Ketika Validasi Digital Lebih Berharga dari Kebahagiaan

Oleh: Fitrimawati 

Mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam

Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Ponorogo


 

Ketika Validasi Digital Lebih Berharga dari Kebahagiaan

 

Di era digital, manusia modern terjebak dalam ilusi kenyataan yang diukur melalui angka-angka di layar Handphone (HP). media sosial bukan sekadar berbagi momen, melainkan menjadi ajang mencari validasi dari orang-orang yang tidak saling mengenal secara personal. "Like" yang bertambah memberikan kebahagiaan sesaat, seolah membuktikan bahwa seseorang berarti dan diakui keberadaannya di khalayak umum. Namun, semakin banyak yang mencari pengakuan di media sosial, dan semakin merasakan kekosongan dalam kehidupan nyata. Seberapa viral konten, seberapa banyaknya like bukan menjadi tolak uur kebahagiaan melainkan pada kualitas hubungan, kontribusi nyata, dan kebahagiaan yang banyak di lupakan. Media sosial yang seharusnya menjadi alat untuk berkembang, malah menjadi penjara baru yang mengurung seseorang dalam ketergantungan apresiasi dunia maya.

Validasi digital, merupakan tolak ukur dalam menilai diri seseorang di era modern. Pengakuan like, komentar pujian, atau jumlah followers yang terus bertambah menjadi bukti konkret hidup seseoran sukses dan bahagia. Padahal, validasi dari dunia maya hanya bayangan bukan cerminan diri seseorang yang berbeda dengan kehidupanya sesungguhnya. Seseorang bisa terlihat bahagia di Instagram, foto liburan mewah dan caption inspiratif, namun di balik layar sedang berjuang dengan kesepian dan krisis identitas. jumlah followers dan seberapa banyak orang asing yang menekan tombol like di samakan dengan pencapaiaan kebahagiaan hidup padahal kebahagiaan sejati dan kesuksesan dibangun dari kepuasan batin, hubungan yang baik dengan sesama. Validasi digital membuat banyak orang kehilangan arah, mengejar bayangan kesuksesan digital, mengejar  tanpa memikirkan kehidupan di dunia nyata.

Kebahaaan awalnya ketika berkumpul bersama keluarga, menyelesaikan pekerjaan dengan baik, atau sekadar menikmati secangkir kopi di pagi hari tanpa perlu memberitahu dunia. Kebahagiaan seolah tidak sah jika tidak di-posting di media sosial ini lah yang terjadi saat ini. Liburan ke pantai dan makan di restoran estetik tidak cukup dinikmati dengan tenang, melainkan harus diabadikan dengan puluhan foto untuk story whatsapp, instagram story dan bakan melakukan live tiktok.  Seperti yang di lakukan oleh wisatawan yang menghabiskan lebih banyak waktu berfoto daripada menikmati keindahan alam di Bali dan restoran-restoran berlomba menciptakan interior Instagram-worthy karena pengunjung datang bukan untuk makanan, tapi untuk konten.

Tekanan untuk tampil sempurna di media sosial telah menciptakan standar yang tidak realistis dan melelahkan. Masyarakat merasa tuntutan untuk selalu terlihat produktif, bahagia, dan sukses di setiap unggahan mereka. Tidak ada ruang untuk menunjukkan kelelahan, kegagalan, dan kesedihan . Fenomena hustle culture memaksa banyak orang untuk terus memposting pencapaian kerja, side hustle, atau rutinitas produktif, seolah istirahat adalah dosa. Banyaknya pasan mata yang yang dapat melihat melalu internet seakan menjadi daya tarik tersendiri.

