Antara Suara dan Keheningan: Belajar Menjaga Makna di Tengah Kebisingan





Dalam kehidupan sehari-hari, diam kerap dipahami sebagai tanda ketidakpedulian. Padahal, tidak semua diam lahir dari sikap acuh. Bagi sebagian orang, diam justru menjadi cara untuk menjaga diri, menahan emosi, dan memilih waktu yang tepat untuk bersuara.

Di tengah budaya yang menuntut segalanya serba cepat dan responsif, diam sering dianggap kelemahan. Media sosial memperkuat anggapan bahwa setiap persoalan harus segera dikomentari dan setiap perbedaan wajib diperdebatkan. Akibatnya, ruang untuk merenung dan berpikir matang semakin menyempit.

Dalam perspektif sosial dan keagamaan, diam memiliki makna yang lebih dalam. Diam dapat menjadi bentuk kebijaksanaan ketika kata-kata berpotensi melukai, memperkeruh suasana, atau menambah konflik. Tidak semua kebenaran harus disampaikan saat emosi belum stabil.

Namun, diam juga tidak berarti menyerah atau takut. Ia adalah pilihan sadar untuk bersikap dewasa. Di saat yang tepat, suara yang lahir dari keheningan justru lebih jernih, bermakna, dan mampu memberi dampak yang lebih besar.

Pada akhirnya, belajar memahami kapan harus berbicara dan kapan perlu diam adalah bagian dari kedewasaan berpikir. Sebab, tidak semua ketenangan menandakan kosong, dan tidak semua kebisingan membawa kebenaran.

Reporter: Nakhla Zayna Azkiya KPI 3/B

Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024