Dakwahpos.com, Bandung - Pengajian rutin ibu-ibu di Masjid Ar-Rahman Pasir Biru kembali digelar pada Selasa (09/12/2025) dengan pembahasan seputar keutamaan majelis ilmu dan pentingnya menjaga hati dari godaan. Kegiatan berlangsung khidmat, dihadiri jamaah ibu-ibu yang hadir dengan penuh semangat untuk menambah pemahaman agama serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah.
"Setiap langkah menuju majelis ilmu itu menghapus dosa, dan siapa pun yang duduk di dalamnya saling mendoakan satu sama lain," ujar pemateri dalam penyampaiannya.
Dalam penyampaiannya, pemateri menekankan bahwa ilmu adalah karunia yang Allah berikan kepada setiap hamba, tetapi setan selalu berusaha mengganggu siapa saja, baik yang sedang mengaji maupun yang tidak. la menggambarkan bagaimana setan bisa menggoda orang yang justru sibuk mengobrol ketika pengajian berlangsung, sehingga mereka kehilangan keberkahan majelis ilmu.
"Setan juga hadir dalam pengajian. la masuk ke orang yang tidak fokus, termasuk yang lebih senang berbicara daripada mendengarkan ilmu," jelasnya.
Beliau mengajarkan bahwa orang berilmu memiliki kedudukan khusus, bahkan setan lebih takut kepada mereka dibandingkan orang yang tidak memiliki ilmu. Hal itu karena setan mengetahui bahwa orang berilmu mampu menyebarkan kebaikan dan mengajarkan kebenaran kepada orang lain, sementara mereka yang tidak berilmu lebih mudah digoda dan diarahkan pada kelalaian.
"Orang berilmu itu ditakuti setan, sementara orang yang tidak punya ilmu tidak ditakuti. Setan tahu siapa yang bisa menyebarkan kebaikan," ungkapnya.
la juga menuturkan bahwa dzikir adalah bentuk tertinggi dari ingat kepada Allah. Meskipun lisan manusia mampu menyebutkan begitu banyak dzikir, tetap tidak dapat menandingi beratnya lafaz La ilaha illallah di timbangan amal, karena kalimat tersebut adalah inti dari tauhid dan penghambaan.
"Kalimat dzikir itu banyak, tapi tetap tidak sebanding dengan beratnya La ilaha illallah," tuturnya.
Penceramah kemudian menjelaskan bahwa aktivitas mengaji mencakup tiga unsur penting: guru sebagai penyampai ilmu, murid sebagai penerima ilmu, dan materi yang menjadi inti pembelajaran, sementara masjid hanyalah tempat yang melengkapi proses tersebut. la menegaskan bahwa Allah memerintahkan umat-Nya untuk berbagi, baik dengan harta, makanan, maupun ilmu. Setiap perbuatan baik yang dilakukan dalam rangka memenuhi perintah Allah termasuk ke dalam dzikir, karena hakikatnya mengingatkan diri pada Sang Pencinta.
"Kalau punya harta, pakai untuk berbagi. Punya makanan, pakai untuk berbagi. Semua amal yang kita lakukan itu termasuk dzikir, karena berarti kita sedang ingat kepada Allah," katanya.
Majelis ilmu ini kembali menegaskan bahwa orang yang selalu mengingat Allah akan melihat segala sesuatu sebagai karunia. Ciri orang yang selalu ingat kepada Allah adalah kesungguhannya mempersiapkan bekal untuk kembali kepada-Nya, termasuk dengan menjalankan shalat yang lima waktu sebagai momentum berdzikir dan membersihkan hati.
"Shalat itu lima kali sehari supaya kita terus ingat kepada Allah," tuturnya.
Pengajian ditutup dengan suasana hangat dan penuh ketenangan. Para jamaah mengikuti kegiatan hingga akhir dengan rasa syukur, lalu dilanjutkan dengan doa bersama serta salat ashar berjamaah
"Setiap langkah menuju majelis ilmu itu menghapus dosa, dan siapa pun yang duduk di dalamnya saling mendoakan satu sama lain," ujar pemateri dalam penyampaiannya.
Dalam penyampaiannya, pemateri menekankan bahwa ilmu adalah karunia yang Allah berikan kepada setiap hamba, tetapi setan selalu berusaha mengganggu siapa saja, baik yang sedang mengaji maupun yang tidak. la menggambarkan bagaimana setan bisa menggoda orang yang justru sibuk mengobrol ketika pengajian berlangsung, sehingga mereka kehilangan keberkahan majelis ilmu.
"Setan juga hadir dalam pengajian. la masuk ke orang yang tidak fokus, termasuk yang lebih senang berbicara daripada mendengarkan ilmu," jelasnya.
Beliau mengajarkan bahwa orang berilmu memiliki kedudukan khusus, bahkan setan lebih takut kepada mereka dibandingkan orang yang tidak memiliki ilmu. Hal itu karena setan mengetahui bahwa orang berilmu mampu menyebarkan kebaikan dan mengajarkan kebenaran kepada orang lain, sementara mereka yang tidak berilmu lebih mudah digoda dan diarahkan pada kelalaian.
"Orang berilmu itu ditakuti setan, sementara orang yang tidak punya ilmu tidak ditakuti. Setan tahu siapa yang bisa menyebarkan kebaikan," ungkapnya.
la juga menuturkan bahwa dzikir adalah bentuk tertinggi dari ingat kepada Allah. Meskipun lisan manusia mampu menyebutkan begitu banyak dzikir, tetap tidak dapat menandingi beratnya lafaz La ilaha illallah di timbangan amal, karena kalimat tersebut adalah inti dari tauhid dan penghambaan.
"Kalimat dzikir itu banyak, tapi tetap tidak sebanding dengan beratnya La ilaha illallah," tuturnya.
Penceramah kemudian menjelaskan bahwa aktivitas mengaji mencakup tiga unsur penting: guru sebagai penyampai ilmu, murid sebagai penerima ilmu, dan materi yang menjadi inti pembelajaran, sementara masjid hanyalah tempat yang melengkapi proses tersebut. la menegaskan bahwa Allah memerintahkan umat-Nya untuk berbagi, baik dengan harta, makanan, maupun ilmu. Setiap perbuatan baik yang dilakukan dalam rangka memenuhi perintah Allah termasuk ke dalam dzikir, karena hakikatnya mengingatkan diri pada Sang Pencinta.
"Kalau punya harta, pakai untuk berbagi. Punya makanan, pakai untuk berbagi. Semua amal yang kita lakukan itu termasuk dzikir, karena berarti kita sedang ingat kepada Allah," katanya.
Majelis ilmu ini kembali menegaskan bahwa orang yang selalu mengingat Allah akan melihat segala sesuatu sebagai karunia. Ciri orang yang selalu ingat kepada Allah adalah kesungguhannya mempersiapkan bekal untuk kembali kepada-Nya, termasuk dengan menjalankan shalat yang lima waktu sebagai momentum berdzikir dan membersihkan hati.
"Shalat itu lima kali sehari supaya kita terus ingat kepada Allah," tuturnya.
Pengajian ditutup dengan suasana hangat dan penuh ketenangan. Para jamaah mengikuti kegiatan hingga akhir dengan rasa syukur, lalu dilanjutkan dengan doa bersama serta salat ashar berjamaah
Zahra Rihhadatul Aisy, 3D/KPI
Tidak ada komentar
Posting Komentar