Quarter Life Crisis: Antara Krisis dan Kesempatan Memperkuat Iman

Oleh: Fira Nur Syakila Rahman/ KPI 3C

Istilah quarter life crisis semakin akrab di telinga generasi muda. Usia dua puluhan sering kali
menjadi fase penuh kegelisahan: merasa tertinggal, bingung menentukan arah hidup, hingga
mempertanyakan makna keberadaan diri. Fenomena inilah yang dibahas Ustadz Muhammad Nuzul
Dzikri dalam kajian umum di Masjid Salman ITB, Ahad (21/09/2025).

Dalam kajian tersebut, Ustadz Nuzul mengajak anak muda untuk melihat krisis dari sudut pandang
yang berbeda. Menurutnya, hidup yang penuh masalah bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari fitrah kehidupan. Dunia, kata beliau, memang diciptakan sebagai tempat ujian. Mengharapkan hidup tanpa masalah sama saja dengan berharap keluar dari kehidupan itu sendiri.

Pandangan ini menjadi tamparan halus bagi generasi muda yang sering kali merasa "salah" ketika
hidup tidak berjalan sesuai rencana. Ustadz Nuzul menekankan bahwa yang membuat seseorang
rapuh bukanlah banyaknya masalah, melainkan lemahnya pondasi iman dan minimnya persiapan
menghadapi ujian hidup. Masalah tidak bisa dihindari, tetapi sikap dalam menghadapinya bisa
dipersiapkan.

Pesan penting lain yang disampaikan adalah tentang cara memandang dunia. Ketika dunia dijadikan
tujuan utama, manusia menjadi mudah kecewa dan lelah. Namun, jika dunia diposisikan sebagai
sarana, maka apa pun kondisinya akan terasa lebih ringan. Pendidikan, karier, dan pencapaian
hanyalah alat, bukan tujuan akhir. Tujuan sejatinya adalah mengenal Allah dan beribadah kepada-
Nya.

Ustadz Nuzul juga mengingatkan agar generasi muda tidak menjadi titik lemah umat. Setiap Muslim
dituntut untuk memiliki kualitas diri. Mengutip kisah Khalid bin Walid, beliau menegaskan bahwa
tidak semua orang harus menempuh jalan yang sama. Setiap individu memiliki peran sesuai
keahliannya, dan yang terpenting adalah menjadi yang terbaik di bidang tersebut.

Dalam menghadapi kegagalan, kehilangan, dan kebingungan arah hidup, Ustadz Nuzul menekankan
pentingnya belajar dari mereka yang lebih berpengalaman. Anak muda memiliki energi dan semangat, sementara orang yang lebih tua memiliki kebijaksanaan. Kolaborasi keduanya menjadi kunci agar generasi muda tidak berjalan sendirian dalam menghadapi fase krisis.

Pada akhirnya, kajian ini menyampaikan pesan sederhana namun mendalam: kebahagiaan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi pencapaian dunia, melainkan dari sejauh mana hati terikat dengan iman. Quarter life crisis bukan akhir segalanya, justru bisa menjadi titik balik untuk memperbaiki arah
hidup. Sebab, yang terpenting bukan kapan kita mati, melainkan bagaimana kita menjalani hidup dan
menutupnya dengan ridha Allah

Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024