KH Ali Ahmad Lili Kamal Jelaskan Tiga Makna Ujian

Klik untuk membaca artikel.


Dakwahpos.com, Majalengka- KH Ali Ahmad Lili Kamal menjelaskan bahwa musibah yang dialami manusia dapat memiliki makna yang berbeda sesuai dengan cara seseorang menerimanya. Hal tersebut disampaikan dalam kajian malam Kamis di Masjid Hidayah Baitul Kamal pada Rabu, 23 September 2026, ba’da Isya.

Dalam ceramahnya, ia menerangkan bahwa musibah tidak selalu berarti hukuman dari Allah SWT, tetapi dapat menjadi penghapus dosa maupun sarana peningkatan derajat seseorang apabila dihadapi dengan kesabaran dan keridaan. Karena itu, jamaah diajak untuk tidak hanya melihat musibah dari sisi kesulitan yang dirasakan, tetapi juga memahami bahwa setiap ketentuan Allah memiliki hikmah bagi kehidupan manusia.

KH Ali Ahmad Lili Kamal menjelaskan bahwa terdapat beberapa kemungkinan makna dari musibah yang menimpa seseorang. Menurutnya, ketika seseorang menghadapi musibah dengan marah, tidak menerima, dan tidak rida terhadap ketentuan Allah, musibah tersebut dapat menjadi bentuk hukuman bagi dirinya. Sebaliknya, apabila seseorang mampu bersabar dan menerima ujian tersebut dengan baik, musibah dapat menjadi kafarat atau penghapus dosa.

Sementara itu, apabila seseorang dapat menerima musibah dengan penuh keridaan kepada Allah, ujian tersebut dapat menjadi sarana peningkatan derajat dan kemuliaan di hadapan-Nya.

“Dimana musibah kena ka urang bari urang na ambek, maka eta musibah jadi siksaan ti Gusti Allah,” ujar KH Ali Ahmad Lili Kamal.

Ia kemudian memberikan contoh sederhana mengenai kesabaran dalam menghadapi ujian. Menurutnya, orang yang tetap menjalankan ibadah meskipun sedang mengalami kesulitan dapat dikatakan sedang belajar bersabar. Ia mencontohkan seseorang yang tetap melaksanakan tahajud, salat duha, maupun mengikuti kegiatan keagamaan meskipun sedang menghadapi rasa lelah atau kesulitan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesabaran bukan hanya tentang menahan keluhan, tetapi juga tetap menjalankan kewajiban kepada Allah ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan. 

KH Ali Ahmad Lili Kamal juga mengingatkan bahwa ujian kehidupan dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk persoalan ekonomi, keluarga, maupun kehidupan rumah tangga. Ia menyampaikan bahwa manusia tidak dapat menentukan seluruh keadaan sesuai dengan keinginannya karena kehidupan berada dalam ketentuan dan pengaturan Allah Swt. “Allah téh bakal nguji ka urang,” ungkapnya ketika menjelaskan bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari berbagai bentuk ujian. 

Dalam menghadapi ujian tersebut, ia mengingatkan jamaah agar membangun sikap sabar dan menyadari bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan kembali kepada Allah Swt. Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 155–156 mengenai ujian dan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, yang ketika tertimpa musibah mengucapkan “innalillahi wa inna ilaihi raji'un.” Menurutnya, ungkapan tersebut menunjukkan kesadaran bahwa manusia berasal dari Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

“Jalmi anu bakal sobar téh, idzaa ashoobat musibah qoolu innalillahi wa inna ilaihi roji'un,” imbuhnya. Ia menjelaskan bahwa kalimat tersebut bukan sekadar ucapan ketika seseorang mendapatkan musibah, tetapi juga menjadi bentuk kesadaran untuk menerima bahwa kehidupan manusia berada dalam pengaturan Allah Swt.

Melalui kajian tersebut, jamaah diajak untuk mengubah cara pandang terhadap musibah. Kesulitan yang datang tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang semata-mata buruk, karena cara seseorang menyikapinya dapat menentukan makna dari ujian tersebut. Dengan kesabaran, penerimaan, dan tetap menjalankan ibadah, musibah dapat menjadi kesempatan bagi seseorang untuk mendapatkan pengampunan dosa dan meningkatkan kedekatan kepada Allah Swt.

Reporter: Najma Nur Fajriyah Kamal, KPI/3C

 

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos