Dakwapos.com, Bandung - Kampus UIN sering dianggap sebagai ruang yang ideal untuk tumbuh dalam suasana Islami. Mata kuliahnya tentang agama, aktivitasnya dekat dengan nilai dakwah, dan lingkungannya pun mendukung pembiasaan ibadah. Namun di balik itu, muncul satu catatan penting yang sebenarnya sederhana: pakaian syar'i belum sepenuhnya mendapat ruang yang lapang.
Ada sebagian mahasiswi yang ingin mengenakan pakaian yang lebih longgar dan lebih sesuai dengan batasan syariat. Tetapi ketika memasuki kegiatan resmi atau unit pengembangan, mereka terkadang perlu menyesuaikan diri dengan standar pakaian tertentu yang sudah ditetapkan panitia atau organisasi.
Di sinilah muncul pertanyaan yang wajar untuk direnungkan bersama:
Bagaimana caranya memastikan SOP kegiatan berjalan, tanpa mengurangi ruang bagi seseorang untuk tetap menjaga pakaian yang ia yakini paling sesuai dengan tuntunan agama?
Perlu dipahami bahwa pakaian syar'i bukan sekadar preferensi pribadi, tetapi bagian dari ikhtiar seorang muslimah untuk taat. Dukungan terhadap pilihan tersebut bukan hanya bentuk toleransi, tetapi juga penghargaan terhadap nilai-nilai yang kampus ini sendiri ajarkan.
Tentu saja setiap kegiatan membutuhkan kerapihan dan keseragaman. Namun akan lebih indah jika aturan teknis bisa bergerak sejalan dengan prinsip syariat, bukan saling membatasi. Apalagi di lingkungan yang menjadikan nilai Islam sebagai fondasinya.
Saya percaya, dengan komunikasi yang baik dan kesadaran bersama, masjid kampus, organisasi, maupun unit kegiatan dapat menciptakan ruang yang lebih ramah bagi mahasiswi yang ingin menutup aurat secara lebih sempurna. Karena dakwah yang tumbuh dari kampus Islam mestinya menghadirkan kenyamanan dalam ketaatan, bukan kebingungan dalam memilih antara SOP dan syariat.
Pada akhirnya, tujuan kita sama: menegakkan nilai Islam dengan cara yang lembut, bijak, dan saling memahami.
Tidak ada komentar
Posting Komentar