Ustaz Ujang: Peringati Maulid Nabi dengan Landasan Syariat, Ekspresi Kebahagiaan, dan Hikmah Meneladani

Klik untuk membaca artikel.

 

Dakwahpos.com, Bandung - Memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk rasa syukur atas rahmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia. Dalam khutbah Jumat yang disampaikan di Masjid Jami At-Taufiq, Cicalengka, pada Jumat (11/09/2026), khatib Ustaz Ujang menegaskan bahwa landasan utama peringatan kelahiran Rasulullah SAW bersumber dari ajaran Al-Qur'an dan Sunnah, serta menjadi momentum penting untuk memperbanyak amal saleh dan menguatkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Dalam materi khutbahnya, Ustaz Ujang menjelaskan bahwa dasar utama memperingati Maulid Nabi merujuk pada Surat Yunus ayat 58. Berdasarkan penafsiran para ulama, anugerah (fadhil) terbesar dari Allah SWT adalah diturunkannya Al-Qur'an, sedangkan rahmat terbesar bagi semesta alam adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menyambut dan mengekspresikan kebahagiaan atas kelahiran Rasulullah SAW melalui berbagai cara yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Ustaz Ujang juga memaparkan dasar Sunnah terkait peringatan hari kelahiran. Dalam khutbahnya, ia menyebutkan kebiasaan Rasulullah SAW yang senantiasa berpuasa pada hari Senin. Ketika ditanya oleh para sahabat, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hari Senin merupakan hari kelahirannya sekaligus hari pertama Al-Qur'an diturunkan. Hal ini menunjukkan bentuk rasa syukur Rasulullah SAW atas nikmat kelahirannya yang diwujudkan melalui ibadah dan amal saleh.
Lebih lanjut, dalam khutbah dipaparkan empat hikmah utama memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW:
Motivasi Memperbanyak Shalawat: Peringatan ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk senantiasa bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an. Khatib menerangkan bahwa shalawat dari Allah bermakna penurunan rahmat dan keberkahan, sementara shalawat dari umat manusia adalah doa. Setiap satu shalawat yang diucapkan umatnya akan dibalas Allah SWT dengan sepuluh kali keberkahan.

Besarnya Pahala Gembira atas Kelahiran Rasulullah: Kebahagiaan atas lahirnya Nabi Muhammad SAW memiliki keutamaan dan pahala yang besar. Dalam khutbah dicontohkan kisah Abu Lahab yang diringankan siksanya setiap hari Senin hanya karena pernah merasa gembira dan memerdekakan budaknya saat Nabi lahir. Bagi umat Islam yang beriman, ekspresi kebahagiaan tersebut tentu bernilai pahala yang jauh lebih besar.
Meneguhkan Kecintaan kepada Rasulullah: Momentum Maulid Nabi dimanfaatkan untuk mempertebal rasa cinta kepada Rasulullah SAW, yang tempatnya berada di posisi utama setelah kecintaan kepada Allah SWT.

Menghadirkan Suri Teladan (Uswatun Hasanah): Peringatan ini menjadi ikhtiar untuk meneladani seluruh aspek kehidupan Rasulullah SAW, baik dalam ibadah mahdhah, ghairu mahdhah, maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sebagai penutup khutbah, Ustaz Ujang mengingatkan seluruh jamaah untuk senantiasa berpegang teguh pada dua peninggalan paling berharga yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah. Dengan menjadikan keduanya sebagai pedoman hidup, umat Islam dijamin tidak akan tersesat dalam mengarungi kehidupan.

Reporter: Muhammad Ghatfan Irham, KPI 3/A

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos