Dakwahpos.com,
Bandung – Agenda rutin Yasinan jemaah Masjid
Al-Muhyidin pada Kamis, 10 September 2026, urung dilaksanakan. Keputusan
tak terduga ini terjadi secara spontan lantaran qadarullah, terdapat salah satu
warga setempat yang wafat bertepatan dengan waktu pelaksanaan kegiatan rutin
mingguan tersebut.
Biasanya, sore hingga malam di hari Kamis
identik dengan antusiasme warga mempersiapkan diri menuju masjid. Namun,
suasana hari itu berubah drastis. Pembatalan agenda keagamaan ini terjadi murni
tanpa adanya pengumuman formal dari pihak pengurus masjid maupun tokoh
setempat. Bahkan, tidak ada seruan darurat terkait kabar duka yang disiarkan
secara resmi pada saat itu.
Meski minim instruksi, kabar dari mulut
ke mulut terbukti langsung tersiar cepat. Rasa simpati dan tenggang rasa yang
tinggi seketika menggerakkan hati para jemaah. Warga secara naluriah sangat
paham akan skala prioritas dalam adab bermasyarakat, sehingga mereka sepakat
untuk menunda rutinitas Yasinan di masjid. Fokus warga pun serentak beralih,
terlihat dari banyaknya jemaah yang langsung berbondong-bondong berjalan menuju
rumah duka.
Langkah spontanitas jemaah ini sekaligus
mempraktikkan langsung ajaran agama terkait fardu kifayah, yakni kewajiban
mengurus jenazah dan menghibur keluarga yang ditinggalkan. Warga rela
menyisihkan kebiasaan kumpul mingguan mereka demi hadir secara fisik untuk
saling menguatkan keluarga yang tengah dirundung kesedihan mendalam.
Fenomena ini menjadi potret nyata
tingginya kepedulian sosial dan solidaritas di lingkungan [Nama Tempat/Daerah].
Mengesampingkan sejenak agenda rutin demi berfokus pada keluarga yang tertimpa
musibah membuktikan bahwa ikatan persaudaraan warga setempat tidak hanya
sekadar sebatas rutinitas ibadah bersama, tetapi benar-benar hidup dalam
keseharian.
Reporter: Dea Siva Nursabila/KPI 3A

Tidak ada komentar
Posting Komentar