Khutbah Jumat di Masjid Baabusalam, Cibiru Hilir, Bandung (12/09/25) menghadirkan suasana berbeda ketika H. Suwarto memilih pendekatan kisah sebagai media dakwah. Dengan tema "Kisah Seorang Bapak dan Tiga Anaknya," khutbah tersebut bukan sekadar rangkaian nasihat, melainkan ajakan refleksi yang menyentuh sisi terdalam kehidupan manusia.
Cerita tentang seorang ayah yang memperlakukan ketiga anaknya secara berbeda terasa begitu dekat dengan realitas. Anak pertama yang dibanggakan, anak kedua yang disayang, dan anak ketiga yang jarang mendapat perhatian menjadi gambaran sederhana namun sarat makna. Ketika sang ayah menghadapi masalah besar—yang diibaratkan sebagai kematian—barulah terlihat siapa yang benar-benar setia. Anak pertama dan kedua menolak menemaninya, sementara anak ketiga justru menjadi yang paling membantu.
Dalam perspektif khutbah, ketiga anak itu merupakan simbol kehidupan manusia. Anak pertama digambarkan sebagai harta, anak kedua sebagai keluarga, dan anak ketiga sebagai amal sholeh. Harta dan keluarga memang dekat dengan keseharian, namun justru amal—yang sering disepelekan—menjadi satu-satunya pendamping sejati ketika manusia memasuki detik-detik akhir kehidupannya.
Pesan yang disampaikan khatib terasa relevan, terutama di tengah gaya hidup modern yang kerap menjebak manusia pada kesibukan duniawi. Banyak orang mengejar materi dan mencurahkan perhatian kepada lingkungan sosialnya, namun lupa memperkuat bekal amal. Padahal, jika merujuk pada pesan Nabi Muhammad SAW, amal-lah yang mengiringi manusia hingga ke liang kubur.
Kecenderungan manusia untuk menjadikan dunia sebagai prioritas utama memang tidak dapat dipungkiri. Namun khutbah Suwarto mengingatkan bahwa prioritas tersebut perlu ditata ulang. Tanpa mengesampingkan keluarga dan kehidupan dunia, setiap individu tetap perlu menempatkan amal sholeh sebagai fondasi, bukan pelengkap.
Khutbah ini pada akhirnya menjadi cermin bagi jamaah, sekaligus peringatan lembut bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang tampak, tetapi tentang apa yang dibawa menuju akhirat. Cerita sederhana ini telah mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak, bermuhasabah, dan mempertanyakan sejauh mana amal telah menjadi bagian dari prioritas hidup.
Reporter: Muhammad Fadhlan Rahmani – 3A
Tidak ada komentar
Posting Komentar