Dakwahpos.com, Bandung— Kegiatan tahlilan untuk mengenang almarhum KH. Adang Abdul Kudus Bin Mama KH. Abdul Fatah dihadiri banyak warga di Pondok Pesantren Sukahurip, RT 01 RW 01, Desa Cikancung, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung. Almarhum yang wafat pada 10 Oktober 2026 dikenang atas jasa dan kebaikannya, terutama dalam mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.
KH. Adang Abdul Kudus biasa dipanggil dengan sebutan “Abah Haji” dikenal sebagai sesepuh pondok pesantren yang memiliki kepribadian baik dan ramah kepada berbagai kalangan. Sosoknya meninggalkan kesan bagi orang-orang yang pernah mengenal dan menimba ilmu darinya.
Seorang jemaah lama yang rutin mengikuti pengajian mengungkapkan bahwa salah satu kontribusi almarhum yang paling diingat ialah pengajaran ilmu tajwid. Ilmu tersebut diajarkan untuk membantu jemaah membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah tajwid.
Menurut narasumber, kehadiran masyarakat dalam kegiatan tahlilan merupakan bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih atas jasa almarhum semasa hidupnya. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bersama-sama mendoakan sosok guru yang telah memberikan banyak manfaat melalui ilmu agama.
Tidak hanya melalui keilmuannya, KH. Adang Abdul Kudus juga dikenang karena sikap tawadhu dan keramahannya. Narasumber menuturkan bahwa almarhum tidak membeda-bedakan orang berdasarkan kedudukan, baik terhadap orang yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Sikap tersebut menjadi salah satu keteladanan yang dapat diambil oleh generasi muda.
Jasa dan kebaikan KH. Adang Abdul Kudus, khususnya dalam mengajarkan ilmu tajwid serta menunjukkan sikap rendah hati dan ramah kepada sesama, menjadi hal yang dikenang oleh masyarakat yang mengenal beliau semasa hidupnya.
Reporter: Agnia Agustina, KPI 3C
KH. Adang Abdul Kudus biasa dipanggil dengan sebutan “Abah Haji” dikenal sebagai sesepuh pondok pesantren yang memiliki kepribadian baik dan ramah kepada berbagai kalangan. Sosoknya meninggalkan kesan bagi orang-orang yang pernah mengenal dan menimba ilmu darinya.
Seorang jemaah lama yang rutin mengikuti pengajian mengungkapkan bahwa salah satu kontribusi almarhum yang paling diingat ialah pengajaran ilmu tajwid. Ilmu tersebut diajarkan untuk membantu jemaah membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah tajwid.
Menurut narasumber, kehadiran masyarakat dalam kegiatan tahlilan merupakan bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih atas jasa almarhum semasa hidupnya. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bersama-sama mendoakan sosok guru yang telah memberikan banyak manfaat melalui ilmu agama.
Tidak hanya melalui keilmuannya, KH. Adang Abdul Kudus juga dikenang karena sikap tawadhu dan keramahannya. Narasumber menuturkan bahwa almarhum tidak membeda-bedakan orang berdasarkan kedudukan, baik terhadap orang yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Sikap tersebut menjadi salah satu keteladanan yang dapat diambil oleh generasi muda.
Jasa dan kebaikan KH. Adang Abdul Kudus, khususnya dalam mengajarkan ilmu tajwid serta menunjukkan sikap rendah hati dan ramah kepada sesama, menjadi hal yang dikenang oleh masyarakat yang mengenal beliau semasa hidupnya.
Reporter: Agnia Agustina, KPI 3C

Tidak ada komentar
Posting Komentar