Dakwahpos.com, Soreang- Khutbah Jumat yang berlangsung di Masjid Besar Soreang, Jumat (18/9/2026), disampaikan oleh H. Heri Haris Marwadi, S.Pd.I., M.H. Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah terhadap perjalanan usia dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan usia yang diberikan Allah dengan memperbanyak amal saleh, meningkatkan ketakwaan, serta memperbaiki diri.
Dalam khutbahnya, H. Heri menjelaskan bahwa kehidupan manusia mengalami beberapa fase usia, mulai dari bayi, anak-anak, pemuda, dewasa hingga lanjut usia. Pertambahan usia seharusnya menjadi pengingat bagi setiap manusia untuk semakin dewasa dalam menjalani kehidupan dunia sekaligus mempersiapkan kehidupan akhirat.
“Setiap manusia memiliki jatah hidup di dunia yang pasti. Kedatangannya sangat mendadak dan tidak ada yang mengetahuinya,” ujar H. Heri dalam khutbahnya.
H. Heri juga mengingatkan jamaah mengenai makna memasuki usia 40 tahun. Menurutnya, usia tersebut merupakan fase ketika seseorang semakin matang dalam berpikir dan bertanggung jawab, sehingga seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah petunjuk kepadaku agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai,’” tuturnya.
Selain usia 40 tahun, H. Heri juga membahas kehidupan pada usia lanjut. Ia menyampaikan bahwa semakin panjang usia seseorang, semakin besar pula kesempatan yang diberikan Allah untuk memperbaiki kekurangan, memperbanyak ibadah, serta mendekatkan diri kepada-Nya.
“Semakin panjang umur kita seharusnya bukan semakin jauh dari Allah, akan tetapi semakin tua seharusnya semakin dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” katanya.
Menurut H. Heri, panjang umur bukan sekadar bertambahnya waktu hidup, melainkan bertambahnya kesempatan untuk melakukan kebaikan. Kesempatan tersebut dapat digunakan untuk bertobat, memperbaiki salat, membaca Al-Qur’an, meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti, menunaikan kewajiban, serta memperbanyak amal jariyah.
“Kalau hari ini kita masih diberi umur, itu bukan sekadar tambahan usia, itu adalah tambahan kesempatan,” ungkapnya.
H. Heri kemudian mengajak jamaah untuk menjadikan segala sesuatu yang dimiliki sebagai sarana beramal. Harta dapat digunakan untuk bersedekah, ilmu dapat diajarkan kepada orang lain, jabatan dapat digunakan untuk berkhidmah, sedangkan keluarga dapat dijadikan sebagai jalan menuju kebaikan dan surga.
“Kalau Allah memberi kita harta, jadikan sebagian sebagai sedekah. Kalau Allah memberi kita ilmu, ajarkan kepada orang lain. Kalau Allah memberi kita jabatan, gunakan untuk berkhidmah. Kalau Allah memberi kita keluarga, jadikan keluarga sebagai jalan menuju surga,” tuturnya.
Menjelang akhir khutbah, jamaah diajak untuk tidak hanya membawa pengetahuan dari khutbah, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. H. Heri mengingatkan agar setiap orang mulai memperbaiki salat, kembali membaca Al-Qur’an, belajar memaafkan, meminta maaf atas kesalahan kepada sesama, serta menyelesaikan amanah yang masih belum ditunaikan.
“Kita tidak tahu berapa Jumat lagi yang akan kita temui. Mungkin masih banyak, tetapi mungkin juga inilah Jumat terakhir kita,” tegasnya.
Khutbah ditutup dengan ajakan untuk mempersiapkan perjumpaan dengan
Allah Subhanahu wa Ta’ala. H. Heri mengingatkan jamaah bahwa tujuan hidup bukan
sekadar memiliki umur yang panjang, tetapi menjalani umur dengan penuh
keberkahan dan amal saleh hingga memperoleh husnul khatimah.
Reporter: Nauri Ramadhani Khoerunnisa, KPI/3C
Tidak ada komentar
Posting Komentar