Menjaga Lisan dan Hati di Era Media Sosial

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang tak pernah tidur, Masjid Nurul Hasanah di kawasan Buah Batu, Bandung, baru saja menggelar salat Jumat yang meninggalkan kesan mendalam bagi ratusan jamaahnya. Khatib Jumat kali ini, Ustadz Aan Kurnia, memilih tema yang begitu dekat dengan keseharian kita: "Menjaga Lisan dan Hati di Era Media Sosial". Tema ini bukan sekadar relevan ia adalah panggilan darurat bagi umat Islam yang semakin terperosok dalam jurang dosa digital.


Bayangkan: satu jari yang mengklik "share" tanpa tabayyun bisa merobek kehormatan seseorang selama bertahun-tahun. Ustadz Aan mengawali khutbahnya dengan ayat suci dari Surah Al-Hujurat ayat 12, yang dengan tegas melarang prasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain, dan yang paling menusuk ghibah. "Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya," demikian Allah SWT menggambarkan betapa menjijikkannya ghibah di mata-Nya.


Di era media sosial, ghibah tidak lagi hanya terjadi di warung kopi atau arisan. Ia bermetamorfosis menjadi komentar pedas di kolom Instagram, status sindiran di WhatsApp group, atau thread panjang di X yang menghujat sesama muslim hanya karena beda pilihan politik, mazhab, bahkan tim sepak bola kesayangan. Hoaks berbau agama pun menyebar lebih cepat daripada virus, meninggalkan luka yang sulit disembuhkan. Kita, yang mengaku pengikut Rasulullah SAW, sering lupa sabda beliau: "Seorang muslim adalah orang yang membuat muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya."


Khutbah Ustadz Aan bukan sekadar kritik. Ia adalah pengingat penuh kasih bahwa media sosial bisa menjadi ladang pahala jika kita bijak menggunakannya. Sebarkan ilmu yang bermanfaat, bela yang terzalimi dengan akhlak mulia, dan diam saja lebih utama. Pesan ini seolah "menampar" jamaah dengan Al-Qur'an dan hadits, tapi tamparan yang menyejukkan hati. Tak heran, banyak pemuda yang aktif bermedia sosial terlihat menunduk lama, mengusap air mata, dan usai salat berbondong-bondong meminta maaf kepada ustadz.


Kejadian di Masjid Nurul Hasanah ini seharusnya menjadi cermin bagi kita semua. Media sosial telah mengubah lisan menjadi senjata yang lebih tajam dari pedang, dan hati kita sering kali kalah oleh emosi sesaat. Sudah saatnya kita muhasabah: berapa banyak dosa yang kita tebar hanya karena satu klik? Berapa banyak saudara sesama muslim yang kita lukai tanpa sadar?


Rencana pengurus masjid untuk mengundang Ustadz Aan kembali dengan seri khutbah "Etika Bermedia Sosial dalam Islam" patut diapresiasi. Ini bukan hanya agenda rutin masjid, melainkan ikhtiar nyata untuk membentengi umat dari bahaya digital. Semoga khutbah seperti ini semakin sering bergema di mimbar-mimbar Jumat seluruh Indonesia. Karena di tengah banjir informasi dan emosi, menjaga lisan dan hati bukan lagi pilihan ia adalah kewajiban yang tak bisa ditawar lagi.



Oleh: Muhammad Fawaz Fairuzabadi


Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024