Tampilkan postingan dengan label Ar-Risalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ar-Risalah. Tampilkan semua postingan

Ustaz Nashruddin: Tetap Taat kepada Pemimpin Meski Zalim

 

Dakwahpos.com, Bandung — Ustaz Nashruddin menekankan pentingnya umat Islam tetap menjaga ketaatan kepada pemimpin meskipun menghadapi pemimpin yang zalim. Hal tersebut disampaikan dalam kajian hadis Riyadhus Shalihin tentang peringatan terhadap pemimpin yang zalim di Masjid Ar-Risalah, Astanaanyar pada Kamis (10/5).

Dalam kajian tersebut, Ustaz Nashruddin menjelaskan hadis riwayat Abu Hurairah tentang Bani Israil yang dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, kepemimpinan mereka dilanjutkan oleh nabi berikutnya. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan kekhususan yang diberikan Allah kepada Bani Israil.

Ia kemudian menjelaskan bagian hadis yang menyebutkan bahwa setelah Rasulullah SAW tidak akan ada lagi nabi, melainkan akan muncul para khalifah dalam jumlah yang banyak. Menurut Ustaz Nashruddin, kondisi tersebut menunjukkan bahwa umat Islam pada masa setelah Rasulullah SAW akan menghadapi kepemimpinan yang terpecah dalam berbagai wilayah.

Ustaz Nashruddin menyampaikan bahwa ketika terdapat banyak pemimpin, umat diperintahkan untuk memegang baiat kepada pemimpin yang pertama dan tetap memberikan haknya.

”Sempurnakan baiat yang pertama. Lalu berikan kepada mereka hak mereka dan mintalah kepada Allah hak kalian,” ujar Ustaz Nashruddin saat menjelaskan hadis tersebut.


Ia menegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin bukan berarti membenarkan kezaliman yang dilakukan. Menurutnya, persoalan kezaliman seorang pemimpin pada akhirnya merupakan urusan yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Dalam kajian tersebut, Ustaz Nashruddin juga mengingatkan agar umat tidak menjadikan politik sebagai pusat dari seluruh kehidupan. Ia mendorong masyarakat untuk tetap menjaga persatuan umat dan tidak mudah terpecah hanya karena perbedaan politik.

“Jangan terlalu banyak berharap pada pemerintah, berharap sama Allah saja,” katanya.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa Islam tetap mengajarkan umat untuk menyampaikan kebenaran kepada pemimpin. Ia mengutip hadis tentang keutamaan menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim sebagai bentuk keberanian dalam menasihati pemimpin.

Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan kisah sahabat Nabi, ‘Aidh bin ‘Amr, ketika mendatangi Ubaidullah bin Ziyad, seorang pemimpin yang dikenal zalim. Dalam kisah tersebut, ‘Aidh bin ‘Amr tetap memberikan nasihat meskipun berhadapan dengan seorang penguasa.

Menurut Ustaz Nashruddin, kisah tersebut menunjukkan bahwa para sahabat tidak berhenti mengingatkan pemimpin. Nasihat dapat disampaikan dengan mempertimbangkan momentum dan maslahat, tetapi tidak seharusnya membuat seseorang menjadi penjilat atau memilih diam terhadap kesalahan pemimpin.

Pada bagian akhir, Ustaz Nashruddin membahas hadis Abu Maryam al-Azdi yang memperingatkan pemimpin agar tidak mengabaikan kebutuhan, kesusahan, dan kemiskinan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat yang berada di bawah kewenangannya.

“Siapa yang Allah serahi sedikit kewenangan dari urusan kaum muslimin, kemudian dia menahan diri dan tidak peduli terhadap kebutuhan, kesusahan, dan kemiskinan mereka, maka Allah akan menahan diri darinya pada hari kiamat,” jelasnya.

Ia juga mencontohkan sikap Muawiyah yang setelah mendengar nasihat tersebut mengangkat seseorang untuk secara khusus menangani kebutuhan masyarakat. Menurutnya, hal itu menunjukkan pentingnya perhatian pemimpin terhadap kondisi rakyat.

Ustaz Nashruddin menutup kajian dengan kembali menekankan pentingnya menjaga persatuan umat, tetap menjalankan kewajiban sebagai rakyat, serta menyerahkan pertanggungjawaban pemimpin kepada Allah. 


Reporter: Mochamad Adriansyah, KPI 3A


Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos