Ustaz Abu Said: Dua Syarat Mutlak Mengambil Ilmu Agama dan Memilih Guru

Klik untuk membaca artikel.

 

 Dakwahpos.com, Bandung — Menuntut ilmu agama dan memilih sosok guru tidak boleh dilakukan secara sembarangan, melainkan harus memenuhi dua kriteria utama, yakni integritas agama (al-'adalah) dan ketelitian intelektual atau hafalan (adh-dhobt).

​Penegasan tersebut disampaikan oleh Ustaz Abu Said dalam kajian rutin yang berlangsung pada Senin 14 september malam di Masjid Jami' Al Hudhorie. Di hadapan para jemaah, beliau mengupas pentingnya sanad keilmuan serta metodologi seleksi periwayat hadis sebagai landasan menjaga kemurnian ajaran Islam.

​Ustaz Abu Said menjelaskan, kesalehan pribadi semata belum cukup untuk menjadikan seseorang rujukan dalam periwayatan ilmu jika tidak dibarengi dengan kualitas hafalan atau catatan yang kokoh. Sebaliknya, kecerdasan tanpa ketakwaan juga menjadi sebab tertolaknya riwayat. Mengutip nasihat ulama salaf Muhammad bin Sirin, beliau menegaskan bahwa ilmu adalah bagian dari agama, sehingga umat Islam wajib cermat meneliti dari siapa mereka mengambil ajaran tersebut.

​"Orang yang layak diambil ilmunya harus memenuhi dua syarat mutlak: al-'adalah atau kebaikan agamanya, dan adh-dhobt atau kekuatan serta keakuratan ilmunya. Jika cacat pada salah satunya, ilmunya tidak diambil," ujar Ustaz Abu Said di hadapan para jemaah.

​Dalam pemaparannya, beliau merinci beberapa faktor yang menggugurkan riwayat dari sisi agama, seperti kedustaan, tertuduh dusta, kefasikan, hingga penyimpangan pemikiran bidah. Sementara dari sisi kapasitas intelektual (adh-dhobt), riwayat dapat ditolak apabila perawi sering melakukan kekeliruan (fuhsyul ghalath), memiliki hafalan yang buruk (su'ul hifdz), kurang pemahaman, atau menyelisihi riwayat figur yang jauh lebih terpercaya (syadz).

​Selain membahas metodologi hadis, kajian interaktif yang diselingi tanya jawab dan evaluasi hafalan jemaah ini turut mengingatkan pentingnya bersikap bijak terhadap pemimpin, memperbanyak doa kebaikan untuk kemaslahatan umat, serta menjaga kebiasaan mencatat ilmu secara rapi dan terverifikasi.

Reporter: Jagat Maulana Muhamad/ KPI-3A


Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos