Hati Khusyuk dan Ikhlas, Jadi Esensi Dalam Ibadah

Dakwahpos.com, Bandung– Di negeri dengan banyak tersebarnya para ulama dari Sabang sampai Merauke, perbedaan cara ibadah sering kali terjadi. Namun terkadang perbedaan tersebut kerap kali menimbulkan banyak perdebatan dari banyak kalangan. Ada yang membaca doa qunut, ada juga yang tidak. Ada yang menggerakkan jarinya saat tahiyat, ada pula yang tidak. Namun, ironisnya perbedaan kecil itu sering menjadi bahan perdebatan panjang seolah-olah menentukan siapa yang paling benar di hadapan Tuhan. Padahal perbedaan tersebut tidak perlu banyak diperdebatkan karena masih sama-sama bersumber dari Rasulullah Saw.

Jika kita renungkan sejenak, esensi ibadah yang sebenarnya adalah sarana untuk mendekatkan diri kita kepada Allah, bukan hanya sekadar gerakan fisik atau perbedaan bacaan. Hal itu memang penting, namun, ada hal yang jauh lebih penting yaitu keikhlasan dan kekhusyukan hati ketika kita melaksanakan ibadah.

Ustaz Sona Zainal Walad menceritakan pengalamannya ketika menuntut ilmu di Mesir, di Negeri Kinaanah, umat Islam begitu terbiasa dengan perbedaan seperti halnya saat bulan Ramadan sebagian jemaah melaksanakan salat tarawih, ada yang melaksanakan sebelas rakaat dan ada juga yang melaksanakan dua puluh tiga rakaat. Perbedaan itu tidak menjadi hal-hal yang diperdebatkan di sana melainkan perbedaan itu dijadikan satu kesatuan dan itu adalah nomor yang utama.

Ustaz Sona juga menekankan bahwasanya dalam fiqih memang terdapat banyak sekali perbedaan. Setiap mazhab memiliki cara pandang dan dalilnya sendiri. Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Hambali, dan Imam Hanafi misalnya memiliki penafsiran berbeda dalam hal bacaan qunut atau gerakan salat. Namun, perbedaan itu tidak menjadi perdebatan, melainkan untuk menunjukkan kekuasaan rahmat Allah akan kekayaan khazanah Islam.

Perbedaan dalam ibadah seharusnya menjadi cermin luasnya ajaran Islam, bukan menjadi sumber perpecahan. Selama masih berpijak pada tuntunan Rasulullah Saw dan berpedoman pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, semua bentuk ibadah itu sah yang perlu kita jaga adalah niat dan keikhlasan hati. Karena hanya dengan menumbuhkan keikhlasan dan menjaga kekhusyukan, umat Islam akan mampu menemukan kembali makna sejati dalam beribadah yakni mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat persaudaraan sesama manusia.

Reporter : Santi Sri Mulyani, KPI 3/C
© Dakwahpos 2024