Mengukir Generasi Qur’ani, Kisah Dedikasi Ibu Niati Komala dalam Pengajian Anak (10-12 Tahun)

Dakwahpos.com, Bandung — Kegiatan pengajian rutin bagi anak-anak usia 10 hingga 12 tahun di TPQ Masjid Al-Munajah terus berjalan dengan semangat, dipandu oleh seorang pendidik yang telah mendedikasikan diri selama lebih dari dua dekade, Ibu Niati Komala. Sejak tahun 1998, Ibu Niati telah membimbing puluhan generasi muda dalam menghafal Al-Qur'an dan mempelajari sirah nabi.
Pengajian yang diikuti oleh murid kelas 5 dan 6 SD ini memiliki kurikulum yang terstruktur, mencakup tiga poin utama:
Kegiatan pengajian ini memiliki kegiata yang tertata tiap harinya, dimulai dengan sesi Muroja'ah (Mengulang Hafalan), di mana anak-anak diminta untuk mengulang kembali dan menguatkan hafalan surat-surat pilihan yang telah dikuasai, khususnya dari Juz 30.. Setelah penguatan hafalan lama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi Hafalan Baru, yaitu proses mempelajari dan menghafal surat-surat baru dengan menekankan pada penguasaan huruf dan ketepatan ayat. Terakhir, sesi ditutup dengan penyampaian Materi yang pada kali ini membahas sirah Nabi yang bertujuan untuk mengajarkan anak-anak tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW guna menanamkan nilai-nilai moral dan keteladanan akhlak
Selanjutnya Ibu Niati menjelaskan bahwa metode pengajaran, khususnya untuk hafalan, dilakukan dengan cara yang unik dan efektif.
"Metode saya untuk hafalan Al-Qur'an itu dibaca dulu bareng-bareng dalam Al-Qur'an setiap hari. Misalkan sudah seminggu melihat Al-Qur'an, baru kita tutup. Coba dihafal tanpa lihat Al-Qur'an," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa proses hafalan baru, yang ia sebut sebagai 'talaran', berjalan lebih cepat ketika dilakukan bersama-sama di bawah bimbingannya.
"Lebih cepat hafalnya kalau dibarengin sama saya. Beda dengan sendiri. Kalau sendiri kadang hafalin di rumah nggak dihafal-hafal. Makanya saya ngajarinnya sambil saya baca bareng-bareng. Dia mendengar juga, melihat lagi ke huruf dalam Al-Qur'an itu," jelas Ibu Niati.
Proses ini dilakukan bertahap. Setelah anak-anak melihat huruf dan ayat secara intens selama satu minggu hingga satu bulan (misalnya 10 ayat Surah Al-Kahfi), barulah mereka diminta untuk menghafal tanpa melihat mushaf.
Meski metode pengajaran berjalan baik, Ibu Niati mengakui bahwa tantangan utama yang dihadapi adalah inkonsistensi kehadiran dan semangat anak-anak.
"Tantangannya ya itulah anak-anak kadang malas, kadang nggak ada ngaji, kadang sehari ngaji dua hari nggak," keluhnya. Ia juga menyoroti padatnya jadwal anak-anak sepulang sekolah dan les lain. "Kadang malah capek pulang sekolah, yang habis les nggak bisa ngaji," tambahnya.
Durasi belajar yang ideal juga menjadi pertimbangan. Dalam waktu pengajian yang hanya 1,5 hingga 2 jam, fokus anak-anak seringkali terbagi. "Dikasih dua jam itu udah nggak bener, ke sana kemari. Jadi pengen pulang terus," katanya. Oleh karena itu, ia berupaya mengkondisikan pembelajaran agar sesuai dengan energi dan perhatian anak-anak.
Menyikapi tantangan ini, Ibu Niati selalu berusaha menjalin komunikasi dengan orang tua. Meskipun ia telah memberikan pemberitahuan, ia menyadari bahwa keberhasilan tetap kembali kepada dukungan dari rumah.
"Saya kembalikan kepada orang tuanya lagi yang menyupportnya itu. Ya terserah anaknya juga sih," pungkasnya. Hal ini menekankan bahwa sinergi antara guru, murid, dan orang tua adalah faktor penentu dalam menciptakan generasi yang mencintai Al-Qur'an.
Dedikasi Ibu Niati Komala selama puluhan tahun menjadi inspirasi, menunjukkan bahwa keuletan dan metode pengajaran yang tepat dapat menanggulangi berbagai tantangan dalam mendidik anak-anak usia sekolah untuk menjadi penghafal dan pengamal Al-Qur'an.

Reporter: Raihana Nasywa Grafisa/KPI3B



Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024