Dakwahpos.com, Bandung-Dalam kehidupan seorang muslim, kerinduan mendalam untuk melompat bersama Allah Swt. merupakan puncak tertinggi dari pencapaian keimanan. Kerinduan ini tidak hanya disimpan dalam hati, tetapi juga menjadi dorongan utama untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan spiritual yang mendalam inilah yang disampaikan dalam khotbah salat Jumat di Masjid Al-Munawwarah Gedebage mengulas makna Surat Al-Kahfi ayat 110 pada Jumat (02/10/2026).
Dalam pembukaan khotbahnya, khatib mengingatkan seluruh jamaah untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan nilai keimanan serta ketakwaan. Setiap manusia diingatkan bahwa kehidupan duniawi bersifat sementara dan kelak semua ciptaan pasti akan kembali memenuhi panggilan ajal dari Sang Maha Kuasa.
Khatib menegaskan bahwa seluruh kekayaan, jabatan, serta keluarga yang dibanggakan di dunia tidak akan mampu menolong manusia saat berhadapan dengan Allah Swt. Satu-satunya bekal sejati yang akan setia mendampingi dan mengantarkan manusia menuju keselamatan di akhirat kelak hanyalah bekal iman dan takwa.
Lebih lanjut, khatib menjelaskan bahwa seorang mukmin sejati senantiasa terpaut hatinya kepada Allah SWT. Melalui ucapan syahadat dan zikir yang terucap sedikitnya sembilan kali dalam salat sehari-semalam, timbul rasa cinta dan kecintaan yang mendalam untuk bisa berjumpa langsung dengan Dzat Yang Maha Pencipta.
Menjawab pertanyaan apakah manusia mungkin berjumpa dengan Allah, khatib menjelaskan bahwa Allah Swt. Sendiri telah memberikan janji dan pedoman yang tertuang jelas di dalam Al-Qur'an Surat Al-Kahfi ayat 110. Janji tersebut memuat dua syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap hamba yang merindukan pertemuan dengan Rabb-nya.
Syarat pertama yang harus dipenuhi adalah beramal saleh secara menyeluruh. Khatib menguraikan bahwa amal saleh mencakup dua dimensi utama, yaitu huquuqullah (hak-hak Allah) seperti salat, puasa, zakat, dan haji, serta huquuqul adami (hak-hak sesama) dengan cara saling menolong, menjaga silaturahmi, dan tidak menzalimi orang lain.
Syarat kedua yang tidak kalah pentingnya adalah menjauhi segala bentuk perbuatan syirik, baik syirik besar maupun syirik kecil (khafi). Menurut khatib, menjaga diri dari syirik kecil membutuhkan kewaspadaan ekstra karena sering kali tidak disadari, seperti menggantungkan harapan dan keselamatan hidup sepenuhnya kepada sesama manusia.
Mengakhiri khotbahnya, khatib mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan ibadah salat Jumat sebagai momentum pembuktian amal saleh. Beliau mendoakan agar seluruh amal ibadah masyarakat diterima oleh Allah Swt. serta dimampukan untuk memelihara hubungan baik dengan Sang Pencipta (hablum minallah) dan sesama manusia (hablum minannas).
Reporter: Muhammad Zakky Al Khoeri, KPI/3C

Tidak ada komentar
Posting Komentar