Al-Qur'an bukan sekadar kitab suci yang dibaca dalam ibadah, tetapi juga merupakan mukjizat terbesar yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ. Mukjizat ini berbeda dengan mukjizat para nabi sebelumnya, karena sifatnya abadi dan rasional, dapat disaksikan dan dikaji oleh setiap generasi hingga hari kiamat. Dalam pandangan Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja), keagungan dan kemukjizatan (i'jāz) Al-Qur'an menjadi bukti paling kuat bahwa ia adalah wahyu ilahi dan bukan ciptaan manusia.
1. Makna dan Hakikat I'jāz al-Qur'an
Secara bahasa, kata i'jāz berasal dari akar kata 'ajaza–yu'jizu, yang berarti melemahkan atau membuat tidak mampu. Dalam konteks Al-Qur'an, i'jāz al-Qur'an berarti ketidakmampuan manusia untuk menandingi atau meniru keindahan, keagungan, dan kebenaran isi Al-Qur'an, baik dari segi lafaz, struktur bahasa, maupun kandungan maknanya.
Dalam teologi Aswaja, hal ini menjadi tanda nyata bahwa Al-Qur'an bersumber dari Allah ﷻ. Tidak ada manusia, sekalipun yang paling fasih dan berilmu, yang mampu menghasilkan karya sebanding dengannya. Allah menegaskan tantangan ini dalam firman-Nya:
> "Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan terhadap Al-Qur'an yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal dengannya, dan panggillah saksi-saksimu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar."
(QS. Al-Baqarah: 23)
Ayat ini menunjukkan bahwa sejak masa Nabi hingga kini, tantangan itu tidak pernah bisa dijawab oleh siapa pun. Inilah bukti i'jāz yang paling jelas.
2. Perspektif Ulama Ahlusunnah wal Jamaah tentang I'jāz
Para ulama Aswaja menaruh perhatian besar terhadap kajian i'jāz al-Qur'an, baik dari sisi bahasa, sastra, maupun makna teologisnya.
Imam al-Baqillani (w. 403 H) dalam I'jāz al-Qur'an menjelaskan bahwa mukjizat Al-Qur'an tampak dari kesempurnaan struktur kalimat, keseimbangan bunyi, serta ketepatan pemilihan kata. Menurutnya, tidak ada teks bahasa Arab, baik sebelum maupun sesudah turunnya Al-Qur'an, yang mampu menandingi keserasian ini.
Sementara 'Abdul Qahir al-Jurjani (w. 471 H) dalam Dalā'il al-I'jāz menegaskan bahwa rahasia kemukjizatan Al-Qur'an terletak pada naẓm, yaitu susunan kata dan hubungan makna yang saling melengkapi secara sempurna. Dalam pandangan al-Jurjani, keindahan Al-Qur'an bukan semata pada kata-katanya, melainkan pada cara Allah menyusun makna dan struktur yang menembus akal dan hati manusia.
Selain itu, ulama seperti al-Suyuthi dan al-Zarkasyi menambahkan bahwa i'jāz juga mencakup kedalaman makna syariat, kebenaran berita-berita ghaib, serta kemampuannya memberikan petunjuk moral dan spiritual yang sesuai dengan fitrah manusia.
3. Bentuk-Bentuk I'jāz dalam Pandangan Aswaja
Dalam khazanah Ahlusunnah, i'jāz al-Qur'an memiliki berbagai dimensi yang saling melengkapi:
1. I'jāz Lughawi (Bahasa dan Sastra)
Keindahan susunan kalimat, keseimbangan bunyi, dan keserasian makna dalam Al-Qur'an tidak tertandingi oleh karya manusia mana pun. Ini menjadi mukjizat utama yang diakui para ulama klasik.
2. I'jāz Ma'nawi (Makna dan Kandungan)
Al-Qur'an memiliki kedalaman makna yang tak terbatas. Satu ayat dapat mengandung berbagai tafsir yang saling melengkapi tanpa bertentangan. Hal ini menunjukkan sifat ilahiah Al-Qur'an yang melampaui daya pikir manusia.
