Wanita Mandiri dan Berdaya,Ustadzah Iis Mulya Ajak Jamaah Ibu-Ibu, dan Gen Z Jadi Wanita Berkarakter

Klik untuk membaca artikel.

"Pasar digital sudah merajalela sekarang semua perusahaan menggunakan aplikasi, toko-toko pakaian tidak mempunyai toko melainkan aplikasi. Sekarang yang perlu kita lakukan bagaimana menjadi wanita berkarakter. Wanita berkarakter itu bersahabat, berkarakter, sehat, bahagia yang paling utama dia mandiri dan berdaya." Ungkapnya.

Ia menekankan kepada para jamaah untuk menjadi wanita yang berkarakter sebagaimana Allah Swt, berfirman dalam Qs. Ani-Nisa ayat 34. Perempuan yang salihah adalah perempuan yang taat kepada Allah, Rasul dan suaminya , ketika dia menjaga kehromatan dirinya ketika suaminya sedang tidak ada. Dikarenakan Allah sudah menjaganya, Allah sudah membimbingnya, Allah sudah memberi pertolongan. Tanpa seseorang tidak akan bisa menjadi salihah.

"Sampai kita wafat adalah hamba Allah, sebagai hamba Allah jadilah mar'atus sholihah, al- ummu , al-jadda as sa'idah, istri yang shalihah, ibu yang terhormat ibu yang menjadi sumber energi bagi keluarganya ibu yang utama dan paripurna mendidik anak-anaknya, al-jadda saidah dan nenek yang penuh dengan kebahagian" ungkapnya.

Ia menyampakan ketika perempuan belum menikah jadilah perempuan yang salihah, yang haus akan ilmu dan terus memperbaiki diri, ketika perempuan sudah menikah jadilah ibu yang terhormat, madrasah pertama untuk anak-anaknya, dan menjadi istri yang salihah taat akan suami. Bagi istri yang taat pada suami ganjarannya sangat luar biasa cukuplah seorang wanita yang salihah itu melaksanakan shalat yang lima waktu, puasa di bulan ramadan dia taat kepada suaminya, dan penghormatan dirinya, menjaga dirinya selama suaminya tidak ada. Maka dikatakan kepada istri tersebut masuklah  wahai perempuan wahai para istri ke dalam surgaku melalui pintu surga yang mana saja, kemudian jadilan nenek yang penuh dengan kebahagiaan tetap berdaya di masa tua kelak.

"Cari lingkungan yang kondusif untuk anakmu,  karena saat usia 0-7,5 tahun anak akan mengatakan kata ayah dan bunda, ketika sekolah SD sampai kelas 6 kata bu guru kata pak guru, nanti SMP sampai SMA dia mengatakan kata teman-teman aku,  pokoknya kata teman aku, teman aku mah begini maka kita harus menjadi bestie untuk teman-temannya nanti ketika kuliah kata akunya datang, ketika kuliah kerja suka dengan lawan jenis, pandangannya akan berubah kata Allah dan Rasul karena dia akan mengajarkan anaknya, makannya perlu mengenal anaknya tentang watak, sifat, dan memberika kasih sayang yang cukup."

Perempuan merupakan rahim peradaban untuk melahirkan generasi hebat, salah satunya Imam Syafi'i kecerdasaannya, ketekunan dalam menuntut ilmu, kedermawanan, serta ketakwaan yang tinggi terhadap Allah Swt. tidak terlepas dari didikan ibundanya.

"kita sebagai wanita harus menjadikan ibunda Imam Syafi'i sebagai contoh, yang berhasil mendidik anaknya menjadi Imam Madzhab yang terkenal. Saat Imam Syafi'i berusia 7 tahun walau tanpa sosok ayah Imam Syafi'i berhasil menghafal Al-Qur'an hasil dari didikan ibundanya."

Reporter: Mia Maulidina, KPI/3B

 

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos