x
BREAKING NEWS

Jumat, 02 November 2018

Guru Al-Istianah Ajarkan Kitab Kuning pada Santri

Dakwahpos.com, Bandung- Para pengajar terapkan belajar mengkaji kitab kuning kepada santri Al-Istianah. Mereka mengajarkan cara membaca kitab kuning yang gundul dengan pelajaran nahwu dan shorof. Pengkajian kitab kuning ini dilakukan hanya dua kali seminggu.

Kitab kuning yang diajarkan kepada santri Al-Istianah hanya satu kitab kuning yaitu kitab Safinah An-najah. Kitab ini berisi tentang kajian fiqih sehari-hari. Santri yang mendapat kajian tentang kitab kuning ini hanya santri kelas akhir atau santri yang sedang duduk pada kelas 6 SD. 

"Kita memberikan kajian kitab kuning supaya mereka anak-anak kelas akhir itu mengenal apa itu kitab kuning dan cara mempelajarinya, apalagi di jaman seperti ini para calon generasi muslim selain bisa membaca Al-Quran mereka juga harus bisa membaca kitab kuning." Ungkap  Elin Herlianiwati istri ketua DKM Masjid Al-Istianah, selasa (02/10/2018).

Tiga ajaran pokok yang diberikan para guru Al-Istianah kepada santrinya yaitu membaca dan menulis Al-Quran, membaca dan menalar nazdom, berpidato atau sering disebut muhadloroh, mengkaji kitab kuning seperti membaca, menerjemah dan menjelaskan isi kitab dan sesekali dilakukan diskusi atau cerita kisah Nabi dan kisah inspiratif lainnya. Semua pelajaran mengaji dijadwalkan secara teratur. Seperti pengajian kitab kuning kepada santri kelas 6 SD yang dilakukan pada hari selasa dan jumat.

Seperti kita ketahui kitab Safinah An-najah adalah kitab yang isinya mengandung kajian fiqih sehari-hari. Dengan mempelajari kitab ini juga memudahkan pemahaman anak-anak dalam hukum melakukan sesuatu seperti sholat, puasa, zakat, berwudhu dan lain sebagainya. Kajian kitab kuning belum diberikan kepada anak-anak dibawah kelas 6 SD dikarenakan mereka belum paham dan hanya dibimbing untuk menghafalkan doa-doanya saja terlebih dahulu, karena semua ada tingkatannya antara usia dengan pemahaman mengaji.

"Tak cukup dengan bisa membaca, menerjemah dan menjelaskan isi kandungan kitab gundul para santri juga dituntut untuk dapat berpidato didepan umum. Berpidato atau muhadloroh juga dilatih di pengajian ini. Membimbing anak-anak untuk bisa berbicara didepan umum bisa menambah mental anak dan membiasakan anak untuk percaya diri." Ujar Elin Herlianiwati, akhiri pembicaraan.

 Reporter: Dhea Rijki KPI/3A


Bagikan

Posting Komentar

 
Since © 2015 DAKWAHPOS - Media Dakwah Islam Aktual.
Webdesign by Incsomnia Project