Dakwahpos.com, Bandung- Didorong oleh kecintaannya terhadap anak-anak, Umi Siti Mulyawati terus konsisten mendedikasikan dirinya untuk mengajar ngaji dan membentuk akhlak para murid di lingkungan Yayasan Madinatun Salam, Bumi Harapan, Cibiru pada Kamis (24/9/2026). Melalui ketelatenannya membiasakan praktik dasar ibadah sehari-hari sejak puluhan tahun silam, ajaran beliau ini sukses menanamkan nilai keislaman yang terus teringat kuat hingga murid-muridnya tumbuh dewasa.
Perjalanan panjang Umi Siti dalam mendidik anak-anak bermula sejak
tahun 1993 saat ia pertama kali turut merintis taman pendidikan Al-Qur'an di
kawasan Sarijadi. Pengabdiannya kemudian berlanjut ke kawasan Bumi Harapan
ketika ia mulai membina murid-murid di RA Anida pada tahun 2008, yang kini
bernaung di bawah Yayasan Madinatun Salam.
Meskipun harus menghadapi berbagai karakter anak dari masa ke masa, rasa sayangnya terhadap anak-anak menjadi penguat utama bagi Umi untuk terus bertahan. “Kalau misalnya lihat di jalan ada yang memperlakukan anak kurang baik, hati itu suka tersentuh, jadi memang ada rasa suka ke anak-anak,” ungkap Umi menceritakan motivasi pengabdiannya, Kamis (24/9/2026).
Walau penuh suka cita, Umi mengaku kerap menghadapi tantangan,
terutama dalam menyamakan pemahaman materi dasar fikih salat. Ia mencontohkan
seringnya terjadi perbedaan bacaan doa iftitah yang diajarkan di sekolah formal
dengan ajaran di tempat mengaji.
Tantangan lainnya adalah keterbatasan waktu belajar yang hanya satu jam serta kesibukan anak-anak saat mulai beranjak remaja. Oleh karena itu, Umi kini lebih menerapkan metode privat agar perkembangan hafalan dan adab setiap anak dapat dievaluasi secara maksimal.
Ke depannya, pendidik gigih ini berencana membuat sistem evaluasi
rutin berupa rapor tertulis bagi anak didiknya. Laporan tersebut nantinya tidak
sekadar formalitas, melainkan berisi uraian rinci mengenai perkembangan
kemampuan anak untuk diserahkan langsung kepada orang tua.
Selain sistem rapor, Umi juga memendam harapan besar untuk memiliki area belajar dan bermain yang lebih luas bagi para murid. "Umi senang kalau anak-anak itu lari-larian, senang daripada main ponsel," tambah Umi, Kamis (24/9/2026).
Dampak positif dari ketelatenan dan pembiasaan tersebut dirasakan langsung oleh Haira, salah satu mantan murid yang kini turut mendedikasikan diri membantu Umi mengajar. Ia membenarkan bahwa sosok Umi dikenal oleh warga sekitar sebagai pengajar gigih yang ilmu dasarnya selalu menempel di diri anak-anak.
"Itu terasa juga kayak ilmu-ilmu dasar saja sebenarnya, cuma itu membekas, setidaknya anak-anak di sekitar sini bisa ngaji atau tahu dasar ilmu keislaman," ungkap Haira, Kamis (24/9/2026).
Reporter: Farah Novita Maharani, KPI/3C

Tidak ada komentar
Posting Komentar