Maulid Bukan Sekadar Seremonial, Tapi Momentum Meneladani Rasulullah

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang baru saja berlalu seharusnya menjadi refleksi mendalam bagi umat Islam. Bukan hanya sebagai acara tahunan yang penuh kemeriahan, tetapi sebagai momentum untuk benar-benar meneladani sosok Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini disampaikan oleh Ustadz Yusuf Ismail, S.Ag. dalam khutbah Jum'at di Masjid Al-A'raaf pada 12 September 2025 lalu. Beliau menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi bukan sekadar seremonial, melainkan kesempatan untuk mendekatkan diri pada ajaran dan akhlak Rasulullah.

Dalam khutbahnya, Ustadz Yusuf menyoroti persoalan mendasar yang kerap terlupakan: banyak orang mengaku cinta kepada Rasulullah, namun cinta tersebut hanya sebatas ucapan. Padahal, cinta sejati kepada Nabi Muhammad SAW harus diwujudkan dalam bentuk nyata, bukan retorika kosong.

Beliau menggarisbawahi tiga tanda cinta yang seharusnya melekat pada setiap muslim. Pertama, kerinduan kepada Rasulullah. Meski kita tidak pernah hidup sezaman dengan beliau, keimanan yang teguh menjadikan kita termasuk umat yang dirindukan oleh Rasulullah sendiri. Ini adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab.

Kedua, memperbanyak shalawat kepada Rasulullah. Ini bukan ritual hafalan semata, tetapi ungkapan cinta dan harapan akan syafaat beliau di hari akhir. Shalawat menjadi penghubung spiritual antara umat dengan sosok yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Ketiga, dan ini yang paling krusial: mengikuti sunnah dan ajaran Rasulullah. Di sinilah ujian sesungguhnya. Banyak yang fasih berbicara tentang kecintaan pada Nabi, namun dalam perilaku sehari-hari justru menjauh dari akhlak dan ajaran beliau.

Rasulullah SAW disebut sebagai uswah hasanah teladan terbaik. Akhlak beliau tidak hanya terbatas pada hubungan antarmanusia, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan: kepada hewan, lingkungan, orang tua, bahkan kepada musuh. Ini adalah standar kesempurnaan yang seharusnya menjadi aspirasi setiap muslim.

Namun kenyataannya, masih banyak yang mengklaim diri sebagai pengikut Rasulullah, tetapi perilakunya justru bertentangan dengan ajaran beliau. Intoleransi, kebencian, arogansi, dan ketidakpedulian terhadap sesama masih marak terjadi di kalangan umat Islam sendiri.

Peringatan Maulid Nabi yang dirayakan dengan berbagai acara meriah memang penting sebagai bentuk ekspresi kegembiraan umat. Namun, jika hanya berhenti di situ, maka peringatan tersebut kehilangan makna esensialnya.

Yang dibutuhkan adalah transformasi dari seremonial menuju substansi. Dari merayakan kelahiran Nabi menuju benar-benar menghidupkan ajaran beliau dalam keseharian. Dari mengucapkan shalawat menjadi mewujudkan akhlak yang beliau contohkan.

Ini bukan persoalan mudah. Meneladani Rasulullah membutuhkan komitmen, konsistensi, dan keberanian untuk mengubah diri. Namun itulah hakikat cinta sejati bukan hanya mengatakan, tetapi membuktikan.

Khutbah Ustadz Yusuf Ismail mengingatkan kita bahwa cinta kepada Rasulullah SAW adalah perjalanan panjang, bukan destinasi sesaat. Setiap hari adalah kesempatan untuk meneladani beliau. Setiap tindakan adalah ujian atas keimanan kita.

Mari kita jadikan setiap Maulid Nabi bahkan setiap hari sebagai momentum untuk mendekatkan diri pada ajaran Rasulullah. Bukan dengan retorika yang bombastis, tetapi dengan amal nyata yang membumi. Karena sejatinya, cinta tanpa bukti hanyalah kata-kata hampa yang tertiup angin.
Reporter: Muhammad Azka Zakiyyul Muttaqin, KPI/3D

Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024