Belakangan, video yang mengklaim bahwa ada mayat terjebak di mobil-mobil terendam banjir di Aceh Tamiang viral di media sosial, dan bikin warga heboh karena kabarnya "aroma mayat sudah sangat menyengat". Namun seperti dilaporkan CNA Indonesia — dan juga diverifikasi polisi — kabar itu terbukti salah.
Menurut polisi, tim gabungan sudah menyisir sepanjang jalan utama hingga SPBU Tanah Terban, termasuk area yang disebut dalam narasi viral itu, dan tidak menemukan satu pun jenazah di dalam kendaraan. "Isu bau menyengat … tidak ada. Yang ada bau lumpur banjir," kata Kapolres Polres Aceh Tamiang,
Kalau bahkan aparat telah melakukan pengecekan langsung dan memastikan bahwa klaim itu hoaks, lalu kenapa tetap ada orang yang memilih percaya dan menyebarkannya? Ini menunjukkan bahwa di saat krisis—seperti banjir besar—emosi, ketakutan, dan kecemasan sangat mudah dieksploitasi lewat informasi viral tanpa verifikasi. Media sosial lalu jadi ruang subur bagi desas-desus yang bisa memicu kepanikan baru.
Yang lebih parah: penyebaran hoaks seperti ini bisa mengalihkan energi dan sumber daya dari upaya kemanusiaan yang sesungguhnya. Alih-alih fokus ke evakuasi korban nyata, pendistribusian bantuan, dan pemulihan area terdampak, perhatian bisa tersita oleh rumor yang sama sekali tidak benar. Situasi ini justru merusak solidaritas — yang mestinya jadi prioritas ketika bencana.
Jadi, langkah dari CNA serta pemeriksaan langsung oleh pihak berwenang harus diapresiasi sebagai bentuk tanggung jawab jurnalistik dan penyelamatan publik. Untuk kita sebagai warga: ini jadi pengingat untuk tetap kritis terhadap informasi — terutama yang sensasional — dan selalu cek sumber sebelum ikut menyebarkan. Di masa genting, kewarasan dan solidaritas harus jalan bersamaan.
Penulis Opini : Raihana Nsywa Grafisa/KPI 3B
Tidak ada komentar
Posting Komentar