Dakwahpos.com, Bandung — Suasana pengajian ibu-ibu di Masjid Al-Ittihad, Kopo, Bandung, pada Rabu (19/11/2025) terasa hangat dan penuh perhatian ketika Ustadz Herman menyampaikan materi bertema sabar ketika sakit, pahala orang yang diuji, serta fikih menjenguk orang sakit. Kajian berlangsung interaktif, membuat jamaah aktif merespons penjelasannya.
Pada awal kajian, Ustadz Herman membuka dengan sebuah pertanyaan yang membuat para jamaah berpikir,
"Ibu-ibu, bagaimana sikap seorang mukmin ketika Allah memberi ujian berupa sakit? Apakah otomatis menjadi keburukan?"
Para ibu tampak saling menatap, sebagian menjawab pelan, "Harus sabar, Ustadz…."
Beliau tersenyum lalu menjelaskan secara tidak langsung bahwa sakit bukanlah keburukan, melainkan ladang pahala bagi orang beriman. Beliau mengutip hadis Muslim tentang keajaiban keadaan seorang mukmin:
"Jika mendapat nikmat, ia bersyukur; jika ditimpa kesusahan, ia bersabar. Dua-duanya membawa kebaikan."
Sakit sebagai Penghapus Dosa
Pembahasan berlanjut dengan penjelasan bahwa Allah menjadikan penyakit sebagai kifarat (tebusan dosa) bagi hamba-Nya.
Beliau bertanya,
"Ibu-ibu, kalau seorang mukmin sakit lalu sembuh, apakah ia kembali seperti semula? Tidak. Ia kembali dalam keadaan lebih bersih dari sebelumnya."
Beliau lalu mengungkapkan secara tidak langsung hadis yang menjelaskan bahwa sakit adalah penghapus dosa sekaligus nasihat untuk kehidupan berikutnya berbeda dengan orang munafik yang tidak mengambil pelajaran dari musibah.
Para jamaah terlihat manggut-manggut, sebagian tampak merenung.
Kisah Wanita Sabar yang Dijamin Masuk Surga
Untuk memperkuat pemahaman, Ustadz Herman mengisahkan riwayat tentang wanita berkulit hitam yang terkena ayan dan datang kepada Rasulullah SAW.
"Ibu-ibu, wanita ini memilih bersabar demi surga. Tapi beliau tetap meminta doa agar auratnya tidak tersingkap. Ini menunjukkan sabar bukan berarti tidak boleh berikhtiar."
Para ibu tampak kagum mendengar kisah tersebut, ada yang langsung mencatat di buku kecil mereka.
Doa Ketika Tertimpa Musibah
Masuk ke materi berikutnya, Ustadz Herman bertanya,
"Kalau kita dapat musibah, doa apa yang Nabi ajarkan? Ada yang hafal?"
Beberapa jamaah mencoba menyebutkan perlahan ayat istirja'.
Beliau kemudian mengulang dengan jelas,
"Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn… Allahumma'jurnī fī muṣībatī…"
Sebuah doa yang kata beliau akan diganti Allah dengan sesuatu yang lebih baik.
Para jamaah tampak tersenyum lega karena mendapatkan contoh yang mudah diingat.
Fikih Menjenguk Orang Sakit
Pada bagian selanjutnya, Ustadz Herman mengingatkan kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya termasuk menjenguk orang sakit.
Beliau mengawali dengan pertanyaan,
"Ibu-ibu, kalau tetangga sakit, apakah kita punya kewajiban?"
Serentak beberapa menjawab, "Iya, Ustadz, menjenguk."
Beliau lalu menjelaskan secara tidak langsung hadis riwayat Muslim tentang enam hak seorang muslim, salah satunya adalah menjenguk orang sakit.
"Menjenguk itu bukan sekadar datang. Itu bentuk kasih sayang, perhatian, dan kesempatan mendoakan."
Penutup: Sakit Itu Ujian yang Mengangkat Derajat
Menjelang akhir kajian, Ustadz Herman memberi nasihat penutup bahwa sakit adalah ujian sekaligus jalan menuju penghapusan dosa.
Beliau berkata lembut,
"Ibu-ibu, jangan pandang sakit sebagai hukuman. Jadikan ia momen mendekat kepada Allah. Sabar itu bukan pasrah, tapi percaya pada janji-Nya."
Pengajian ditutup dengan doa bersama. Para jamaah tampak saling berdiskusi sambil pulang, membahas keutamaan sabar dan adab menjenguk orang sakit yang baru saja mereka pelajari.
Reporter : Hadian Filah Akbar, KPI/3B
Tidak ada komentar
Posting Komentar