Menghidupkan Kembali Kesadaran Tauhid Lewat Mimbar Jumat

Dalam hiruk pikuk kehidupan modern, mimbar Jumat seharusnya menjadi ruang perenungan yang paling efektif bagi umat Islam. Setiap pekan, jutaan umat berkumpul untuk mendengar nasihat, tetapi tidak semua khutbah mampu mengetuk jiwa. Namun, khutbah yang disampaikan di Masjid Al-Ishlah Cibiru pada Jumat, 14 September 2025, menurut saya menghadirkan pesan yang sangat relevan dan layak direnungkan, terutama ketika berbicara tentang tauhid dan tujuan penciptaan manusia

Masjid Al-Ishlah, seperti disampaikan oleh pengurusnya, Pak Aman, memang rutin menggelar Salat Jumat sebagai bentuk pemenuhan kewajiban. Tetapi bagi saya, rutinitas itu tidak akan berarti apa pun jika tidak diiringi dengan pemahaman yang benar tentang hubungan manusia dengan Tuhannya.

Dalam khutbahnya, sang khatib, Dadang, menekankan bahwa tauhid adalah ibadah paling agung. Pesan ini sebenarnya sangat sederhana, tetapi justru sering terabaikan. Kita hidup dalam zaman yang serba cepat, di mana manusia lebih sibuk mengejar target dunia daripada memperbaiki kualitas iman. Ketika Dadang mengingatkan bahwa bahkan seekor nyamuk pun tidak diciptakan sia-sia, saya merasa pesan itu menjadi tamparan halus bagi kita semua. Jika makhluk sekecil itu saja memiliki tujuan, bagaimana mungkin manusia—makhluk paling sempurna—hidup tanpa arah?

Lebih jauh, Dadang menyinggung tentang ilmu yang tidak diamalkan. Menurut saya, ini adalah kritik sosial yang sangat kuat. Banyak di antara kita yang merasa cukup hanya dengan mengetahui, membaca, atau menghafal, tetapi lupa bahwa ilmu menjadi bermakna hanya ketika diwujudkan dalam tindakan. Dalam era digital, informasi tersedia di ujung jari. Kita mudah membagikan nasihat, kutipan agama, atau ceramah motivasi, tetapi apakah kita sudah mengamalkan apa yang kita sebarkan?

Pada penutup khutbahnya, Dadang kembali mengajak jamaah untuk menjalani hidup dengan niat ibadah dan keikhlasan. Inilah poin yang menurut saya paling penting. Di tengah dunia yang sering mengukur segalanya dengan pencapaian materi, ikhlas menjadi nilai yang semakin mahal. Padahal, tanpa ikhlas, ibadah sebesar apa pun menjadi kosong.

Refleksi dari khutbah ini mengingatkan kita bahwa Islam bukan hanya ritual, tetapi cara hidup yang menyeluruh. Jika setiap pekan masjid bisa menghadirkan khutbah yang menggugah kesadaran seperti ini, saya percaya kualitas keagamaan masyarakat akan jauh lebih baik. Bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga lebih sadar tujuan, lebih siap menghadapi hidup, dan lebih dekat dengan Tuhan.

Pada akhirnya, mimbar Jumat bukan sekadar tempat menyampaikan ceramah, tetapi ruang pembentukan karakter umat. Dan menurut saya, khutbah di Masjid Al-Ishlah Cibiru kali ini telah menjalankan perannya dengan sangat baik—mengajak kita kembali pada inti agama: tauhid, amal, dan keikhlasan

Reporter: Fahri Aufa Rafiki KPI/3B



Tidak ada komentar

© Dakwahpos 2024