Dakwahpos.com, Bandung — Majelis taklim Masjid Baitul Mukmin Antapani Kidul kembali menggelar kajian subuh yang mengkaji tentang “Adab Agama”, Sabtu (26/9/2026). Kajian ini menghadirkan Ustaz Anwar Nuryamin yang memaparkan bahwa adab adalah intisari akhlak dan perhiasan paling berharga bagi manusia.
"Adab atau etika itu mahkota hidup. Karena itu, masyarakat yang maju sering disebut masyarakat yang beradab. Dalam Pancasila pun ada sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab," ujar Ustaz Anwar Nuryamin di hadapan jamaah.
Dalam kajian tersebut, Ustaz Anwar Nuryamin membahas kitab Adabud Dunya wad Din karya Imam al-Mawardi, ulama besar abad kelima Hijriah. Kitab itu terdiri atas lima bab, yaitu keutamaan akal dan kehinaan hawa nafsu, adab ilmu, adab agama, adab dunia, dan adab terhadap jiwa. Pada kesempatan ini ia menyampaikan bagian adab agama.
"Yang membedakan derajat manusia bukan jenis kelamin, keturunan, jabatan, atau status sosial, tetapi nilai ketakwaannya. Salah satu ciri orang bertakwa adalah caranya beradab kepada Allah, kepada sesama manusia, dan kepada lingkungan," tegasnya sambil merujuk Surah al-Hujurat ayat 13.
Ia menerangkan bahwa standar nilai kehidupan manusia bertumpu pada akal dan syariat. Sesuatu yang dinilai baik oleh keduanya disebut makruf, sedangkan yang dinilai buruk disebut munkar. Beban syariat hanya diberikan kepada orang yang akalnya sempurna, dan Allah tidak membebani seseorang di luar kesanggupannya. Ia juga menekankan bahwa Allah memerintahkan ibadah bukan karena butuh disembah, melainkan demi kemanfaatan manusia sendiri.
"Kita harus sangat bersyukur kalau diberi kemudahan beribadah. Nikmat ibadah jauh lebih besar dibandingkan nikmat Allah yang lain, sebab manfaat ibadah meliputi kemaslahatan dunia dan akhirat," Tegas Ustaz Anwar Nuryamin.
Ustaz Anwar Nuryamin kemudian memaparkan larangan agama yang secara garis besar terbagi lima. Larangan itu bertujuan menjaga jiwa dan akal, menjaga keharmonisan hubungan antarmanusia, menjaga keturunan, menjaga hak milik, serta menjaga kesucian agama. Ia mencontohkan larangan minuman keras, zina, mencuri, dan korupsi. Ia juga mengingatkan agar jamaah tetap beretika di media sosial meski sedang tidak menyukai seseorang.
"Di balik setiap larangan pasti ada nikmat dan karunia Allah yang sangat besar. Kalau seseorang sudah memahami hakikat keberagamaan seperti ini, masihkah orang berakal mencari-cari kesempatan untuk melakukan yang dilarang?" ujarnya.
Dalam sesi tanya jawab, ia menjelaskan hubungan adab dengan akhlak. Menurutnya, akhlak bersifat universal, misalnya kejujuran, sedangkan adab atau etika adalah ekspresi dari akhlak itu. Cara mengekspresikannya bisa berbeda antarbudaya dan bangsa, tetapi landasannya tetap sama.
Reporter : Nida Nurhanifa, KPI 3/D

Tidak ada komentar
Posting Komentar