Meneladani Rasulullah Saw. sebagai Kompas Kehidupan Umat







Bandung, Dakwahpos.com Dalam hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, manusia kerap kehilangan arah spiritual. Di tengah rutinitas yang melelahkan dan dunia yang semakin materialistis, khutbah Jumat yang disampaikan oleh Sholahuddin Sanusi, S.Ag., M.Pd.I di Masjid Ash-Sholawat Manisi pada Jumat (12/9/2025) menghadirkan suasana yang meneduhkan. Ia mengingatkan jamaah untuk kembali meneladani Rasulullah Saw. dalam setiap sisi kehidupan, bukan sekadar dalam ucapan, tetapi dalam perbuatan nyata.

Dalam khutbahnya, Sholahuddin menegaskan bahwa bulan Rabiul Awal bukan hanya waktu memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw., melainkan momen penting untuk menumbuhkan kecintaan yang sejati kepada beliau. Menurutnya, cinta kepada Rasul tidak cukup diwujudkan lewat perayaan dan pujian semata, tetapi harus diterjemahkan ke dalam tindakan yang meniru akhlak dan kebiasaan beliau.

"Amalan yang harus kita jaga dalam bulan Rabiul Awal adalah memperbanyak membaca Al-Qur'an. Dengan lisan yang terbiasa membaca Al-Qur'an, kita akan terhindar dari perkara yang mendatangkan murka Allah Swt. Rasulullah Saw. bahkan memerintahkan kita untuk membaca Al-Qur'an walau hanya satu ayat," tutur Sholahuddin di hadapan jamaah.

Pesan tersebut menjadi pengingat yang relevan di masa kini. Banyak umat Islam yang begitu bersemangat memperingati Maulid Nabi dengan meriah, namun terkadang melupakan inti dari peringatan itu sendiri, yakni meneladani akhlak Nabi. Padahal, keteladanan beliau bukan hanya tampak dalam ibadah, melainkan juga dalam cara bermuamalah, bekerja, dan memperlakukan sesama manusia.

Sholahuddin menekankan bahwa bukti cinta kepada Rasulullah harus lahir dari perbuatan nyata. Ia mencontohkan, bagaimana Nabi selalu menunjukkan kejujuran dalam berdagang, kesabaran dalam menghadapi ujian, serta kasih sayang kepada siapa pun tanpa memandang latar belakang. Nilai-nilai ini, katanya, perlu kembali dihidupkan dalam kehidupan masyarakat modern yang sering kali lebih mementingkan citra daripada makna.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak akan lepas dari ujian dan cobaan. Namun, di balik setiap kesulitan selalu ada kesempatan untuk memperkuat iman. "Setiap cobaan yang datang adalah cara Allah untuk mengukur seberapa teguh kita berpegang pada nilai-nilai Islam. Rasulullah Saw. telah memberi contoh, bahwa kesabaran dan keteguhan hati adalah kunci menghadapi semua ujian," ungkapnya.

Khutbah tersebut terasa mengena di hati banyak jamaah. Beberapa jamaah yang ditemui usai salat Jumat mengaku terinspirasi. Mereka merasa khutbah kali ini bukan sekadar mengingatkan pentingnya ibadah, tetapi juga mengajak untuk menata ulang cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang disampaikan oleh salah satu jamaah, Ahmad, "Khutbah tadi benar-benar menyentuh. Kadang kita lupa, mencintai Nabi itu bukan hanya dengan lisan, tapi dengan meniru perilaku beliau."

Menutup khutbahnya, Sholahuddin mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Rasulullah Saw. sebagai kompas kehidupan. Menurutnya, di tengah guncangan moral dan perubahan zaman, umat Islam membutuhkan teladan sejati yang mampu menuntun langkah mereka agar tidak tersesat dalam gelapnya arus kehidupan modern. Dengan meneladani Rasulullah, umat akan memiliki arah hidup yang jelas, hati yang tenang, dan tujuan yang lurus.

Khutbah yang sederhana namun penuh makna itu seakan menjadi cermin bagi umat untuk kembali menapaki jalan yang telah ditunjukkan oleh Nabi. Sebab, hanya dengan meneladani Rasulullah Saw. secara utuh, umat Islam akan mampu menjaga kejernihan hati di tengah hiruk pikuk dunia yang semakin membutakan.

Oleh: Muhammad Raihan Al-Giffari

Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024