Khatib Ajak Jama’ah Hadirkan Kesadaran dan Keikhlasan dalam Setiap Amal

Klik untuk membaca artikel.


Dakwahpos.com, Bandung – Jumat, 2 Oktober 2026 — Khatib mengajak jamaah untuk senantiasa menghadirkan kesadaran dan keikhlasan dalam setiap amal yang dilakukan. Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat yang mengangkat pentingnya meluruskan niat, menjaga hati, serta menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam setiap kebaikan.

Dalam khutbahnya, khatib mengingatkan bahwa kehidupan yang semakin cepat membuat manusia sering berpindah dari satu kesibukan ke kesibukan lainnya, mulai dari bekerja, belajar, mengurus keluarga, menggunakan media sosial hingga menjalankan ibadah. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang melakukan berbagai aktivitas secara rutin tanpa benar-benar menghadirkan hati dan kesadaran di dalamnya. Karena itu, setiap Muslim perlu melakukan introspeksi dengan menanyakan kepada diri sendiri mengapa dan untuk siapa suatu amal dilakukan.

“Kita perlu menyadari apa yang sedang kita kerjakan, memperhatikan dan menjaga keadaan hati, serta senantiasa mengingat bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala melihat dan mengetahui setiap amal yang kita lakukan,” ujar khatib dalam khutbahnya.

Khatib juga menekankan bahwa kesadaran dalam beramal harus disertai dengan keikhlasan. Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Bayyinah ayat 5 yang memerintahkan manusia untuk beribadah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ikhlas berarti mengarahkan amal hanya untuk memperoleh ridha Allah, bukan menjadikan pujian, penghargaan, maupun pengakuan manusia sebagai tujuan utama.

Di tengah perkembangan media sosial, pesan tentang menjaga keikhlasan dinilai semakin relevan. Berbagai kebaikan kini mudah didokumentasikan dan dibagikan kepada publik. Namun, khatib mengingatkan bahwa mendokumentasikan amal tidak selalu berarti riya, begitu pula menerima pujian tidak secara otomatis menunjukkan seseorang tidak ikhlas. Hal terpenting adalah menjaga hati agar penilaian manusia tidak mengambil tempat yang seharusnya hanya menjadi milik Allah.

Sebagai penguat, khatib menyampaikan kisah sahabat Ma’an bin Yazid yang diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari. Ayahnya, Yazid, pernah mengeluarkan sejumlah dinar untuk disedekahkan. Namun, sedekah tersebut justru diterima oleh Ma’an, anaknya sendiri. Ketika persoalan tersebut disampaikan kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Laka ma nawaita ya Yazid, wa laka ma akhadhta ya Ma’an,” yang berarti, “Wahai Yazid, engkau mendapatkan apa yang engkau niatkan, dan wahai Ma’an, engkau mendapatkan apa yang engkau ambil.”

Kisah tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah amal tidak hanya dilihat dari hasil yang tampak, tetapi juga dari niat yang tersimpan di dalam hati. Seorang Muslim tidak perlu menjadikan pengakuan manusia sebagai ukuran utama atas kebaikan yang dilakukannya. Sebab, Allah SWT mengetahui setiap amal, termasuk kebaikan yang tidak diketahui oleh siapa pun.

Melalui khutbah tersebut, jamaah diajak untuk meluruskan niat sebelum beramal, menjaga keikhlasan ketika melaksanakannya, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dengan menghadirkan kesadaran dan keikhlasan, setiap aktivitas kehidupan dapat menjadi amal kebaikan yang bernilai di sisi-Nya.

Reporter : Yulestri Melda Enjelina, KPI/3D

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos