Dakwahpos.com, Bandung — Pengajian ibu-ibu di Masjid Al-Ittihad, Kopo, Bandung, pada Rabu (26/11/2025) berlangsung khidmat ketika Ustadz Herman membahas tema fikih seputar menjenguk orang sakit, adab berdoa ketika sakit, wanita menjenguk laki-laki, serta larangan berobat kepada dukun. Penyampaiannya yang lembut dan disertai dialog membuat para jamaah aktif terlibat.
Pada bagian pendahuluan, Ustadz Herman memulai dengan pertanyaan yang memancing perhatian,
"Ibu-ibu, kalau kita punya tetangga yang sakit tapi agamanya berbeda, apa sikap yang benar menurut tuntunan Nabi?"
Para ibu saling pandang, beberapa menjawab pelan, "Dijenguk… kalau bisa."
Beliau menanggapi secara tidak langsung bahwa menjenguk orang sakit, meski berbeda agama, memiliki dasar yang kuat dalam sunnah Nabi. Ustadz Herman lalu mengutip kisah yang diriwayatkan Anas ibn Malik tentang Rasulullah SAW yang menjenguk anak Yahudi.
Sambil tersenyum, beliau berkata,
"Ibu-ibu, Rasulullah SAW saja datang langsung, duduk di dekat kepala anak itu. Ini menunjukkan Islam mengajarkan perhatian, bukan permusuhan."
Para jamaah tampak kagum, beberapa mengangguk sambil mencatat.
Adab Mendoakan Orang yang Sakit
Setelah itu beliau menjelaskan secara tidak langsung bahwa Nabi SAW selalu mendoakan orang yang sakit dengan doa yang penuh harapan, sebagaimana doa yang diriwayatkan dari Aisyah ra.
Ia kemudian bertanya,
"Kalau kita menjenguk saudara atau tetangga yang sakit, doa apa yang paling dianjurkan? Ada yang ingat?"
Beberapa ibu mencoba mengucapkannya, meski masih terbata.
Ustadz Herman mengulang dengan jelas,
"Allahumma Rabbannas, adzhibil-ba'sa, isyfi anta asy-Syafi… nah begitu, ibu-ibu. Ini doa penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit."
Para jamaah tersenyum lega karena mendapatkan contoh yang mudah.
Doa bagi Diri Sendiri Saat Sakit
Beliau lalu menjelaskan secara tidak langsung tentang sunnah meletakkan tangan di bagian tubuh yang sakit, sebagaimana diajarkan Rasulullah kepada Utsman ibn Abi al-Ash.
Sambil mencontohkan gerakan, beliau berkata,
"Ibu-ibu, kalau misalnya sakit kepala, cukup letakkan tangan di tempatnya lalu baca: 'Bismillah' tiga kali… kemudian tujuh kali, 'A'ūdzu billāh wa qudratihi…'"
Para jamaah mengikuti perlahan, beberapa mengulang untuk memastikan hafal.
Bolehkah Wanita Menjenguk Laki-Laki?
Berpindah ke tema berikutnya, Ustadz Herman bertanya,
"Kalau ada tetangga laki-laki yang sakit, apa ibu-ibu boleh menjenguk?"
Seisi ruangan tampak ragu, sebagian menjawab, "Tergantung…."
Beliau menjelaskan secara tidak langsung bahwa para sahabiyah pernah menjenguk laki-laki dari kaum Anshar, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Bukhari.
Kemudian ia menegaskan,
"Boleh, ibu-ibu. Asalkan tetap menjaga adab, batas pandang, dan tidak berdua-duaan. Agama kita seimbang."
Para ibu terlihat mengangguk, tampak lebih yakin dengan penjelasan tersebut.
Larangan Keras Berobat ke Dukun
Materi selanjutnya dimulai dengan pertanyaan tegas,
"Kalau sakit tapi tidak kunjung sembuh, kita boleh minta bantuan 'orang pintar'?"
Serentak para ibu menjawab, "Tidak boleh!"
Beliau menjelaskan secara tidak langsung bahwa Rasulullah SAW melarang keras mendatangi dukun, bahkan shalat orang yang melakukannya tidak diterima selama 40 hari.
Dengan suara tegas namun lembut, beliau berkata,
"Ibu-ibu, jangan coba-coba. Nabi SAW sudah memperingatkan. Kesembuhan ada pada Allah, bukan makhluk yang menebak-nebak."
Para jamaah terlihat menggeleng, sebagian tampak tersentuh dengan pesan tersebut.
Sakit Menjadi Ladang Pahala
Menjelang akhir kajian, Ustadz Herman mengingatkan bahwa adab menjenguk orang sakit dan berdoa adalah bagian dari menjaga hubungan sesama manusia.
Beliau menutup dengan nasihat,
"Ibu-ibu, sakit itu ujian sekaligus peluang pahala. Kita belajar adab ini supaya tidak salah langkah dan tetap dalam bimbingan Nabi SAW."
Pengajian berakhir dengan doa bersama, dan para ibu-ibu tampak saling berdiskusi tentang materi fikih yang mereka pelajari hari itu.
Reporter : Hadian Filah Akbar, KPI/3B
Tidak ada komentar
Posting Komentar