Ustadzah Ai Nurjanah menyampaikan kajian tentang hakikat sabar dan syukur di Masjid At-Taufiq, Pasirbiru, pada Sabtu, 19 September. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak memahami bahwa sabar dan syukur merupakan dua sikap yang saling berkaitan dalam kehidupan seorang Muslim, baik ketika kita sedang menerima nikmat ataupun saat kita sedang menghadapi cobaan.
Ustadzah Ai Nurjanah menjelaskan bahwa seseorang yang bersyukur tidak berarti akan terbebas dari cobaan dalam kehidupannya. “Orang yang bersyukur ketika berada di tempat cobaan, pasti tidak akan kosong dari cobaan,” tuturnya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa cobaan tetap menjadi bagian dari kehidupan, sehingga seorang Muslim perlu menghadapinya dengan kesabaran.
Kemudian, bagaimana hubungan antara sabar dan syukur dalam menghadapi keadaan yang berbeda? Ustadzah Ai Nurjanah memberikan contoh seseorang yang memperoleh nikmat penglihatan dari Allah SWT dan orang yang tidak dapat melihat. “Orang yang diberikan kedua mata dan dapat melihat akan bersyukur, sedangkan orang yang tidak dapat melihat harus bersabar,” jelasnya. Dari contoh tersebut, jamaah diajak memahami bahwa setiap keadaan memiliki bentuk pengabdian yang berbeda kepada Allah SWT.
Hubungan antara sabar dan syukur juga terlihat dari cara seseorang menerima nikmat maupun menghadapi kekurangan. Orang yang dapat melihat hendaknya bersyukur atas nikmat penglihatannya, sementara orang yang tidak dapat melihat hendaknya bersabar atas keadaannya. Ustadzah Ai Nurjanah menegaskan, “Pada hakikatnya, orang yang bersyukur adalah orang yang sabar, dan orang yang sabar pada hakikatnya juga merupakan orang yang bersyukur.”
Selain itu, syukur tidak hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga dengan mengagungkan Allah SWT sebagai pemberi nikmat. “Bersyukur berarti mengagungkan Allah yang telah memberikan nikmat kepada kita,” ungkap Ustadzah Ai Nurjanah. Ia menjelaskan bahwa salah satu bentuk syukur adalah mampu menahan diri dari perbuatan maksiat sebagai bentuk penghormatan kepada Allah SWT.
Kesabaran juga menjadi bagian penting ketika seseorang menghadapi musibah, kesulitan, maupun keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ustadzah Ai Nurjanah mengatakan, “Orang yang sabar adalah orang yang mampu menahan dirinya dari mengeluh ketika menghadapi cobaan.” Dengan demikian, kesabaran bukan sekadar menerima keadaan, tetapi juga berusaha menahan diri agar tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Allah SWT
Pada akhirnya, sabar dan syukur merupakan dua sikap yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan seorang Muslim. Ustadzah Ai Nurjanah memberikan contoh “Ketika seseorang mampu menahan hawa nafsunya dan tetap melangkah untuk menuntut ilmu, maka itu merupakan bentuk syukur karena ia telah mengagungkan Allah sebagai pemberi nikmat,” jelasnya. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan Allah SWT, serta belajar bersabar ketika menghadapi cobaan dan kesulitan dalam kehidupan.
Reporter: Sevilla Aulia, KPI/3C

Tidak ada komentar
Posting Komentar