Dakwahpos.com, Bandung - Khatib Jumat Dr. Mujyo Nurkholis, M.Ag. mengajak jamaah Masjid Rhadhatul Muttaqin Cibiru Wetan, Cileunyi, Bandung untuk menjaga lisan dan mengendalikan amarah ketika menghadapi kemaksiatan, berita, serta berbagai persoalan di tengah masyarakat. Ajakan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat pada Jumat, 18 September 2026, di Masjid Jami' Rhadhatul Muttaqin.
Melalui khutbahnya, Dr. Mujyo mengingatkan jamaah agar tidak terburu-buru berbicara atau memberikan tanggapan sebelum memahami suatu persoalan secara utuh. Dr. Mujyo menjelaskan bahwa kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari berbagai hal yang dapat memengaruhi perilaku manusia. Seseorang dapat melihat, mendengar, maupun mengetahui berbagai bentuk kejahatan dan kemaksiatan. Kondisi tersebut perlu disikapi dengan hati-hati agar seseorang tidak ikut terbawa kepada perkataan atau perbuatan yang tidak baik.
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam khutbah tersebut adalah ucapan manusia. Ketika dua orang bertemu dan berbicara, percakapan dapat membawa manfaat apabila digunakan untuk membicarakan hal-hal yang baik. Sebaliknya, percakapan juga dapat menjadi sumber keburukan apabila seseorang tidak mampu menjaga perkataannya.
Dr. Mujyo mengingatkan jamaah agar tidak menganggap ringan setiap ucapan yang keluar dari lisan. Perkataan yang disampaikan dalam keadaan biasa maupun ketika sedang terbawa emosi tetap perlu dipertimbangkan. Karena itu, umat Islam perlu membiasakan diri untuk berpikir sebelum berbicara dan menghindari ucapan yang dapat menimbulkan keburukan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan berbagai berita dan keadaan yang terjadi di tengah masyarakat. Munculnya suatu berita atau persoalan yang membuat masyarakat kecewa dan marah tidak seharusnya membuat seseorang langsung bereaksi tanpa mengetahui persoalan secara utuh.
Dalam keadaan seperti itu, seseorang mungkin hanya mengetahui sebagian informasi atau mendengar suatu peristiwa dari orang lain. Perasaan kesal dapat membuat seseorang terburu-buru memberikan komentar. Padahal, perkataan yang disampaikan tanpa mengetahui persoalan secara lengkap dapat menjadi ucapan yang tidak bertanggung jawab.
Karena itu, jamaah diajak untuk tidak menjadikan kemarahan sebagai alasan untuk melampiaskan perasaan melalui perkataan. Rasa kecewa terhadap suatu keadaan sebaiknya diikuti dengan sikap yang lebih tenang dan pertimbangan yang matang. Dengan demikian, seseorang tidak ikut memperkeruh keadaan melalui ucapan yang justru dapat menimbulkan persoalan baru.
Menjaga lisan juga berarti berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan informasi. Sebelum mengatakan sesuatu kepada orang lain, seorang Muslim perlu mempertimbangkan kebenaran dan manfaat dari perkataan tersebut. Hal ini penting terutama ketika informasi yang diterima berkaitan dengan persoalan yang sedang menjadi perhatian masyarakat.
Melalui khutbah Jumat tersebut, Dr. Mujyo mengajak jamaah untuk membiasakan diri menjaga ucapan, mengendalikan amarah, dan tidak mudah terbawa suasana ketika menghadapi berbagai persoalan. Sikap tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga diri dari kemaksiatan serta menciptakan perkataan yang lebih bermanfaat bagi sesama.
Pesan khutbah tersebut mengingatkan jamaah bahwa menjaga diri dari keburukan tidak hanya dilakukan melalui tindakan, tetapi juga melalui lisan. Dengan menjaga setiap perkataan dan mengendalikan emosi, umat Islam diharapkan mampu menyikapi berbagai keadaan dengan lebih bijaksana serta tidak menambah keburukan di tengah masyarakat.
Reporter: Muhammad Salman Syihabuddin Masrur Zenuddin

Tidak ada komentar
Posting Komentar