Sebagai contoh, dakwah digital kini semakin populer. Banyak ustaz dan influencer Muslim menggunakan media sosial untuk menyampaikan pesan-pesan religius dengan bahasa yang mudah dipahami generasi muda. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, dakwah daring bisa menjadi dangkal, hanya fokus pada hiburan, bukan penguatan iman.
Selain itu, umat Islam dituntut untuk mengimplementasikan nilai keislaman dalam kehidupan nyata, bukan hanya di dunia maya. Etika berinteraksi, kejujuran, dan kepedulian sosial tetap menjadi indikator utama keberhasilan seorang Muslim. Digitalisasi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat amal dan pendidikan, bukan sekadar alat hiburan.
Opini ini menekankan pentingnya keseimbangan antara memanfaatkan teknologi dan menjaga kualitas spiritual. Umat Islam perlu kreatif dalam berdakwah dan beramal, tetapi tidak mengabaikan nilai-nilai dasar yang menjadi inti agama. Tantangan terbesar bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana kita menyesuaikan keislaman dengan kehidupan modern tanpa kehilangan esensi.
Reporter: Nakhla Zayna Azkiya KPI 3/B
Tidak ada komentar
Posting Komentar