Dakwahpos.com, Bandung- Kajian Tasawuf di Masjid Al-Hidayah, Cikuda, Sabtu (13/09/2025), bukan sekadar majelis ilmu biasa. Dari luar mungkin terlihat seperti pengajian rutin,
tapi jika disadari, pesan ustaz dalam kajian itu sebenarnya mengingatkan kita tentang hal penting dalam beragama, yaitu keikhlasan.
Waktu pagi disebut sebagai momen penuh keberkahan, tetapi sayangnya sering diabaikan oleh banyak orang.
Banyak yang setelah subuh lebih memilih untuk tidur lagi Padahal, sebagaimana disampaikan ustaz, pagi seharusnya diisi dengan zikir, doa, dan membaca Al-Qur'an.
Inilah saat yang pas untuk menenangkan hati sebelum beraktivitas. Ketika ustaz menjelaskan tentang salat Isyraq dan Dhuha, saya merasa pesan itu bukan hanya soal pahala besar yang dijanjikan,
tapi tentang kebiasaan kecil yang membentuk kepekaan rohani.
Menurut saya, dua rakaat Isyraq memang terlihat sederhana, tapi justru di sanalah kita belajar menghargai waktu dan setiap kesempatan yang Allah beri.
Bagian yang paling menarik adalah saat ustaz menyinggung tentang guru ngaji yang menerima gaji. Sekarang banyak orang salah paham antara bekerja untuk hidup dan beribadah.
Ustaz mengingatkan, menerima upah itu boleh, asal niatnya tetap karena Allah. Bagi saya, ini jadi pengingat bahwa keikhlasan bukan soal menolak imbalan, tapi tentang menjaga hati agar tetap tulus tanpa pamrih.
Pesan terakhir tentang keikhlasan benar-benar membuat saya sadar. "Orang ikhlas tetap beribadah, baik dipuji maupun dicaci." Kalimat ini adalah inti dari ajaran Tasawuf yaitu membersihkan niat.
Kalimat ini seolah mengingatkan kita kalau inti dari Tasawuf itu sederhana soal niat yang bersih, berbuat karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang lain.
Kajian di Masjid Al-Hidayah itu berlangsung singkat, tapi maknanya sangat luas. Ia mengingatkan kita bahwa ibadah bukan tentang seberapa banyak amal dilakukan, melainkan seberapa tulus hati kita saat melakukannya.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, pesan tentang keikhlasan adalah cermin yang perlu sering kita tatap kembali.
Reporter : Imelda Chandra Kurnia KPI/3C
tapi jika disadari, pesan ustaz dalam kajian itu sebenarnya mengingatkan kita tentang hal penting dalam beragama, yaitu keikhlasan.
Waktu pagi disebut sebagai momen penuh keberkahan, tetapi sayangnya sering diabaikan oleh banyak orang.
Banyak yang setelah subuh lebih memilih untuk tidur lagi Padahal, sebagaimana disampaikan ustaz, pagi seharusnya diisi dengan zikir, doa, dan membaca Al-Qur'an.
Inilah saat yang pas untuk menenangkan hati sebelum beraktivitas. Ketika ustaz menjelaskan tentang salat Isyraq dan Dhuha, saya merasa pesan itu bukan hanya soal pahala besar yang dijanjikan,
tapi tentang kebiasaan kecil yang membentuk kepekaan rohani.
Menurut saya, dua rakaat Isyraq memang terlihat sederhana, tapi justru di sanalah kita belajar menghargai waktu dan setiap kesempatan yang Allah beri.
Bagian yang paling menarik adalah saat ustaz menyinggung tentang guru ngaji yang menerima gaji. Sekarang banyak orang salah paham antara bekerja untuk hidup dan beribadah.
Ustaz mengingatkan, menerima upah itu boleh, asal niatnya tetap karena Allah. Bagi saya, ini jadi pengingat bahwa keikhlasan bukan soal menolak imbalan, tapi tentang menjaga hati agar tetap tulus tanpa pamrih.
Pesan terakhir tentang keikhlasan benar-benar membuat saya sadar. "Orang ikhlas tetap beribadah, baik dipuji maupun dicaci." Kalimat ini adalah inti dari ajaran Tasawuf yaitu membersihkan niat.
Kalimat ini seolah mengingatkan kita kalau inti dari Tasawuf itu sederhana soal niat yang bersih, berbuat karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang lain.
Kajian di Masjid Al-Hidayah itu berlangsung singkat, tapi maknanya sangat luas. Ia mengingatkan kita bahwa ibadah bukan tentang seberapa banyak amal dilakukan, melainkan seberapa tulus hati kita saat melakukannya.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, pesan tentang keikhlasan adalah cermin yang perlu sering kita tatap kembali.
Reporter : Imelda Chandra Kurnia KPI/3C
Tidak ada komentar
Posting Komentar