perbendaharaan Allah. Rezeki sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Nabi juga tidak mengetahui perkara gaib kecuali yang diwahyukan kepadanya, dan beliau bukan malaikat. Orang kafir diibaratkan orang buta yang tidak melihat jalan yang benar, sedangkan orang beriman diibaratkan orang yang melihat sehingga besar harapannya selamat.

Menutup ceramahnya, Ustad Ade mengajak jamaah untuk bertafakur dan merenungi ayat-ayat tersebut. Ia berharap keimanan jamaah tumbuh dari pemikiran dan kesadaran, bukan sekadar ikut-ikutan.

 

Reporter: Azmi Dwi Lestari

Lokasi Liputan: Masjid Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung

Tanggal Liputan: 11 Oktober 2026

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos