Pacaran dan Ujian Menjaga Iman

Pacaran telah menjadi praktik yang dianggap lumrah di khalayak ramai. Status hubungan sering kali dijadikan tolok ukur kematangan emosional, seolah tanpa pacaran seseorang belum "utuh" sebagai manusia dewasa. Normalisasi ini jarang dipertanyakan, padahal dampaknya nyata dan berlapis.

Islam sejak awal telah menempatkan relasi laki-laki dan perempuan dalam koridor kehati-hatian. Al-Qur'an menegaskan, "Dan janganlah kamu mendekati zina" (QS. Al-Isra: 32), sebuah larangan yang bukan hanya soal perbuatan, tetapi juga segala jalan yang mengantarkan ke sana.

Dalam praktiknya, pacaran sering membuka ruang bagi keterikatan emosional yang berlebihan. Fokus hidup bergeser, batas diri kabur, dan hati perlahan bergantung pada manusia, bukan pada Allah. Di titik ini, pacaran tidak lagi menjadi relasi, melainkan distraksi spiritual.

Rasulullah saw. mengingatkan bahwa hati manusia berada di antara dua jari Allah. Ketika hati terlalu sibuk dijaga oleh manusia lain, relasi dengan Allah sering kali justru terabaikan. Ini bukan soal siapa yang dicintai, tetapi ke mana cinta diarahkan.

Tidak pacaran bukan berarti anti-cinta. Justru dalam Islam, cinta diarahkan agar tumbuh dengan tanggung jawab dan tujuan yang jelas. Tanpa itu, cinta hanya menjadi alasan untuk melanggar batas dengan kemasan perasaan.

Wirda Salamah Ulya, KPI/3B

Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024