3. I'jāz Tasyri'i (Hukum dan Syariat)
Sistem hukum dalam Al-Qur'an memadukan keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan. Prinsip-prinsip syariatnya selalu relevan di setiap masa, menunjukkan kebijaksanaan ilahi dalam mengatur kehidupan manusia.
4. I'jāz 'Ilmi (Ilmiah dan Pengetahuan Modern)
Beberapa ulama kontemporer menyoroti kesesuaian ayat-ayat Al-Qur'an dengan fakta ilmiah modern, seperti proses penciptaan manusia (QS. Al-Mu'minun: 12–14) atau struktur alam semesta (QS. Adz-Dzariyat: 47). Namun, ulama Aswaja menekankan bahwa aspek ilmiah ini bukan mukjizat utama, melainkan bentuk pendukung yang memperkuat keyakinan terhadap kebenaran wahyu.
4. Implikasi Teologis bagi Aqidah Aswaja
Dalam kerangka akidah Ahlusunnah, pemahaman terhadap i'jāz al-Qur'an mempertegas keyakinan bahwa Al-Qur'an adalah kalam Allah yang qadīm, bukan makhluk. Pemahaman ini membedakan Aswaja dari kelompok rasionalis seperti Mu'tazilah yang menganggap Al-Qur'an sebagai makhluk yang diciptakan.
Dengan mengimani i'jāz al-Qur'an, seorang muslim meyakini bahwa mukjizat ini menjadi bukti kerasulan Muhammad ﷺ dan kebenaran wahyu yang ia bawa. Keajaiban Al-Qur'an yang tetap hidup sepanjang zaman menunjukkan bahwa Islam bukan agama temporer, tetapi sistem hidup yang selalu relevan.
5. Relevansi I'jāz di Era Modern
Dalam konteks modern, i'jāz al-Qur'an menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk menggali ilmu, bahasa, dan nilai moral dari Al-Qur'an. Para cendekiawan Aswaja melihat bahwa mukjizat Al-Qur'an tidak berhenti pada keindahan bahasanya, tetapi juga pada kemampuannya menjawab tantangan zaman baik dalam bidang sains, sosial, maupun spiritualitas.
Di tengah krisis moral dan kekacauan nilai, Al-Qur'an tetap menjadi pedoman yang menuntun manusia menuju keseimbangan. I'jāz-nya bukan hanya pada kata-kata, tetapi juga pada pengaruhnya dalam membentuk peradaban dan karakter manusia.
Akhir Kata
Dalam pandangan Ahlusunnah wal Jamaah, i'jāz al-Qur'an adalah bukti tertinggi dari keilahian wahyu dan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ. Mukjizat ini tidak hanya terletak pada keindahan bahasa, tetapi juga pada kesempurnaan makna, hukum, dan nilai-nilai universal yang dikandungnya.
I'jāz Al-Qur'an menunjukkan bahwa setiap ayat mengandung hikmah yang melampaui batas akal manusia. Dengan memahami dan menghayatinya, umat Islam dapat memperkokoh akidah, memperdalam keilmuan, dan menegakkan kebenaran wahyu di tengah tantangan zaman modern.
Referensi
1. Al-Baqillani, Abu Bakr. I'jāz al-Qur'an. Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1988.
2. Al-Jurjani, Abdul Qahir. Dalā'il al-I'jāz. Kairo: Maktabah al-Khanji, 1992.
3. Al-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Itqān fi 'Ulūm al-Qur'an. Beirut: Dar al-Fikr, 2003.
4. Al-Zarkasyi, Badruddin. Al-Burhān fi 'Ulūm al-Qur'an. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1990.
5. Quraish Shihab. Mukjizat Al-Qur'an: Ditinjau dari Aspek Bahasa, Hukum, dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Lentera Hati, 2011.
6. Musthafa as-Siba'i. As-Sunnah wa Makanatuha fi at-Tasyri' al-Islami. Beirut: Al-Maktab al-Islami, 1982.
PENULIS: DEFFARUL SYAHROYZA, Mahasiswa Ilmu Al-Qur'an Dan Tafsir Dari UIN Sultan Syarif Kasim Riau.
Tidak ada komentar
Posting Komentar