Dampak psikologis dari ketergantungan validasi digital sangat nyata dan mengkhawatirkan pada kesehatan mental masyarakat. Ketika unggahan tidak mendapat respons yang diharapkan, muncul perasaan tidak berharga dan pertanyaan, apakah ada yang salah dengan saya? Apakah kontenya kurang menarik? apakah say ketingalan zaman? Apa saya harus menubah cara berpakaia saya?. Perasaan cemas dan tidak produktif ketika melihat orang lain tampak lebih sukses, lebih cantik, atau lebih bahagia mereka mengingikan nya juga sehingga seseoran melakukan berbagai cara agar mendapatkannya. Kecanduan media sosial menyebabkan kelelahan mental paradoks di mana seseorang merasa lelah scrolling tapi tidak bisa berhenti. (FOMO) Fear of Missing Out membuat banyak orang merasa harus selalu online dan tidak boleh menghilang di dunia maya.

Media sosial telah menjadi panggung besar tempat orang-orang menampilkan versi terbaik , menciptakan ilusi yang jauh dari kenyataan. Yang di lihat di Instagram atau TikTok adalah highlight reel momen pilihan yang telah melalui proses editing, filter, dan pemilihan angle sempurna, bukan potret kehidupan yang sesungguhnya. Masyarakat sering terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak adil, membandingkan behind the scenes kehidupan mereka dengan panggung pertunjukan orang lain. Instagram vs Reality yang viral, menunjukkan betapa berbedanya foto di media sosial dengan kondisi sebenarnya, banyak spot foto yang terlihat mewah dan luas di Instagram, ternyata hanya sudut kecil dengan antrian panjang pengunjung yang rela menunggu berjam-jam demi satu foto sempurna. Ilusi ini membuat banyak orang merasa hidupnya tidak cukup baik dan terus mengejar standar yang sebenarnya tidak pernah ada.

Semakin banyaknya pertemanan di media sosialmaka semakin terasing dari hubungan dunia nyata manusiawi yang autentik. Pertemanan sering kali lebih banyak terjadi melalui layar daripada tatap muka langsung. Kita tahu update kehidupan ratusan "teman" di media sosial, tetapi tidak mengenal mereka secara personal. Kualitas percakapan menurun drastis ketika berkumpul pun, masing-masing sibuk dengan ponselnya, lebih tertarik mengabadikan momen daripada benar-benar hadir dalam momen tersebut.

Validasi digital dari sudut pandang nilai moral dan spiritual banyak  mencerminkan krisis makna hidup yang lebih dalam. Berbagai ajaran agama dan filsafat hidup mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bersumber dari dalam diri, dari hubungan yang bermakna dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan diri sendiri bukan dari penilaian orang lain. Dalam Islam, riya  (berbuat sesuatu untuk dilihat orang lain) dianggap sebagai penyakit hati yang merusak keikhlasan.

Menemukan keseimbangan dalam penggunaan media sosial  bukan hanya meninggalkannya sama, melainkan menggunakannya secara sadar, kritis, dan proporsional. Literasi digital menjadi kunci utama, masyarakat perlu memahami bahwa apa yang ditampilkan di media sosial adalah konstruksi realitas, bukan realitas itu sendiri. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain: melakukan digital detox secara berkala dengan tidak membuka media sosial selama beberapa hari untuk merasakan kembali kehidupan tanpa tekanan validasi digital, membatasi screen time dengan aplikasi yang membantu mengontrol penggunaan ponsel, melakukan refleksi diri dengan bertanya "apakah aku melakukan ini untuk diriku sendiri atau untuk konten?, dan mem-follow akun yang memberikan dampak positif sambil unfollow atau mute akun yang memicu insecurity.

validasi digital tidak akan pernah memberikan kebahagiaan yang berkelanjutan. Kebahagiaan sejati lahir dari penerimaan diri, hubungan yang bermakna, dan pencapaian yang selaras, bukan dari jumlah like atau followers. Sudah saatnya bertanya: apakah kita hidup untuk diri sendiri, atau untuk menampilkan versi hidup yang diinginkan orang lain? Marilah menghargai momen sederhana yang tidak perlu dipamerkan, percakapan dengan sahabat, pelukan keluarga, atau pencapaian kecil yang bermakna. Nilai diri ditentukan oleh integritas dan kebaikan di kehidupan nyata, bukan algoritma media sosial. Jangan biarkan validasi digital mencuri kebahagiaan, hiduplah dengan lebih baik dan bermakna.

Lampiran:

Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024