Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al-Wafa, Cibiru Hilir, Kecamatan Cileunyi kembali menggelar kultum subuh rutin pada Sabtu (12/9/2026), kali ini mengusung tema "Makna dan Jiwa Kesantrian Sejati". Acara ini dihadiri masyarakat umum, tokoh masyarakat, dan pemuda sekitar.
Di hadapan jemaah, Ustaz Jalaluddin mengajak untuk memaknai ulang kata "santri" secara lebih mendalam. Menurutnya, istilah tersebut kerap dipahami secara sempit, hanya sebatas status biografis semacam tinggal di pesantren, memakai sarung, atau membawa kitab kuning.
"Hakikatnya, santri adalah gambaran dari identitas spiritual dan intelektual," ujarnya.
Siapa pun yang menuntut ilmu, menjaga adab, dan berkomitmen bertakwa kepada Allah SWT, kata dia, layak disebut santri, di mana pun berada. Jiwa kesantrian, tegasnya, tidak semestinya padam hanya karena seseorang sudah lulus dari pondok pesantren.
Ustaz Jalaluddin lantas mengutip hadis Rasulullah SAW soal tiga pilar yang berkaitan dengan santri dan takwa. Salah satunya, menuntut ilmu mesti dilandasi niat semata-mata meraih rida Allah, bukan demi popularitas.
Referensi lain yang ia sampaikan adalah Kitab Ta'lim al-Muta'allim karya Imam Az-Zarnuji. Kitab tersebut menegaskan bahwa esensi belajar bukan sekadar hafalan atau kepandaian berbicara, melainkan adab dan ketakwaan. "Tanpa takwa, ilmu hanya akan melahirkan kesombongan intelektual," ungkapnya.
Ada tiga manifestasi jiwa santri yang bertakwa menurut penjelasannya, yaitu tawaduk dalam keilmuan, istiqomah dalam ibadah, dan integritas di tengah masyarakat. Istiqomah ia contohkan lewat kedisiplinan bangun sebelum subuh serta menjaga shalat berjemaah, meski tanpa pengawasan kiai atau ustaz.
Kultum ditutup dengan ajakan untuk merenung, apakah jiwa kesantrian dan ketakwaan masih hidup dalam cara berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan sehari-hari, bukan sekadar soal status atau gelar.
Reyhan, salah satu jemaah yang hadir, mengaku pesan tersebut cukup membekas baginya. "Menjadi santri berarti terus menjaga ilmu, adab, dan ketakwaan di mana pun berada," ucapnya.
Kultum subuh ini merupakan agenda rutin Masjid Al-Wafa yang diikuti masyarakat, termasuk tokoh masyarakat dan pemuda sekitar, sebagai sarana pembinaan spiritual di pagi hari.
Reporter: Salman Al Farisi, KPI 3-C

Tidak ada komentar
Posting Komentar