Dakwahpos.com, Bandung — Suasana pengajian ibu-ibu di Masjid Al-Ittihad, Kopo, Bandung, pada Sabtu (18/10/2025) berlangsung penuh perhatian saat Ustadz Asep Saprudin melanjutkan kajian tafsir bertema "Manusia dalam Bahasa Al-Qur'an (Al-Insan) Bagian ke-2". Kajian ini menyoroti sisi kelemahan manusia serta kecenderungannya terpengaruh oleh godaan syaitan.
Pada bagian pendahuluan, Ustadz Asep menjelaskan secara tidak langsung bahwa istilah al-Insan sering digunakan Al-Qur'an untuk menggambarkan hakikat manusia yang lemah, mudah gelisah, dan cenderung tidak konsisten.
Beliau kemudian berkata dengan tegas,
"Ibu-ibu, Allah sudah menjelaskan bahwa manusia itu diciptakan lemah. Tapi kelemahan ini bukan untuk membuat kita putus asa melainkan agar kita sadar diri, kembali pada Allah, dan tidak menyombongkan diri."
Para jamaah tampak mengangguk pelan, mencatat poin penting tersebut.
Al-Insan sebagai Makhluk yang Lemah
Ustadz Asep melanjutkan penjelasan secara tidak langsung mengenai ayat-ayat seperti QS. An-Nisa ([4]: 28) dan QS. Qaf ([50]: 16), bahwa manusia memiliki batas fisik, emosional, dan spiritual.
Beliau lalu menambahkan,
"Allah itu dekat sekali, ibu-ibu. Bahkan lebih dekat dari urat leher. Jadi kelemahan kita itu selalu dalam pengawasan-Nya. Bukan untuk dihina, tapi untuk dijaga."
Para ibu tampak tersentuh, beberapa mengusap mata.
Manusia yang Mudah Putus Asa dan Gelisah
Berpindah ke bagian kedua, beliau menjelaskan bahwa manusia sering kali tidak jemu meminta kebaikan, tetapi ketika ditimpa kesulitan mudah putus asa, sebagaimana disebutkan dalam QS. Fushilat ([41]: 49) dan QS. Al-Balad ([90]: 4).
Sambil tersenyum, beliau bertanya,
"Coba ibu-ibu, kalau kita dapat rezeki itu semangat. Tapi kalau diuji sedikit saja, kenapa cepat mengeluh? Padahal Allah bilang kita memang diciptakan dalam susah payah."
Beberapa ibu tertawa kecil merasa relate dengan situasi yang disebutkan.
Pengaruh Syaitan terhadap Manusia
Secara tidak langsung, Ustadz Asep memaparkan bahwa Al-Qur'an juga menggambarkan manusia sebagai makhluk yang mudah terpengaruh syaitan yang menjadi musuh jelas bagi manusia.
Beliau mengutip dengan suara lantang,
"Dalam kisah Nabi Yusuf, ayahnya mengingatkan bahwa syaitan itu musuh yang nyata bagi manusia. Artinya, ibu-ibu, syaitan tidak pernah libur menjerumuskan kita."
Para jamaah tampak serius, suasana menjadi lebih hening.
Manusia yang Lupa Setelah Diberi Nikmat
Beliau menjelaskan kembali secara tidak langsung bahwa banyak ayat menggambarkan manusia yang berdoa dengan sungguh-sungguh ketika ditimpa kesusahan, tetapi melupakan Allah setelah diberi nikmat, seperti pada QS. Yunus ([10]: 12) dan QS. Hud ([11]: 9).
Ustadz Asep kemudian menegaskan,
"Ini penyakit manusia, ibu-ibu. Waktu susah dekat sekali dengan Allah. Waktu senang? Lupa. Padahal Allah yang memberikan keduanya."
Para ibu-ibu mengangguk, sebagian tersenyum getir karena merasa tersindir halus.
Tabiat Manusia: Kikir, Banyak Membantah, dan Melampaui Batas
Ustadz Asep menjelaskan secara tidak langsung bahwa Al-Qur'an juga menyebut tabiat manusia yang kikir, banyak membantah, dan melampaui batas, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Isra ([17]: 100) dan QS. Al-Kahfi ([18]: 54).
Beliau berkata,
"Kalau Allah kasih perbendaharaan rahmat, manusia pasti takut membelanjakannya. Itulah sifat manusia. Namun sifat ini bisa diperbaiki dengan iman dan sedekah."
Para jamaah terlihat berbisik-bisik, membahas contoh keseharian yang mereka alami.
Penutup: Menyadari Diri Agar Tidak Tersesat
Menjelang akhir kajian, Ustadz Asep menjelaskan bahwa manusia yang lupa diri setelah menerima nikmat akan mudah tersesat, sebagaimana diperingatkan dalam QS. Az-Zumar ([39]: 8).
Beliau menutup dengan nasihat,
"Ibu-ibu, kita ini ciptaan yang lemah dan mudah salah. Tapi selama kita mau kembali pada Allah, mengakui kelemahan, dan memperbaiki diri, maka Allah selalu membuka jalan. Jangan pernah lelah belajar menjadi hamba."
Pengajian berakhir dengan doa bersama. Para ibu-ibu tampak berdiskusi hangat sambil melipat catatan, merasa mendapatkan pemahaman baru tentang hakikat manusia menurut Al-Qur'an.
Reporter : Hadian Filah Akbar KPI/3B
Tidak ada komentar
Posting Komentar