Merenungi Ayat Terakhir Al-Kahfi: Di Mana Kita Meletakkan Tujuan Hidup

Izzuddin Nashrullah – Dakwahpos.com
Jumat, 12 September 2025

Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang menuntut manusia bergerak cepat tanpa memberi ruang untuk berhenti sejenak, pertanyaan paling mendasar tentang arah dan tujuan hidup kerap terlupakan. Rutinitas yang menghimpit, kesibukan yang menumpuk, hingga derasnya informasi yang membentuk persepsi, perlahan menjauhkan manusia dari akar spiritualitasnya. Khutbah Jumat di Masjid Babul Hikmah, Komplek Griya Cipadung Asri, Cibiru, Bandung, kembali mengingatkan bahwa manusia tidak sekadar hidup untuk bergerak, tetapi untuk memahami ke mana dan untuk apa langkah itu dilakukan.

Tema yang diangkat, Penutup Surah Al-Kahfi Merangkum Tujuan Hidup, menghadirkan renungan yang sangat relevan bagi siapa pun yang tengah mencari pijakan di tengah kompleksitas zaman ini. Surah Al-Kahfi, yang dianjurkan untuk dibaca setiap hari Jumat, bukan hanya membawa keberkahan, tetapi juga menyuguhkan nilai penting tentang perjalanan spiritual manusia. Tradisi mendawamkan surah ini dari pekan ke pekan diyakini menjadi cahaya yang mengiringi jalannya kehidupan, sebuah simbol bahwa manusia selalu membutuhkan tuntunan Ilahi dalam setiap fase yang dilalui.

Refleksi terhadap ayat penutup Surah Al-Kahfi (110) menunjukkan betapa ringkas namun mendalamnya rangkuman tujuan hidup manusia. Para ulama seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurtubi telah lama menandaskan bahwa ayat tersebut memuat tiga pilar fundamental: mengenal Allah, beramal sholeh, dan menjaga kemurnian tauhid. Tiga hal ini bukan sekadar teori teologis, tetapi panduan yang mampu menopang kehidupan manusia secara utuh.

Mengenal Allah adalah fondasi dari segala fondasi. Hidup bermula dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya—minallah, lillah, wa ilallah. Setiap aktivitas manusia, baik pekerjaan, keluarga, maupun hubungan sosial, hanya akan bermakna jika diarahkan kepada Allah. Tanpa orientasi itu, ritme hidup kehilangan arah dan hanya menjadi rutinitas kosong.

Namun pengenalan kepada Allah tidak berhenti pada lisan atau pengetahuan, ia menuntut pembuktian melalui amal sholeh. Al-Qur'an dalam Surah Al-Mulk menegaskan bahwa hidup dan mati diciptakan sebagai ujian untuk melihat siapa yang terbaik amalnya. Dengan demikian, amal bukan tentang kuantitas, melainkan kualitas; bukan tentang pujian manusia, tetapi tentang keikhlasan yang tersembunyi antara hamba dan Tuhannya.

Di sinilah urgensi menjaga kemurnian tauhid menjadi sangat penting. Amal sebesar apa pun tidak akan memiliki nilai jika dicemari oleh riya, syirik, atau keinginan untuk dipuji. Pemikiran Al-Ghazali mengingatkan bahwa manusia berada di jurang kecelakaan kecuali mereka yang berilmu, mengamalkan ilmunya, dan melakukannya dengan ikhlas. Ketiga unsur ini membentuk kesatuan yang tak terpisahkan dalam perjalanan spiritual seorang mukmin.

Pesan moral yang dapat ditarik dari refleksi atas khutbah tersebut mengarah pada satu titik utama: manusia harus kembali meneguhkan orientasi hidupnya semata kepada Allah. Amal sholeh perlu diperbanyak, niat perlu dijernihkan, dan teladan Rasulullah SAW perlu dihidupkan kembali dalam keseharian—mulai dari bangun tidur hingga kembali ke peraduan. Keteladanan Nabi bukan semata sejarah, melainkan peta kehidupan bagi siapa saja yang ingin hidup dengan arah yang benar.

Di tengah dunia yang semakin bising, ayat penutup Surah Al-Kahfi menjadi oase yang menenangkan: tujuan hidup manusia sesungguhnya sederhana namun agung—mengenal Allah, berbuat baik, dan menjaga tauhid tetap murni. Tiga bekal inilah yang akan menerangi perjalanan hidup, menguatkan langkah, dan menjadi cahaya dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.

Reporter: Izzuddin Nashrullah / KPI 3B

Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024