Hadian Filah akbar – Dakwahpos.com
Senin, 8 Desember 2025
Keikhlasan adalah fondasi dari setiap ibadah dalam Islam. Tanpa niat yang lurus dan hati yang jernih, seluruh amal yang tampak besar sekalipun dapat kehilangan nilainya di sisi Allah SWT. Inilah pesan utama yang disampaikan dalam sebuah khutbah Jumat di Masjid Al-Ittihad, Gang Sukaleueur, Jalan Kopo, Babakan Asih, Kota Bandung. Khutbah tersebut mengingatkan umat Islam untuk berhati-hati agar ibadah tidak berubah menjadi jalan mengejar kepentingan duniawi.
Keikhlasan sebagai Penanda Keimanan
Kehadiran seorang Muslim di masjid, menurut Ustaz Adi dalam khutbah tersebut, merupakan tanda bahwa masih ada cahaya iman dalam dirinya. Banyak orang berada dalam keadaan sehat namun justru lalai terhadap panggilan Allah SWT. Maka, mereka yang memenuhi panggilan salat Jumat patut bersyukur karena masih memiliki dorongan iman untuk mendekat kepada-Nya.
Ustaz Adi menjelaskan bahwa keimanan itu perlu dijaga dan ditingkatkan agar seseorang dapat merasakan kekhusyukan dalam setiap ibadah. Kekhusyukan tidak hanya muncul dari gerakan atau rutinitas, tetapi dari hati yang benar-benar mengingat Allah SWT tanpa pamrih duniawi.
Peringatan dari Al-Qur'an Tentang Ibadah yang Berorientasi Dunia
Dalam khutbahnya, Ustaz Adi menyampaikan Surat Hud ayat 15–16—ayat yang memberikan peringatan tegas terhadap orang-orang yang beribadah hanya demi kehidupan dunia dan perhiasannya. Allah SWT menggambarkan bahwa mereka mungkin mendapatkan apa yang mereka cari di dunia, namun balasan itu hanya terbatas pada kehidupan fana. Di akhirat, mereka tidak memperoleh apa-apa selain azab, sementara amal yang tampak besar di mata manusia menjadi tak bernilai di hadapan Allah.
Ayat ini menjadi peringatan agar umat Islam tidak menjadikan ibadah sebagai alat mencari popularitas, pujian, atau keuntungan materi. Ibadah yang semestinya menghubungkan hamba dengan Tuhannya berubah menjadi sarana memenuhi ambisi duniawi yang melalaikan hakikat ibadah itu sendiri.
Bahaya Ibadah Tanpa Keikhlasan
Menurut Ustaz Adi, banyak orang tetap menjalankan salat, puasa, zakat, hingga sedekah, tetapi tidak semuanya berlandaskan niat ikhlas. Ada yang ingin dipandang lebih taat, ada pula yang mengharapkan keuntungan tertentu melalui amalnya. Padahal, ketika orientasi ibadah bergeser dari mencari ridha Allah menjadi mencari perhatian manusia, ibadah itu bukan hanya kehilangan pahala, melainkan dapat menjadi sebab tertolaknya amal di akhirat.
Beliau menegaskan bahwa seseorang yang beribadah hanya demi dunia pada hakikatnya sedang menipu dirinya sendiri. Ia mungkin menikmati ganjarannya di dunia, tetapi ia mengorbankan balasan abadi yang jauh lebih berharga. Tanpa keikhlasan, salat tahajud, salat lima waktu, zakat, dan sedekah justru berpotensi tidak diterima di sisi Allah SWT.
Meluruskan Niat: Sebuah Upaya Setiap Hari
Meluruskan niat adalah proses yang harus dilakukan terus-menerus. Hati manusia mudah berubah, mudah terpengaruh, dan mudah tergoda untuk mencari pengakuan. Karena itulah, para ulama menekankan pentingnya muhasabah—mengoreksi diri sebelum mengerjakan ibadah.
Setiap Muslim perlu bertanya pada dirinya: Untuk siapa aku melakukan ini? Apakah semata-mata karena Allah, atau ada kepentingan duniawi yang diselipkan di baliknya? Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi titik awal dalam memperbaiki niat.
Penutup
Ibadah yang benar adalah ibadah yang dilakukan dengan niat yang lurus, hanya mengharap ridha Allah SWT. Dengan menata hati dan menjaga keikhlasan, seseorang bukan hanya mendapatkan ketenangan jiwa, tetapi juga memastikan amalnya memiliki nilai di sisi Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
Meluruskan niat bukan sekadar anjuran, tetapi kebutuhan spiritual agar ibadah tetap murni dan bermakna. Semoga Allah SWT membimbing hati kita agar selalu ikhlas dalam menjalankan setiap ibadah yang kita lakukan.
Tidak ada komentar
Posting Komentar